TEKNO

Singapura Bangun Bio Data Center: Komputer Masa Depan Berbasis Sel Otak

4
×

Singapura Bangun Bio Data Center: Komputer Masa Depan Berbasis Sel Otak

Sebarkan artikel ini
Masa Depan Teknologi: Pusat Data AI Sel Otak Pertama Dunia Dibangun di Singapura
Masa Depan Teknologi: Pusat Data AI Sel Otak Pertama Dunia Dibangun di Singapura

Media90 – Di tengah perlombaan global menciptakan sistem kecerdasan buatan (AI) yang lebih kuat namun hemat energi, Singapura mengambil langkah radikal dengan menatap biologi sebagai solusi masa depan. DayOne, pengembang infrastruktur data center global yang berpusat di Singapura, mengumumkan kemitraan strategis dengan Cortical Labs, startup komputasi biologis asal Melbourne, untuk membangun Bio Data Center pertama di Asia Tenggara.

Proyek ambisius ini menggantikan peran hardware silikon tradisional dengan komponen “wetware”, yaitu sel saraf atau neuron hidup yang ditumbuhkan dari sel punca (stem cell). Inovasi ini diharapkan mampu mengatasi krisis energi yang melanda industri data center akibat ledakan kebutuhan komputasi AI yang semakin masif.

Wetware: Ketika Sel Hidup Menjadi Prosesor

Data center konvensional sangat bergantung pada chip silikon yang membutuhkan listrik besar dan sistem pendingin masif. Sebaliknya, Bio Data Center memanfaatkan efisiensi alami organoid otak — jejaring saraf biologis yang dapat memproses informasi dengan sebagian kecil energi dibanding komputer digital biasa.

Baca Juga:  Kepo Pengen Pakai Alat AI GPT-4 Turbo Gratis? Cobain Aja Copilot!

Teknologi ini mengintegrasikan neuron hidup ke sirkuit elektronik, menciptakan jembatan antara biologi dan teknologi digital. Dalam kolaborasi ini, DayOne menyediakan modal dan masukan strategis, sementara Cortical Labs menghadirkan platform Cortical Cloud.

Peran krusial juga diambil oleh Yong Loo Lin School of Medicine, Universitas Nasional Singapura (NUS Medicine), untuk memvalidasi performa sistem sebelum dipindahkan ke fasilitas komersial.

“Sistem wetware membantu peneliti melakukan pendekatan baru atas model pembelajaran, adaptasi, dan pemodelan biologi,” ujar Rickie Patani, Profesor Neuroscience di NUS Medicine.
Ia menambahkan, kemampuan membiakkan subtipe neuron manusia tertentu menyediakan fondasi kuat untuk menerjemahkan prinsip biologi ke platform biokomputer yang lebih cerdas dan adaptif.

Ambisi Hijau di Tengah Tekanan Energi Regional

Langkah Singapura ini sejalan dengan kebijakan keberlanjutan yang semakin ketat. Infocomm Media Development Authority (IMDA) melalui Green Data Center Roadmap mewajibkan efisiensi energi tinggi bagi setiap kapasitas data center baru. Singapura ingin tetap menjadi pusat digital dunia tanpa mengorbankan target emisi karbon.

Jamie Khoo, CEO DayOne, menegaskan kemitraan ini bertujuan mengeksplorasi paradigma komputasi baru yang ramah lingkungan. Proyeksi menunjukkan permintaan daya data center di Asia Tenggara akan melonjak dari 2,6GW pada 2025 menjadi 10,7GW pada 2035, menjadikan solusi efisien seperti wetware sangat relevan.

Fase Uji Coba, Keamanan, dan Ekspansi Komersial

Implementasi awal dilakukan di laboratorium NUS Medicine dengan satu rak server berisi 20 unit Cortical Cloud. Setelah fase validasi laboratorium, sistem akan diuji di data center komersial DayOne dalam kondisi beban kerja nyata. Pengujian mencakup integrasi sistem biologi dengan infrastruktur pendingin standar dan pengelolaan lingkungan agar sel saraf tetap hidup dan optimal.

Aspek biosafety dan kepatuhan menjadi fokus utama. DayOne dan Cortical Labs tengah menyiapkan kerangka tata kelola sesuai regulasi Singapura. Jika prototipe memenuhi standar, DayOne berencana ekspansi bertahap hingga 1.000 unit komputer berbasis wetware, dengan sel saraf dikembangbiakkan khusus di Life Sciences Institute Singapura.

Dampak Luas bagi Sains, Medis, dan AI

Selain menghemat energi, Bio Data Center diprediksi merevolusi bidang kesehatan. Kemampuannya menjalankan eksperimen pada jaringan biologis yang meniru otak manusia, bersamaan dengan komputasi konvensional, dapat mempercepat penemuan obat dan riset penyakit neurologis seperti Alzheimer.

Hon Weng Chong, Founder & CEO Cortical Labs, menambahkan:

“AI kini beralih dari sekadar kebaruan menjadi kebutuhan di setiap sektor. Kemitraan ini menawarkan jalur berkelanjutan untuk adopsi AI tanpa ketergantungan besar pada listrik dan air.”

Dengan inovasi ini, Singapura tidak hanya membangun infrastruktur data, tetapi juga ekosistem di mana biologi dan teknologi bersinergi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *