Media90 – Platform streaming musik terbesar di dunia kini memasuki fase transisi yang penuh risiko. Setelah hampir dua dekade memimpin, co-founder Daniel Ek menyerahkan posisi CEO dan naik menjadi Executive Chairman, sementara kendali operasional kini dipegang Co-CEO Alex Norström dan Gustav Söderström. Meski Spotify merayakan laba tahunan pertamanya pada 2024, tantangan utama mulai muncul: pengguna yang jenuh dan protes dari musisi terkait royalti.
Fenomena Algorithm Fatigue
Ancaman terbesar bagi 281 juta pelanggan Spotify saat ini adalah fenomena psikologi yang disebut Algorithm Fatigue. Menurut penelitian dalam jurnal Technology in Society, kondisi ini muncul ketika interaksi berulang dengan AI terasa kaku dan mudah ditebak. Pengguna mulai merasa rekomendasi Spotify “terlalu aman” dan kurang menantang, sehingga eksplorasi musik menjadi terbatas.
Penelitian Hui Yan menunjukkan tiga penyebab utama: kurangnya transparansi algoritma, rasa “terjebak” dalam informasi yang berulang, dan konten yang monoton. Banyak pengguna merasakan “Discover Weekly” kini lebih seperti mesin yang gagal memahami mood mereka. Kondisi ini mendorong Gen Z untuk beralih ke TikTok dan YouTube, mencari pengalaman musik yang lebih otentik.
Dari Playlist Biasa ke Percakapan AI
Untuk mengatasi masalah ini, Norström dan Söderström mengadopsi AI Generatif melalui fitur Prompted Playlist. Alih-alih memilih playlist berdasarkan kategori umum, pengguna dapat berbicara langsung kepada AI, misalnya: “Buatkan playlist lagu 90an yang cepat dan tidak terlalu mainstream.”
Tujuannya adalah memberi kembali kendali pada pengguna, menjadikan Spotify sebagai “teman digital” yang memahami konteks lebih baik. Dengan integrasi teknologi mirip ChatGPT, Spotify ingin kembali menjadi pusat budaya, bukan sekadar platform musik.
Kontroversi Royalti Artis
Sementara pengguna bosan, artis merasa dirugikan. Data dari CNBC dan Duetti menunjukkan tarif royalti Spotify lebih rendah dibanding kompetitor:
- Spotify: $3 per 1000 streaming (~Rp50 ribu)
- YouTube: $4,8 (~Rp81 ribu)
- Apple Music: $6,2 (~Rp100 ribu)
- Amazon Music: $8,8 (~Rp149 ribu)
Spotify mencoba menyiasati dengan menambahkan audiobooks dalam paketnya, yang memungkinkan pembayaran lebih murah untuk beberapa penulis lagu. Langkah ini memicu kontroversi besar, termasuk boikot oleh musisi di Grammy Awards 2025.
Sistem “Streamshare”
Spotify menjelaskan kebijakan royalti melalui model Streamshare. Semua pendapatan langganan dan iklan di wilayah tertentu digabung, lalu artis menerima bagian berdasarkan proporsi streaming mereka. Meski tarif per 1000 stream lebih rendah, Spotify menekankan bahwa jumlah pengguna yang besar membuat total pembayaran mereka mencapai $10 miliar pada pemegang hak di 2024. Platform ini mengklaim berperan sebagai “R&D industri musik,” membantu mengembangkan ekosistem kreatif global.
Masa Depan Spotify: Video dan AI
Untuk tetap relevan, Spotify tidak hanya fokus pada musik. Platform ini kini juga menyediakan video, podcast, dan mendukung karya musik berbasis AI, selama tidak meniru artis asli. Spotify juga menjalin kerja sama dengan kreator YouTube untuk menarik audiens muda.
Sementara Daniel Ek mundur dari peran CEO, Norström dan Söderström menghadapi tugas besar: menjaga Spotify tetap menjadi jantung budaya global, menghadapi tantangan algorithm fatigue, dan memastikan artis mendapatkan kompensasi yang adil. Transformasi ini menentukan apakah Spotify akan tetap dominan atau perlahan ditinggalkan pengguna.














