Media90 – Di ajang Mobile World Congress 2026 (MWC 2026), Tecno menghadirkan sebuah konsep aksesori modular bernama Modular Magnetic Interconnection Technology. Gagasan ini menawarkan pendekatan berbeda terhadap desain smartphone masa depan.
Konsepnya cukup sederhana: smartphone tidak lagi dipaksa menampung seluruh komponen di dalam satu bodi. Jika pengguna membutuhkan baterai tambahan, kamera ekstra, atau lensa telefoto, mereka cukup menempelkan modul khusus ke bagian belakang perangkat melalui sistem magnetik yang sudah terintegrasi.
Sebenarnya, ide modular bukan hal baru di industri smartphone. Sekitar tahun 2017, Motorola Mobility juga pernah menghadirkan pendekatan serupa lewat lini Moto Mods, meski jumlah dan variasi modul yang ditawarkan saat itu berbeda.
Rangkaian Modul Smartphone TECNO
Dalam pameran tersebut, TECNO menampilkan beragam modul yang tergabung dalam paket bernama Customizable Modular Suite. Beberapa di antaranya meliputi:
- Modul baterai tambahan yang bisa ditumpuk untuk memperbesar kapasitas daya
- Kamera aksi untuk kebutuhan perekaman aktivitas luar ruang
- Modul lensa telephoto untuk fotografi jarak jauh
Pendekatan yang diusung terasa lebih realistis dibandingkan konsep modular lama yang cenderung rumit dan kurang praktis. Dalam penggunaan harian, smartphone tetap tampil ramping seperti biasa. Namun saat ada kebutuhan khusus—misalnya ingin merekam video ekstrem atau memotret dengan zoom lebih jauh—modul dapat langsung dipasang.
Sistemnya dirancang agar perangkat otomatis mengenali aksesori yang ditempel tanpa proses konfigurasi yang merepotkan. Ini menjadi poin penting agar modularitas tidak terasa mengganggu pengalaman pengguna.
Relevan di Era AI
Menariknya, fungsi-fungsi yang membutuhkan daya besar dipindahkan ke modul eksternal. Artinya, beban komputasi tidak sepenuhnya ditanggung perangkat utama. Pendekatan ini terasa relevan di era AI, ketika kebutuhan pemrosesan semakin berat, tetapi pengguna tetap menginginkan smartphone yang tipis dan ringan.
TECNO juga memperkenalkan dua gaya desain untuk teknologi ini. Versi ATOM tampil lebih rapi dan terstruktur, sedangkan versi MODA dibuat lebih ekspresif dengan nuansa geek yang kuat. Secara visual, keduanya mencoba membuktikan bahwa perangkat modular tidak harus terlihat kaku atau seperti prototipe eksperimental.
Akankah Modular Kembali Bangkit?
Konsep smartphone modular sebelumnya memang belum ada yang benar-benar bertahan lama di pasar. Namun kali ini, modularitas dikaitkan langsung dengan kebutuhan komputasi AI yang terus berkembang. Pendekatan tersebut berpotensi memberikan nilai tambah yang lebih relevan dibanding eksperimen modular di masa lalu.
Jika nantinya diproduksi massal, pertanyaan besarnya bukan lagi soal kesiapan teknologi, melainkan apakah pengguna siap kembali pada ide smartphone yang bisa “dirakit” sesuai kebutuhan.
Menurut Anda, model seperti ini terasa praktis dan fleksibel, atau justru menambah kerumitan dalam penggunaan sehari-hari?














