Media90 – Menjelang pergantian tahun 2026, sebuah laporan keamanan digital mengkhawatirkan muncul, menyoroti salah satu ekosistem teknologi terbesar di dunia. Berdasarkan data terbaru dari GlobalStats yang dihimpun StatCounter hingga November 2025, tercatat sekitar 1,35 miliar perangkat Android berada dalam posisi rentan terhadap serangan peretas. Angka ini mewakili hampir 35% dari total 3,9 miliar pengguna aktif Android secara global.
Ancaman ini bukan sekadar spekulasi. Penggunaan sistem operasi (OS) lawas yang tidak lagi menerima pembaruan keamanan optimal menciptakan celah besar bagi peretas. Meski ponsel masih berfungsi normal secara fisik, secara digital perangkat tersebut ibarat rumah tanpa kunci di lingkungan rawan kejahatan. Kompas Tekno menekankan, ketidakpedulian terhadap versi OS menjadi pintu masuk utama bagi pencurian data pribadi skala masif.
Mengapa 1,3 Miliar HP Android Berbahaya?
Masalah utama terletak pada penggunaan OS yang sudah usang. Data menunjukkan hampir sepertiga pengguna Android masih menjalankan Android 13 atau versi lebih lama seperti Android 12 dan Android 11. Rinciannya:
-
Android 13: 14,99% perangkat
-
Android 12: 10,88% perangkat
-
Android 11: 8,98% perangkat
Sebagian besar produsen Android hanya memberikan dukungan pembaruan OS dan patch keamanan selama 2–3 tahun. Setelah masa dukungan berakhir, Google dan produsen berhenti mengirimkan perbaikan untuk celah baru. Akibatnya, perangkat tetap menyimpan puluhan hingga ratusan lubang keamanan yang dapat dieksploitasi kapan saja tanpa sepengetahuan pengguna.
Ancaman Zero-Day dan Celah Kritis
Sepanjang Desember 2025, Google merilis pembaruan untuk menutup 107 kerentanan keamanan, termasuk dua celah Zero-Day (CVE-2025-48633 dan CVE-2025-48572). Zero-Day adalah celah keamanan yang diketahui dan sedang dieksploitasi sebelum pengembang sempat menutupnya.
Salah satu celah paling kritis berada pada komponen Framework Android (CVE-2025-48631), yang memungkinkan serangan Remote Denial of Service (DoS). Peretas bisa melumpuhkan atau mengambil alih perangkat tanpa izin fisik pengguna. Pengguna OS lawas akan tetap rentan karena tidak akan menerima patch terbaru.
Fragmentasi: Dilema Ekosistem Android
Berbeda dengan iOS yang terpusat, Android mengalami fragmentasi kronis. Digunakan oleh ratusan produsen dengan ribuan model berbeda, pembaruan sering terlambat sampai ke tangan pengguna.
Akibatnya, pengguna ponsel flagship terbaru mungkin aman dengan Android 15 atau 16, namun jutaan pengguna ponsel low-end sering ditinggalkan setelah satu tahun. Fragmentasi inilah yang membuat 1,3 miliar perangkat rentan sulit ditekan, karena tidak ada standar wajib dukungan keamanan jangka panjang untuk semua model.
Risiko Nyata bagi Pengguna
Pengguna Android lawas menghadapi risiko serius, termasuk:
-
Informasi perbankan: kredensial aplikasi bank digital atau dompet elektronik bisa dicuri
-
Kata sandi: akun media sosial dan email bisa diretas melalui keylogging
-
Data pribadi: foto, video, dan riwayat lokasi berpotensi disalahgunakan
-
Privasi mikrofon dan kamera: perangkat bisa dipantau secara diam-diam
Malware dan aplikasi pihak ketiga dari sumber tidak resmi menjadi pintu masuk utama bagi peretas.
Cara Cek Versi Android dan Mengamankan Perangkat
Untuk meminimalkan risiko, pengguna disarankan mengecek versi Android:
-
Masuk ke menu Settings / Pengaturan
-
Pilih About Phone / Tentang Ponsel
-
Lihat bagian Android Version / Versi Android
Jika perangkat menggunakan Android 13 atau lebih lama, segera periksa Software Update / Pembaruan Sistem. Jika produsen sudah menghentikan dukungan, langkah paling aman adalah mengganti perangkat dengan model terbaru yang masih menerima patch keamanan.
Selain itu, hindari mengunduh aplikasi dari luar Google Play Store, karena APK dari sumber tidak resmi sering menjadi jalur bagi peretas.
Dengan langkah antisipatif sederhana ini, pengguna dapat mengurangi risiko peretasan massal dan menjaga data pribadi tetap aman di era Android yang terus berkembang.














