Media90 – Sebuah era besar dalam dunia hiburan televisi Indonesia resmi berakhir di awal tahun 2026. Laporan terbaru dari detikInet menyoroti kesedihan mendalam jutaan masyarakat setelah anime legendaris Doraemon dilaporkan berhenti tayang di layar kaca.
Setelah 35 tahun menemani tumbuh kembang berbagai generasi, robot kucing dari abad ke-22 ini kini resmi “pensiun” dari slot keramatnya setiap Minggu pagi. Bagi banyak orang, terutama generasi 90-an dan 2000-an, Doraemon bukan sekadar kartun, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas masa kecil mereka.
Jejak Sejarah: Tradisi Sakral Minggu Pagi Sejak 1990
Doraemon memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meski sempat tayang di TVRI pada akhir 1980-an, popularitasnya melejit sejak RCTI mengambil alih hak siar pada 9 Desember 1990. Sejak saat itu, setiap Minggu pukul 08.00 WIB menjadi waktu sakral bagi anak-anak Indonesia.
Selama tiga setengah dekade, suara khas Doraemon, Nobita, dan teman-temannya menemani sarapan jutaan keluarga di seluruh nusantara. Meskipun pengisi suara bahasa Indonesia berganti beberapa kali, esensi ceritanya tetap sama, menyuarakan pesan tentang persahabatan, imajinasi, dan tanggung jawab. Keberhasilan bertahan 35 tahun di satu stasiun televisi menjadikan Doraemon salah satu tayangan terlama dalam sejarah TV Indonesia.
Terungkap Lewat Hilangnya Jadwal di RCTI+
Kecurigaan publik mengenai pensiunnya Doraemon bermula dari pengamatan para penggemar di platform digital. Berdasarkan jadwal resmi RCTI+, sejak 29 Desember 2025 hingga awal Januari 2026, nama Doraemon sudah tidak tercantum.
Absennya judul yang biasanya tidak pernah terlewat—kecuali untuk acara kenegaraan penting—menjadi sinyal kuat bahwa kontrak penayangan telah berakhir. Meski pihak stasiun maupun pemegang lisensi belum memberi alasan resmi, analis media menduga ini bagian dari strategi reposisi konten di tengah pergeseran kebiasaan menonton ke layanan streaming.
Reaksi Netizen: Nostalgia dan Air Mata Digital
Segera setelah berita ini mencuat, media sosial seperti X (dahulu Twitter) dan Instagram dibanjiri komentar emosional. Tagar terkait Doraemon menjadi tren, di mana netizen berbagi memori manis masa kecil, seperti menunggu “Baling-baling Bambu” atau “Pintu Kemana Saja” muncul di layar sebelum bermain atau berangkat sekolah.
Banyak warganet mengenang ritual khas: bangun pagi, mandi cepat, duduk di depan televisi tabung dengan sepiring bubur ayam atau nasi goreng. Berhentinya tayangan ini bukan sekadar kehilangan tontonan, melainkan simbol akhir masa kecil mereka. Ungkapan “terima kasih telah menemani masa kecilku” menjadi pesan paling banyak dituliskan sebagai penghormatan terakhir bagi karya maestro Fujiko F. Fujio.
Masa Depan Doraemon di Era Digital
Meski pensiun dari televisi nasional, Doraemon tidak hilang sepenuhnya. Di 2026, akses terhadap kontennya bergeser ke platform digital dan layanan video-on-demand. Namun, bagi penggemar setia, pengalaman menonton via streaming tetap berbeda dengan nuansa menonton komunal yang serentak dirasakan jutaan anak di televisi nasional.
Kepergian Doraemon dari layar RCTI dianggap sebagai akhir era keemasan kartun Minggu pagi. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa teknologi terus maju, membawa cara baru dalam mengonsumsi konten, namun tidak bisa menggantikan nilai sentimental dari kenangan yang dibangun selama 35 tahun.














