TEKNO

AI Cetak Puluhan Miliarder Baru di 2025, Peta Kekayaan Global Berubah Drastis

67
×

AI Cetak Puluhan Miliarder Baru di 2025, Peta Kekayaan Global Berubah Drastis

Sebarkan artikel ini
Lonjakan AI Ubah Peta Kekayaan Dunia, 50 Miliarder Baru Lahir pada 2025
Lonjakan AI Ubah Peta Kekayaan Dunia, 50 Miliarder Baru Lahir pada 2025

Media90 – Tahun 2025 menandai era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai mesin pembuat kekayaan baru. Jika sebelumnya AI dipandang sebatas teknologi pendukung, kini sektor tersebut menjelma menjadi penggerak utama lahirnya para miliarder dunia. Laporan terbaru Forbes mencatat, ekspansi pesat infrastruktur, model, dan aplikasi AI telah melahirkan lebih dari 50 miliarder baru hanya dalam satu tahun.

Gelontoran dana ke sektor ini pun terbilang masif. Investor global dikabarkan telah menanamkan lebih dari 200 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.300 triliun ke industri AI. Bahkan, startup AI menyerap hampir 50 persen dari total pendanaan global, menegaskan posisi AI sebagai pusat gravitasi baru dalam ekonomi teknologi dunia.

Wajah Baru Kekayaan Dunia

Perubahan besar terlihat pada daftar orang terkaya dunia. Hingga Desember 2025, Forbes mencatat terdapat 71 miliarder berusia di bawah 40 tahun yang sukses berkat usaha sendiri, menyamai rekor tertinggi sepanjang masa pada 2021. Namun, berbeda dengan era sebelumnya yang didominasi media sosial dan e-commerce, generasi miliarder muda saat ini tumbuh dari AI, fintech, dan kripto.

Baca Juga:  Kolaborasi Axioo dengan JKT48: Program Menarik dari Proteksi Perangkat hingga Trade In

Salah satu terobosan paling mencolok datang dari Edwin Chen, pendiri Surge AI. Di usia 37 tahun, Chen menjadi pendatang baru terkaya di daftar Forbes 400 dengan estimasi kekayaan bersih mencapai 18 miliar dolar AS atau sekitar Rp300 triliun. Ia bahkan disebut menggantikan Mark Zuckerberg sebagai simbol baru kekayaan pengusaha teknologi muda. Menariknya, Surge AI dibangun Chen dalam waktu kurang dari lima tahun tanpa dukungan modal ventura, dengan klien raksasa seperti Google, Meta, dan Microsoft.

Rekor Miliarder Termuda

Kecepatan menciptakan kekayaan di era AI juga mencetak rekor baru. Pada Oktober 2025, tiga pendiri startup rekrutmen berbasis AI Mercor—Brendan Foody, Adarsh Hiremath, dan Surya Midha—menjadi miliarder self-made termuda sepanjang sejarah di usia 22 tahun. Masing-masing memiliki kekayaan bersih sekitar 2,2 miliar dolar AS atau Rp36 triliun, melampaui rekor Mark Zuckerberg yang menjadi miliarder pada usia 23 tahun.

Nama lain yang tak kalah mencuri perhatian adalah Lucy Guo (31), salah satu pendiri Scale AI. Dengan kekayaan bersih sekitar 1,4 miliar dolar AS atau Rp23 triliun, Guo sempat menyandang predikat miliarder perempuan termuda di dunia yang sukses berkat usahanya sendiri. Meski posisinya kini tergeser, pencapaiannya menunjukkan meningkatnya peran perempuan di industri teknologi berisiko tinggi.

Baca Juga:  Kembalikan Fungsinya! 4 Cara Sederhana Memanfaatkan TV Lama yang Tidak Digunakan

Ledakan Investasi Infrastruktur AI

Sumber kekayaan di era AI tidak hanya berasal dari software, tetapi juga dari pembangunan infrastruktur dasar. Proyek pusat data berskala raksasa, seperti proyek Stargate senilai 500 miliar dolar AS yang diumumkan OpenAI bersama SoftBank dan Oracle, memicu lonjakan permintaan terhadap perangkat keras dan komputasi.

Ledakan ini melahirkan deretan miliarder baru dari perusahaan semikonduktor dan cloud computing seperti Astera Labs, CoreWeave, hingga ISU Petasys dari Korea Selatan. Sementara itu, raksasa teknologi Meta, Alphabet, dan Microsoft masing-masing berkomitmen mengucurkan lebih dari 65 miliar dolar AS sepanjang 2025 demi memperkuat infrastruktur AI mereka.

AI di Dunia Kerja dan Coding

Pemanfaatan AI dalam aktivitas sehari-hari juga meningkat signifikan. Data Gallup menunjukkan penggunaan AI mingguan di dunia kerja melonjak dari 11 persen pada 2023 menjadi 23 persen pada 2025. Di sektor pengembangan perangkat lunak, dampaknya bahkan lebih nyata.

Baca Juga:  Optimalkan Pengalaman Anda dengan Fitur iPhone yang Didukung AI: Inilah Cara Menggunakannya

CEO Microsoft Satya Nadella mengungkapkan sekitar 40 persen kode perangkat lunak Microsoft kini ditulis dengan bantuan AI. Tren ini mengerek valuasi perusahaan seperti Anysphere, pengembang alat coding Cursor, hingga 29 miliar dolar AS. Keempat pendirinya pun langsung menyandang status miliarder. Hal serupa terjadi pada startup audio AI ElevenLabs yang kini bernilai 6,6 miliar dolar AS, berkat teknologi suara mirip manusia yang digunakan luas untuk layanan pelanggan.

Deretan Miliarder AI 2025

Forbes mencatat sejumlah tokoh yang meraih status miliarder berkat AI sepanjang 2025, antara lain Edwin Chen (Surge AI), Bret Taylor dan Clay Bavor (Sierra), trio pendiri Mercor, Anton Osika dan Fabian Hedin (Lovable), Lucy Guo (Scale AI), para pendiri Cursor, hingga duo ElevenLabs Mati Staniszewski dan Piotr Dabkowski.

Masa Depan Ekonomi AI

Ledakan ekonomi AI pada 2025 telah mengubah lanskap kekayaan global secara permanen. Sejumlah selebritas papan atas dunia bahkan tak lagi masuk daftar 40 miliarder teratas karena pertumbuhan kekayaan para pendiri AI melaju jauh lebih cepat. Seiring AI terus terintegrasi ke berbagai aspek kehidupan, teknologi ini dipandang akan tetap menjadi mesin utama pembentuk kekayaan dan kekuatan ekonomi baru di era modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *