Media90 – Di kalangan pengendara, sering muncul anggapan bahwa mengisi bahan bakar minyak (BBM) pada siang hari membuat takaran yang diterima lebih sedikit dibanding malam hari. Pandangan ini sudah lama beredar dan bahkan dianggap sebagai “pengetahuan umum” di bengkel, warung kopi, atau grup motor. Pertanyaannya, apakah benar kita bisa dirugikan hanya karena memilih waktu siang untuk mengisi BBM?
Jawabannya: secara ilmiah anggapan tersebut memang punya dasar, tetapi efeknya sangat kecil hingga nyaris tak berpengaruh dalam penggunaan sehari-hari. Menurut penjelasan pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB), masyarakat tidak perlu mengatur waktu khusus untuk mengisi BBM.
Darimana Asal Anggapan Ini?
Anggapan bahwa mengisi BBM di siang hari lebih merugikan muncul dari konsep dasar fisika, yakni pemuaian. Ketika suhu meningkat, bensin dan solar dapat mengalami perubahan volume.
Sebagian orang kemudian menyimpulkan:
-
siang = temperatur lebih tinggi → BBM mengembang → volumenya naik → energi per liter jadi lebih sedikit.
Selain itu, mesin pompa di SPBU mengukur volume (liter), bukan massa BBM. Ini memunculkan pemahaman bahwa meski liter yang keluar sama, energi yang terkandung bisa berkurang.
Padahal dalam ilmu energi, yang menentukan bukan volume, melainkan massa BBM-nya. Jadi meskipun terjadi pemuaian, jumlah energi yang masuk ke dalam tangki kendaraan tetap sama.
Sisi Ilmiah: Pemuaian BBM Memang Ada, Tapi Kecil
BBM seperti bensin dan solar memang memiliki koefisien muai volumetrik, yaitu kemampuan cairan bertambah volume saat suhu naik.
Secara ilmiah:
-
Bensin: ± 0,00095 – 0,0011 per °C
-
Solar: ± 0,0007 – 0,0009 per °C
Artinya, perubahan volumetrik BBM per derajat Celsius sangat kecil.
Jika kita ambil contoh 40 liter bensin yang suhunya naik 2–3 °C:
-
Volume tambahan = 40 L × 0,001 × 2–3°C = ± 0,08 – 0,12 liter
Nilai tersebut sangat kecil dan hampir tak terasa dalam pemakaian harian.
Sebagai perbandingan:
-
Kesalahan tekanan ban saja bisa menurunkan efisiensi hingga 5–10%
-
Macet berat bisa membuat konsumsi melonjak dua kali lipat
Dibanding itu, pemuaian BBM hanyalah efek minor.
Ilustrasi Praktis di SPBU
Bayangkan seorang pengendara mengisi 40 liter bensin siang hari, ketika suhu BBM di tangki SPBU 3°C lebih tinggi dibanding malam.
Dengan koefisien muai 0,001:
-
Tambahan volume = 40 × 0,001 × 3 = 0,12 liter
Dalam konteks penggunaan sehari-hari:
-
0,12 liter setara dengan jarak tempuh hanya 1–2 km pada motor atau mobil irit.
-
Jauh lebih kecil dibanding pengaruh gaya mengemudi atau kondisi lalu lintas.
Mengapa SPBU Menjual BBM dalam Satuan Liter?
Sistem distribusi energi di Indonesia bekerja dalam dua tahap:
-
Hulu (kilang & terminal)
Volume BBM dikoreksi ke suhu standar 15°C agar akurat. -
Hilir (SPBU ke konsumen)
Penjualan dilakukan dalam liter karena:-
Praktis dan mudah dipahami
-
Standar internasional
-
Tidak memerlukan sensor suhu kompleks
-
Selain itu, tangki BBM SPBU memiliki insulasi, sehingga suhu produk tidak berubah secepat suhu udara luar.
Lalu, Apakah Perlu Mengatur Waktu Mengisi BBM?
Pakar IPB menegaskan: tidak perlu.
Mengatur waktu hanya demi mengejar perbedaan 0,05–0,1 liter justru bisa lebih boros, contohnya:
-
Keluar malam hanya untuk isi bensin → habis beberapa kilometer BBM
-
Menunda isi saat kondisi macet → mesin boros karena idle
Pada akhirnya, biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dibanding “selisih” dari pemuaian.
Hal yang Jauh Lebih Penting daripada Waktu Isi BBM
Efisiensi nyata justru datang dari kebiasaan berikut:
✔ Tekanan ban terjaga → beban mesin lebih ringan
✔ Akselerasi halus & konstan → konsumsi bahan bakar optimal
✔ Hindari macet → idle memakan bensin
✔ Servis rutin & filter bersih → pembakaran lebih efisien
✔ Gunakan BBM sesuai rekomendasi mesin
Faktor-faktor ini bisa membuat konsumsi BBM lebih irit hingga 20–40%, jauh di atas efek pemuaian BBM yang hanya 0,2–0,3%.
Perspektif Teknologi ke Depan
Diskusi soal pemuaian BBM membuka ruang pengembangan teknologi, misalnya:
-
meteran liter dengan kompensasi suhu
-
transparansi distribusi BBM
-
standar pengukuran energi berbasis massa
Meski selisihnya kecil, langkah ini bisa meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem distribusi energi.
Kesimpulan: Tidak Perlu Repot Atur Waktu
Isu perbedaan volume BBM antara siang dan malam benar-benar ada secara ilmiah karena sifat pemuaian. Namun:
-
Efeknya kecil sekali
-
Tidak signifikan dalam penggunaan sehari-hari
-
Tidak merugikan secara praktis
Pakar IPB menegaskan bahwa pengendara tidak perlu mengatur waktu khusus untuk mengisi BBM. Fokus yang lebih penting adalah kenyamanan, keselamatan, dan kondisi kendaraan.
Dengan begitu, manfaat efisiensi BBM akan jauh lebih terasa dibanding sekadar memilih antara siang atau malam.














