Media90 – Alam selalu penuh kejutan, dan salah satu rahasia fenomenalnya baru saja diungkap oleh sains. Selama beberapa dekade, para geolog bertanya-tanya bagaimana berlian, yang terbentuk di bawah tekanan ekstrem jauh di dalam Bumi, dapat mencapai permukaan tanpa berubah menjadi grafit. Jawabannya ternyata ada pada peristiwa geologis langka yang dikenal sebagai erupsi kimberlit.
Penelitian terbaru, termasuk studi terobosan yang dipimpin Profesor Thomas Gernon dari University of Southampton bekerja sama dengan peneliti University of Oslo, berhasil memecahkan misteri “semburan berlian”. Ternyata, perjalanan berlian adalah perlombaan berkecepatan tinggi yang dipicu oleh pergerakan lempeng benua jutaan tahun lalu.
Perpisahan Benua Besar dan Pemicu Erupsi
Kisah erupsi berlian berawal dari hancurnya superkontinen. Saat daratan besar seperti Gondwana — yang dulu mencakup Afrika dan Amerika Selatan — mulai berjauhan jutaan tahun lalu, pergerakan ini menciptakan efek riak jauh di bawah tanah.
Profesor Gernon dan timnya menemukan pola konsisten: erupsi berlian biasanya terjadi 22–30 juta tahun setelah superkontinen mulai terpecah. Saat lempeng Bumi berjauhan, mantel atas dan kerak bawah bercampur, menciptakan ketidakstabilan besar yang menjadi “pemicu” magma kimberlit meluncur ke permukaan.
Kimberlit: Pipa Berlian Berkecepatan Tinggi
Berlian terbentuk sekitar 150 kilometer di bawah permukaan Bumi. Untuk membawanya ke atas, Bumi menggunakan “pipa” alami yang disebut kimberlit. Tidak seperti gunung berapi biasa yang lava-nya mengalir lambat, magma kimberlit bergerak seperti roket, dengan kecepatan hingga 133 kilometer per jam.
Kecepatan ini sangat penting: karena perjalanan begitu cepat, berlian tidak sempat berubah menjadi grafit, sehingga berhasil dibawa ke permukaan sebagai batu permata berharga. Ledakan dahsyat ini menghasilkan pipa kimberlit yang kita kenal sebagai sumber berlian.
Rahasia Magma: CO2 dan Air
Kekuatan erupsi kimberlit ternyata ditentukan oleh volatiles, khususnya karbon dioksida (CO2) dan air.
Studi oleh Ana Anzulović, diterbitkan di Geology, menggunakan simulasi molekuler untuk memahami “proto-kimberlit”. Hasilnya, magma harus mengandung minimal 8,2% CO2 agar cukup ringan untuk naik melalui batuan padat. CO2 berperan seperti buih soda, menciptakan tekanan yang meletuskan magma ke permukaan, sementara air menjaga magma tetap cair dan mudah bergerak.
Tanpa CO2 cukup, magma akan terlalu berat dan berlian tetap terperangkap jauh di bawah tanah.
Jendela Menuju Kedalaman Bumi
Erupsi kimberlit lebih dari sekadar sumber berlian; ia juga menjadi tambang ilmiah. Magma ini sering membawa pecahan batu lain atau xenolit, yang berfungsi sebagai time capsule memberikan informasi langka tentang kondisi mantel Bumi yang tak dapat dijangkau secara langsung.
Pipa kimberlit umumnya muncul di kraton, bagian tertua dan paling stabil dari benua. Retakan-retakan di kraton ini menjadi jalur cepat agar kimberlit dapat mencapai permukaan dengan efisien.
Peta Eksplorasi Masa Depan
Dengan memahami waktu (timing) dan komposisi kimia magma, geolog sekarang memiliki “peta” yang lebih akurat untuk menemukan endapan berlian yang tersembunyi. Alih-alih menebak-nebak, peneliti dapat menargetkan area di mana superkontinen kuno pernah terpisah dan memeriksa jejak kimiawi kimberlit kaya CO2.
Kesimpulan
Berlian bukan sekadar batu cantik. Mereka adalah hasil dari perjalanan ekstrem berkecepatan tinggi dari kedalaman Bumi, dibawa ke permukaan oleh kekuatan tekanan tektonik yang sama yang membentuk benua-benua. Erupsi kimberlit mengungkapkan betapa kompleks dan menakjubkannya mekanisme alam untuk menghadirkan permata yang telah menjadi simbol kemewahan dan keabadian ini.














