BISNIS

Cuan Rp 650 Juta dari Canva: Kisah Francisco Bangun Bisnis Digital 20 Menit Sehari

3
×

Cuan Rp 650 Juta dari Canva: Kisah Francisco Bangun Bisnis Digital 20 Menit Sehari

Sebarkan artikel ini
Rp 650 Juta dari Canva! Begini Strategi Francisco Bangun Bisnis Digital Hanya 20 Menit Sehari
Rp 650 Juta dari Canva! Begini Strategi Francisco Bangun Bisnis Digital Hanya 20 Menit Sehari

Media90 – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pergeseran pasar kerja konvensional, pepatah “bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras” kini terbukti nyata. Kisah viral Francisco Rivera, pemuda 27 tahun asal Florida, Amerika Serikat, menjadi buktinya. Dari seorang guru bimbingan belajar (bimbel), ia berhasil membalikkan nasib menjadi pengusaha digital sukses dengan penghasilan US$ 38.500 per bulan atau sekitar Rp 650 juta—dan yang mengejutkan, ia hanya menghabiskan 20 menit sehari untuk mengelola bisnisnya.

Titik Balik: Dari Guru Bimbel ke Dunia Digital

Sebelum meraih kesuksesan, Rivera adalah guru bimbel yang pendapatannya tidak stabil pasca-pandemi Covid-19. Menghadapi situasi ini, ia memutuskan untuk mencari peluang di internet, bukan pekerjaan kantoran tradisional. Ia memilih model bisnis Print-on-Demand (POD), di mana produk seperti kaos, gelas, atau lilin organik dengan label kustom hanya diproduksi oleh vendor pihak ketiga ketika ada pesanan masuk.

Keunggulan model ini adalah risiko finansial rendah. Penjual tidak perlu menyetok barang atau membayar modal produk di awal—semua berjalan otomatis sesuai permintaan.

Baca Juga:  JUARA: Inovasi Teknokrat Indonesia Membuka Pintu Wirausaha Mahasiswa Melalui Pusat Inkubator Bisnis

Rahasia “Modal Canva”

Banyak orang bertanya, bagaimana aplikasi desain seperti Canva bisa menghasilkan ratusan juta rupiah? Menurut Rivera, kuncinya bukan kerumitan desain, tetapi pesan dan estetika yang relevan dengan target pasar di platform seperti Etsy.

Ia menggunakan Canva Pro untuk membuat desain label lilin unik, lucu, atau penuh kutipan emosional yang disukai pelanggan. Desain ini kemudian diunggah ke platform POD seperti Printify, yang otomatis mencetak dan mengirim produk ke pembeli di seluruh dunia.

Biaya operasional sangat minim. Rivera menyebutkan hanya perlu US$ 0,20 per item di Etsy, sedangkan akun Canva Pro memberikan akses ribuan template yang memudahkan proses kreatif. Hanya dalam hitungan menit, satu desain bisa siap jual.

Baca Juga:  Dengan Program "Ngobrol Bareng," Alfa Lampung Tingkatkan Kedekatan dan Hubungan Baik Antar Member

Mengapa Hanya 20 Menit Sehari?

Istilah “kerja 20 menit” sering disalahartikan sebagai kemalasan. Bagi Rivera, 20 menit sehari adalah waktu yang ia gunakan untuk memelihara toko dan memantau pesanan. Sistem fulfillment sudah otomatis, sehingga ia tidak perlu mengemas atau mengirim barang.

Fokus utamanya adalah riset tren: melihat kata kunci populer di Etsy dan membuat desain baru di Canva yang sesuai tren. Jika ada lonjakan pesanan, ia mungkin bekerja hingga 2 jam, namun rata-rata sistem berjalan autopilot.

Hasil Finansial dan Skalabilitas

Dalam setahun, bisnis Rivera meraup US$ 462.000 (sekitar Rp 7,5 miliar). Setelah dipotong biaya produksi dan platform, ia tetap mengantongi Rp 650 juta per bulan—jauh melampaui penghasilan sebagai guru bimbel dengan jam kerja yang lebih panjang.

Baca Juga:  Reqruit Asia Rayakan 15 Tahun, Menghubungkan Ribuan Talenta Senior dengan Perusahaan Terbaik di Indonesia

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa di era digital 2026, skalabilitas adalah kunci. Satu desain Canva dapat terjual ribuan kali tanpa tenaga tambahan, memungkinkan seorang individu menghasilkan omzet miliaran rupiah tanpa kantor besar atau puluhan karyawan.

Pesan untuk Generasi Digital

Meskipun kisah Rivera terdengar mudah, konsistensi dan tekad tetap diperlukan di awal. Model bisnis POD adalah nyata, tapi membutuhkan strategi riset pasar yang tepat.

Bagi masyarakat Indonesia, kisah ini menjadi pengingat: alat seperti Canva bukan sekadar untuk tugas sekolah atau media sosial, tetapi instrumen ekonomi yang kuat jika dipadukan dengan visi bisnis. Dengan modal minim dan akses internet, siapa pun memiliki peluang menembus pasar global dan meraih kemandirian finansial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *