TEKNO

Elon Musk: Sekolah Kedokteran Tak Berguna, AI Akan Beri Perawatan Medis untuk Semua

3
×

Elon Musk: Sekolah Kedokteran Tak Berguna, AI Akan Beri Perawatan Medis untuk Semua

Sebarkan artikel ini
Elon Musk: Sekolah Kedokteran Ketinggalan Zaman, AI Siap Tangani Perawatan Medis untuk Semua
Elon Musk: Sekolah Kedokteran Ketinggalan Zaman, AI Siap Tangani Perawatan Medis untuk Semua

Media90 – Elon Musk, miliarder di balik xAI dan SpaceX, kembali memicu perdebatan hangat di dunia pendidikan dan medis. Dalam percakapan bersama Peter H. Diamandis dari X Prize Foundation, Musk menyatakan bahwa sekolah kedokteran saat ini “tidak ada gunanya” karena kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan segera mengungguli kemampuan manusia dalam merawat pasien.

Menurut Musk, masa depan layanan kesehatan akan didemokratisasi oleh AI, sehingga setiap individu nantinya bisa mendapatkan perawatan yang kualitasnya lebih baik daripada yang diterima presiden atau pemimpin dunia saat ini. AI mampu memproses miliaran data medis instan, memberikan diagnosis hampir sempurna, dan menyarankan tindakan medis paling efektif tanpa lelah atau bias manusiawi.

Masa Depan Pendidikan: Relevansi yang Dipertanyakan

Ketika Diamandis bertanya, “Jadi, jangan kuliah kedokteran?”, Musk menjawab tegas: “Ya. Tidak ada gunanya.” Ia berpendapat bahwa pendidikan tradisional yang memakan waktu bertahun-tahun untuk menghafal teori dan prosedur akan ketinggalan zaman di hadapan mesin yang memiliki basis data medis universal.

Baca Juga:  RedMagic 11 Pro Resmi Hadir di Indonesia: Snapdragon 8 Elite Gen 5, AI MORA, dan Desain Futuristik

Skeptisisme Musk bahkan meluas ke hampir semua pendidikan formal yang tidak cepat beradaptasi dengan AI. Ia menekankan bahwa generasi muda saat ini lebih nyaman ditangani robot, khususnya untuk prosedur bedah yang presisinya tak bisa dijamin tangan manusia yang lelah atau gemetar.

Otomatisasi Medis: Belajar dari Teknologi LASIK

Musk mencontohkan operasi LASIK, di mana robot laser melakukan pembedahan mata dengan presisi mikroskopis. Ia bertanya retoris: “Apakah Anda ingin dokter mata menggunakan laser tangan?”

Contoh ini menggambarkan bahwa otomatisasi bukan lagi masa depan, tapi standar medis masa kini. Musk percaya bahwa ketika teknologi AI medis seperti xAI diterapkan secara global, biaya perawatan tingkat elit akan menurun drastis hingga hampir gratis, dan akses layanan medis akan universal.

Baca Juga:  FMIPA Unila melalui Himbio Berikan Penyuluhan Edukasi Pencegahan DBD kepada Warga Kertosari Lampung Selatan dalam Program Pengabdian Desa

Pro dan Kontra: Visi Futuristik vs Realitas Empati

Pernyataan Musk membagi opini publik di platform X:

  • Pendukung: AI akan membuat sistem kesehatan saat ini terlihat kuno. Mereka memuji keberanian Musk menantang status quo demi efisiensi dan kualitas teknologi.

  • Pengkritik: AI belum mampu menggantikan empati, komunikasi antarmanusia, dan penilaian moral dalam keputusan hidup-mati. Sekolah kedokteran tetap penting untuk melatih tenaga profesional yang mampu mengawasi AI dan memberi sentuhan kemanusiaan pada pasien.

Menuju Era Kesehatan Berbasis Algoritma

Langkah Musk ini menandai pergeseran besar di sektor kesehatan. Pertanyaannya kini: apakah sekolah kedokteran akan benar-benar menjadi “tidak berguna”, atau justru harus berevolusi menjadi sekolah teknologi medis?

Dominasi AI dalam medis bukan lagi fiksi ilmiah. Dengan kekayaan Musk yang terus meningkat, investasinya di bidang AI medis kemungkinan besar akan mempercepat realisasi visi ini.

Dunia kini menunggu: apakah prediksi Musk akan terbukti, atau apakah manusia sebagai penyembuh tetap tak tergantikan oleh kode dan algoritma. Yang jelas, perdebatan ini membuka mata banyak pihak mengenai urgensi literasi teknologi bagi calon tenaga profesional di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *