Media90 – Tim SAR gabungan memilih jalur pendakian Gunung Bulusaraung sebagai rute utama dalam proses evakuasi pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami kecelakaan di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Keputusan ini diambil sebagai langkah pengamanan bagi personel, mengingat kondisi medan yang terjal, licin, dan berisiko tinggi bila ditempuh melalui rute lain.
Proses evakuasi ini melibatkan ratusan personel dengan penyisiran intensif di sekitar titik penemuan serpihan pesawat. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyampaikan bahwa sekitar 400–500 personel SAR gabungan berada dalam kondisi siaga penuh untuk operasi ini. Sebagian tim telah lebih dahulu bergerak menuju kawasan Bulusaraung, sedangkan tim lain dipersiapkan untuk mendukung langkah evakuasi lanjutan dan logistik.
Sebelum memasuki titik serpihan, tim SAR mulai memetakan jalur evakuasi paling memungkinkan berdasarkan kontur pegunungan dan akses pendakian. Hal ini dilakukan agar proses penyisiran dan evakuasi dapat dilakukan secara terukur tanpa menimbulkan risiko tambahan bagi personel.
Temuan Serpihan dari Udara
Penemuan serpihan pesawat terjadi pada Minggu pagi melalui operasi pencarian gabungan. Tim aju yang membawa drone diberangkatkan lebih awal pada pukul 06.15 WITA untuk melakukan pemantauan udara terhadap area pegunungan. Beberapa waktu kemudian, pencarian diperkuat dengan helikopter SAR yang melakukan penyisiran visual dari ketinggian untuk memperluas cakupan pengamatan.
Dari hasil pemantauan udara, serpihan kecil yang diduga bagian jendela pesawat terdeteksi pada pukul 07.46 WITA. Tiga menit setelah temuan pertama, tim kembali menemukan serpihan berukuran besar yang diduga bagian badan serta ekor pesawat, dalam kondisi terpisah. Temuan ini menjadi indikator penting untuk menentukan pusat area evakuasi.
Berdasarkan data sementara, serpihan pesawat berada di lereng selatan Gunung Bulusaraung, tepatnya di area bawah lereng. Namun jika dilihat dari arah puncak gunung, posisi badan pesawat justru berada di sisi utara. Kondisi ini menunjukkan kemungkinan pesawat mengalami benturan kuat pada kontur pegunungan sebelum terpecah di lereng berbeda.
Informasi tersebut saat ini masih dikaji lebih lanjut oleh tim teknis untuk menyusun strategi evakuasi lanjutan serta memastikan keamanan rute.
Evakuasi Berlanjut, Medan dan Cuaca Jadi Tantangan
Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran secara bertahap dengan mempertimbangkan faktor medan serta kondisi cuaca. Proses dilakukan dengan pendekatan kehati-hatian tinggi demi keselamatan personel, mengingat hujan, kabut tebal, dan minimnya akses kendaraan menjadi tantangan utama di lokasi operasi.
Operasi pencarian dan evakuasi masih terus berlanjut sampai tim menyatakan area benar-benar aman dan seluruh serpihan dapat dievaluasi lebih lanjut oleh pihak berwenang.














