NASIONAL

Berikanesia Lestari Tunjukkan Inovasi Ekonomi Biru di Belitung: Reklamasi Lahan Tambang hingga Intervensi Gizi

7
×

Berikanesia Lestari Tunjukkan Inovasi Ekonomi Biru di Belitung: Reklamasi Lahan Tambang hingga Intervensi Gizi

Sebarkan artikel ini
Berikanesia Lestari Ubah Kulong Tambang Jadi Model Ekonomi Sirkular di Belitung
Berikanesia Lestari Ubah Kulong Tambang Jadi Model Ekonomi Sirkular di Belitung

Media90 – Changemakers dari Belitung yang tergabung dalam inisiatif Berikanesia Lestari, dengan dukungan dari Instellar, sukses menjalankan inovasi ekonomi biru selama satu tahun terakhir di Pulau Belitung. Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, kelompok nelayan, petani tambak, kader kesehatan, serta komunitas lokal, mereka menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Program Berikanesia Lestari untuk membagikan capaian, pembelajaran, dan praktik baik selama program berlangsung.

Inisiatif ini menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular berbasis komunitas di tingkat lokal. Program mengoptimalkan lahan bekas tambang (kulong) menjadi kolam budidaya ikan nila, mengolah limbah ikan pasar menjadi pakan ikan terjangkau, serta mendorong pengembangan produk UMKM berbasis perikanan. Pendekatan terintegrasi ini tidak hanya menjawab isu lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesehatan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi.

Dari Kulong Tambang Menjadi Sentra Budidaya

Selama satu tahun implementasi, Berikanesia Lestari berhasil memanfaatkan satu lahan bekas tambang sebagai lokasi percontohan budidaya ikan nila air tawar. Hasil budidaya digunakan untuk dua tujuan: intervensi gizi berbasis protein ikan bagi anak-anak malnutrisi, serta sebagai bahan baku produk olahan UMKM lokal.

Baca Juga:  Warga Cigobang Geruduk Bukit Sawit, Tuding Perusahaan Ingkar Janji

Di sisi lain, limbah ikan dari pasar nelayan diolah menjadi pakan ikan berkualitas sehingga mampu menekan biaya produksi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

“Program yang telah dijalankan telah menunjukkan hasil signifikan, yaitu satu lahan bekas tambang timah dapat direvitalisasi secara produktif menjadi lokasi budidaya ikan nila dengan menggunakan pakan yang diolah dari sisa ikan nelayan se-Kabupaten Belitung. 11,7 ton limbah ikan berhasil diselamatkan menjadi produk turunan 7 ton tepung ikan dan 2,7 ton pelet ikan terjangkau. Kami berkolaborasi dengan 30 pengumpul limbah dan 50 petani ikan,” ujar Ibnu Hasanuddin dalam sambutannya.

Integrasi Gizi, UMKM, dan Ekonomi Lokal

Pada sesi diskusi dan policy talk, perwakilan Berikanesia Lestari Khodijah A Zahir menjelaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan lintas sektor telah menghasilkan dampak nyata di masyarakat.

Dari hasil budidaya nila tersebut, dikembangkan berbagai produk turunan bernilai ekonomi melalui rumah produksi komunitas, antara lain:

  • Sagoo crackers

  • Mie pandai

  • Abon ikan

  • Sambal lingkung

  • Kerupuk kemplang

Selain itu, ikan nila juga dikonsumsi sebagai intervensi gizi bagi 87 anak dengan kondisi malnutrisi dan stunting di Desa Aik Seruk.

“Intervensi ini menunjukkan hasil yang positif, dengan 26% balita telah bebas stunting dan 21% balita berstatus gizi baik. Capaian ini menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat menjawab tantangan lingkungan, kesehatan, dan ekonomi secara bersamaan,” jelas Khodijah.

Dukungan Mitra dan Pemerintah Daerah

Dari sisi mitra pendukung, Rizky Anugrah, Head of Impact-Driven Enterprise Advisory Instellar, menilai Berikanesia Lestari sebagai contoh keberhasilan inovasi lokal yang mampu memberikan dampak nyata. Melalui program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE), Instellar mendorong lahirnya solusi yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi teruji di lapangan dan menjawab kebutuhan masyarakat.

“Berikanesia Lestari menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor dan pendekatan komunitas dapat menciptakan model ekonomi biru berkelanjutan yang memiliki potensi untuk direplikasi di wilayah lain,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Wakil Bupati Belitung, Syamsir, S.I.Kom, menilai program ini sebagai titik balik pemanfaatan lahan bekas tambang yang mampu membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperbaiki kondisi gizi anak. Menurutnya, pengolahan limbah ikan menjadi pakan budidaya menciptakan sistem ekonomi sirkular ramah lingkungan dan layak dikembangkan lebih luas.

Ia mendorong agar praktik baik ini diintegrasikan ke dalam agenda pembangunan daerah hingga nasional agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan.

Konsorsium Tiga Organisasi

Berikanesia Lestari merupakan konsorsium dari tiga organisasi, yaitu:

  1. Berikan Protein Initiative

  2. Ikanesia

  3. Selaras Muba Lestari

Inisiatif ini lahir dari program CCE 3.0 di bawah binaan Instellar, yang berfokus pada penguatan kapasitas changemakers melalui pendampingan, jejaring, dan kolaborasi lintas sektor.

Melalui kegiatan diseminasi ini, Berikanesia Lestari berharap hasil program dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan di Belitung dan wilayah pesisir lainnya di Indonesia.

Tentang Berikanesia Lestari

Inisiatif Berikanesia Lestari lahir pada tahun 2024 melalui program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 3.0 binaan Instellar Impact. Berikanesia Lestari berfokus pada pengembangan ekonomi biru di Belitung melalui rehabilitasi lahan bekas tambang (kulong) menjadi budidaya ikan air tawar bergizi.

Program ini mencakup:

  • Pemberdayaan UMKM

  • Pengolahan produk perikanan

  • Penanggulangan stunting dan malnutrisi

  • Penguatan ketahanan pangan

  • Optimalisasi lahan pasca tambang menjadi aset produktif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *