Media90 – Perseteruan hukum antara Elon Musk, pria terkaya dunia, dengan startup AI paling fenomenal, OpenAI, memasuki babak baru yang panas. Musk resmi menuntut ganti rugi sebesar $79 miliar–$134 miliar (sekitar Rp1,34–2,27 kuadriliun) dari OpenAI dan mitra utamanya, Microsoft. Gugatan ini berakar pada tuduhan bahwa OpenAI telah mengkhianati misi awalnya untuk kemanusiaan dan beralih menjadi “mesin pencetak uang” bagi Microsoft.
Perhitungan di Balik Angka Fantastis
Angka tuntutan ini dihitung oleh pakar ekonomi C. Paul Wazzan, yang menilai kontribusi awal Musk pada OpenAI. Pada 2015, Elon merupakan salah satu pendiri OpenAI dan menyumbang dana awal $38 juta (sekitar Rp644 miliar)—sekitar 60% dari total pendanaan awal.
Wazzan menekankan bahwa Elon tidak hanya memberikan uang, tetapi juga panduan teknis, masukan bisnis, dan rekrutmen talenta elit, yang langsung memberi kredibilitas pada OpenAI. Saat ini, OpenAI bernilai sekitar $500 miliar (Rp8,48 kuadriliun). Tim hukum Elon berpendapat Musk berhak atas “saham pendiri” dari keuntungan yang dianggap diperoleh secara tidak sah saat OpenAI bertransformasi dari non-profit menjadi for-profit. Singkatnya, Musk menuntut 3.500 kali lipat investasi awalnya, menegaskan perannya sebagai mesin utama kesuksesan OpenAI.
“Keuntungan Tidak Sah” dan Peran Microsoft
Dalam gugatan, tim Elon menggunakan istilah hukum “wrongful gains” (keuntungan tidak sah). Mereka menuduh OpenAI dan Microsoft meraup miliaran dolar secara ilegal dengan menggunakan teknologi yang seharusnya bersifat open-source.
Laporan ahli menyebutkan:
- OpenAI dituduh menguasai keuntungan ilegal $65,5–$109,4 miliar (Rp1,1–1,8 kuadriliun)
- Microsoft, pemegang 27% saham OpenAI, dituduh meraup $13,3–$25,1 miliar (Rp225–425 triliun)
Kepala pengacara Elon, Steven Molo, menegaskan:
“Tanpa Elon Musk, tidak akan ada OpenAI.”
Tim Elon berargumen Microsoft dan CEO OpenAI, Sam Altman, memanfaatkan sumber daya Musk untuk membangun tahta pribadi, memprivatisasi apa yang seharusnya menjadi kepentingan publik.
Balasan OpenAI: “Kampanye Pelecehan”
OpenAI dan Microsoft menolak klaim ini. Mereka meminta pengadilan untuk tidak mengakui analisis keuangan Wazzan, menyebutnya “dibuat-buat” dan “tidak dapat diverifikasi”. OpenAI menilai gugatan ini sebagai kampanye pelecehan (harassment campaign) dan menuduh Musk menggunakan proses hukum untuk mengintip rahasia bisnis mereka.
Sam Altman menekankan bahwa Elon kemungkinan akan terus membuat “klaim provokatif” demi memenangkan opini publik sebelum sidang.
Bukan Sekadar Uang
Rp2,27 kuadriliun terdengar fantastis, namun bagi Musk dengan kekayaan sekitar $700 miliar, angka ini relatif kecil. Banyak analis menilai gugatan ini lebih soal prinsip dan persaingan bisnis daripada uang semata. Elon dilaporkan merasa terganggu karena model “tertutup” OpenAI membantu Microsoft mendominasi pasar AI, menyulitkan xAI untuk bersaing secara adil. Musk memandang dirinya sebagai penjaga keamanan AI, dan menganggap arah komersial OpenAI saat ini berbahaya bagi masa depan umat manusia.
Langkah Selanjutnya
Seorang hakim federal di Oakland, California, menolak upaya OpenAI untuk membatalkan persidangan. Artinya, kasus ini akan dibawa ke sidang juri pada April 2026. Persidangan ini diprediksi menjadi salah satu peristiwa hukum paling berpengaruh di dunia teknologi.
Hasilnya tidak hanya menentukan miliaran dolar, tetapi juga etika dan tata kelola perusahaan AI di masa depan. Jika Elon menang, OpenAI mungkin dipaksa membuka akses teknologinya atau membayar ganti rugi terbesar dalam sejarah Silicon Valley.














