TEKNO

Deteksi Serangan dalam Milidetik, BSSN Perkuat Benteng Pertahanan Digital Nasional

6
×

Deteksi Serangan dalam Milidetik, BSSN Perkuat Benteng Pertahanan Digital Nasional

Sebarkan artikel ini
Deteksi Serangan Kilat, BSSN Perkuat Sistem Pertahanan Siber Nasional
Deteksi Serangan Kilat, BSSN Perkuat Sistem Pertahanan Siber Nasional

Media90 – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menegaskan bahwa sistem pertahanan digital nasional kini memiliki kemampuan mendeteksi serangan siber dalam hitungan milidetik. Klaim ini bukan sekadar pernyataan optimistis, melainkan bagian dari strategi besar Indonesia dalam memperkuat ketahanan siber di tengah meningkatnya ancaman digital global yang kian kompleks dan masif.

Melalui National Security Operations Command (NSOC), BSSN memantau lalu lintas jaringan nasional secara real time. Sepanjang tahun 2025, sistem tersebut mencatat peningkatan eskalasi anomali traffic yang cukup tajam. NSOC dirancang untuk mengenali kejanggalan lalu lintas jaringan secara presisi, bahkan dalam skala milidetik, sehingga potensi ancaman dapat diidentifikasi lebih dini sebelum berdampak luas pada sistem nasional.

Pernyataan tersebut ditegaskan langsung oleh Kepala BSSN, Nugroho Sulistyo Budi, dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI. Ia menjelaskan bahwa lonjakan anomali trafik menjadi indikator meningkatnya intensitas ancaman siber yang dihadapi Indonesia.
“Pada tahun 2025, anomali traffic yang dimonitor oleh National Security Operations Command (NSOC) BSSN itu meningkat eskalasinya cukup tajam. Dapat kami laporkan, kemampuan NSOC dalam melaksanakan deteksi itu sangat cepat, bahkan hitungannya dalam milidetik,” ujar Nugroho dalam rapat yang disiarkan secara daring pada Selasa, 20 Januari 2026.

Identifikasi Serangan yang Presisi

Kemampuan NSOC tidak hanya terletak pada kecepatan, tetapi juga pada ketepatan identifikasi jenis serangan. Dalam dunia siber, setiap ancaman memiliki karakteristik berbeda. Ransomware menyandera data dan menuntut tebusan, malware menyusup untuk mencuri atau merusak informasi, exploit memanfaatkan celah keamanan perangkat lunak, sementara serangan Distributed Denial of Service (DDoS) melumpuhkan layanan dengan membanjiri sistem menggunakan trafik berlebih.

Baca Juga:  Momen Unik di KTT APEC: Xi Jinping Hadiahi Xiaomi 15 Ultra ke Presiden Korea Selatan, Candaan Soal “Backdoor” Jadi Sorotan

Sensor NSOC mampu membedakan pola serangan tersebut secara real time. Dengan identifikasi yang presisi, tim respons dapat menentukan langkah mitigasi yang tepat sejak awal. Hal ini penting untuk mencegah salah penanganan yang justru dapat memperparah dampak serangan. Peningkatan eskalasi anomali trafik sepanjang 2025 menunjukkan betapa krusialnya kemampuan klasifikasi serangan dalam sistem pertahanan digital nasional.

Proses Notifikasi dan Standar Operasi

Meski deteksi berlangsung sangat cepat, proses notifikasi kepada instansi atau entitas yang terdampak tetap melalui tahapan verifikasi. Berdasarkan standar operasi BSSN, pemberitahuan dilakukan paling lambat dalam kurun waktu 1×24 jam. Prosedur ini bertujuan memastikan informasi yang disampaikan akurat dan tidak memicu kepanikan yang tidak perlu.

Namun, mekanisme ini juga menimbulkan tantangan tersendiri. Serangan siber kerap berlangsung sangat cepat dan dapat menimbulkan kerugian besar dalam hitungan jam. Oleh karena itu, keseimbangan antara kecepatan notifikasi dan validasi data menjadi isu krusial dalam efektivitas penanganan insiden siber nasional.

Pertanyaan tentang Efektivitas Sistem

Dalam rapat kerja tersebut, anggota Komisi I DPR RI menyoroti efektivitas sistem BSSN melalui indikator kinerja yang diakui secara internasional, yakni Mean Time to Detect (MTTD) dan Mean Time to Respond (MTTR).

Baca Juga:  WiFi Lemot? Bisa Jadi Ada Penumpang Gelap! Begini Cara Cek dan Blokir Pencuri WiFi
  • MTTD mengukur seberapa cepat sistem mendeteksi adanya serangan.
  • MTTR menilai rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk merespons dan menanggulangi serangan tersebut.

Kedua indikator ini menjadi tolok ukur utama kesiapan suatu negara dalam menghadapi ancaman siber. DPR menegaskan bahwa anggaran besar yang dialokasikan untuk keamanan siber harus berdampak nyata pada perbaikan MTTD dan MTTR. Transparansi capaian kedua indeks ini dinilai penting agar publik dapat menilai efektivitas investasi negara dalam membangun pertahanan digital.

Pentingnya Indeks Kinerja Siber

MTTD dan MTTR merupakan standar internasional dalam menilai kualitas sistem keamanan siber. Semakin rendah nilai kedua indeks tersebut, semakin tinggi tingkat kesiapan dan ketahanan suatu sistem. Negara-negara dengan pertahanan siber maju menjadikan indikator ini sebagai parameter utama dalam kebijakan keamanan digital.

Laporan global International Telecommunication Union (ITU), misalnya, menempatkan negara dengan MTTD rendah dalam kategori kesiapan tinggi menghadapi ancaman siber. Dengan klaim kemampuan deteksi dalam milidetik, Indonesia berpotensi meningkatkan posisinya dalam indeks keamanan siber global, yang selama ini masih berada pada level menengah.

Implikasi bagi Ketahanan Nasional

Kemampuan mendeteksi serangan siber dalam hitungan milidetik memberikan keunggulan strategis bagi Indonesia. Ancaman siber tidak hanya menyasar individu atau sektor swasta, tetapi juga infrastruktur vital seperti jaringan listrik, sistem perbankan, layanan publik, hingga sektor kesehatan. Gangguan pada infrastruktur tersebut dapat berdampak langsung pada stabilitas nasional.

Baca Juga:  Instagram Membawa Keberagaman Stiker ke Stories: Pilihan Kreatif Baru untuk Pengguna!

Dengan sistem deteksi yang sigap, potensi kerugian dapat ditekan sejak dini. Selain itu, kepercayaan publik terhadap keamanan digital nasional juga meningkat, terutama di tengah akselerasi transformasi digital di berbagai sektor. Kecepatan deteksi yang dimiliki BSSN menjadi modal penting dalam menghadapi ancaman lintas negara yang semakin kompleks.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski menunjukkan kemajuan signifikan, tantangan tetap membayangi. Proses notifikasi yang dapat memakan waktu hingga 24 jam berpotensi menjadi celah, terutama pada serangan cepat seperti DDoS yang dampaknya bisa dirasakan dalam hitungan menit. Keterlambatan respons berisiko memperbesar kerugian yang ditimbulkan.

Selain itu, koordinasi lintas lembaga menjadi faktor penentu keberhasilan mitigasi serangan siber. Ancaman digital sering melibatkan banyak sektor sekaligus, sehingga dibutuhkan mekanisme komunikasi yang cepat, terintegrasi, dan solid. Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi tantangan tersendiri, mengingat teknologi secanggih apa pun tidak akan optimal tanpa SDM yang kompeten.

Oleh karena itu, selain penguatan teknologi, peningkatan regulasi, kapasitas SDM, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar sistem pertahanan siber nasional benar-benar efektif dan berkelanjutan.

Langkah BSSN dalam meningkatkan kecepatan deteksi serangan siber patut diapresiasi. Dengan kemampuan mengenali ancaman dalam milidetik, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan digital nasional. Agar potensi ini dapat dimaksimalkan, peningkatan kecepatan respons, koordinasi antar lembaga, serta transparansi kinerja perlu terus diperkuat. Dengan fondasi tersebut, Indonesia dapat membangun sistem keamanan siber yang lebih kokoh, adaptif, dan siap menghadapi dinamika ancaman global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *