Media90 – Industri smartphone global sepanjang 2025 menunjukkan pergeseran peta persaingan yang semakin jelas. Merek-merek asal Tiongkok seperti Oppo, Xiaomi, dan Vivo mulai kehilangan momentum, sementara dua raksasa lama—Apple dan Samsung—justru mencatatkan kinerja positif dan memperkuat dominasinya di pasar dunia. Data distribusi terbaru memperlihatkan adanya jurang pertumbuhan yang kian lebar antara kedua kubu tersebut.
Xiaomi tercatat mengalami stagnasi dengan pangsa pasar turun dari 14 persen menjadi 13 persen. Vivo hanya mampu mencatat pertumbuhan tipis sebesar 3 persen dengan pangsa pasar stagnan di angka 8 persen. Kondisi paling menantang dialami Oppo yang mengalami penurunan distribusi hingga minus 4 persen secara tahunan. Sebaliknya, Apple mencatat lonjakan pengiriman hingga 10 persen dengan pangsa pasar mencapai 20 persen, sementara Samsung mempertahankan posisi kedua dengan pangsa 19 persen dan pertumbuhan 5 persen.
Apple Melompat ke Puncak Pasar Premium
Keberhasilan Apple merebut posisi teratas tidak lepas dari peluncuran iPhone 17 yang dinilai membawa pembaruan signifikan dibandingkan generasi sebelumnya. Apple juga diuntungkan oleh strategi diversifikasi produk serta ekspansi agresif ke negara berkembang, yang selama ini menjadi basis kuat merek-merek China.
Strategi Apple mempertahankan citra premium terbukti tetap relevan. Konsumen global menunjukkan kecenderungan memilih perangkat dengan ekosistem matang, dukungan perangkat lunak jangka panjang, dan integrasi layanan digital yang solid—keunggulan yang menjadi ciri khas Apple selama bertahun-tahun.
Samsung Bertahan Lewat Inovasi dan Strategi Multi-Segmen
Samsung berada tepat di belakang Apple dengan pangsa pasar 19 persen. Pertumbuhan 5 persen yang dicapai sepanjang 2025 ditopang oleh strategi produk yang menyasar berbagai segmen, mulai dari seri Galaxy S di kelas premium hingga lini Galaxy A di kelas menengah.
Namun, diferensiasi utama Samsung terletak pada inovasi perangkat lipat melalui seri Galaxy Z. Inovasi ini memberi Samsung keunggulan unik yang belum sepenuhnya bisa ditandingi oleh kompetitor lain, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemimpin teknologi di segmen smartphone futuristik.
Xiaomi Stagnan di Tengah Tekanan Pasar
Xiaomi, yang selama ini dikenal sebagai raja “value for money”, mulai menghadapi tantangan serius. Strategi harga agresif yang menjadi kekuatan utama kini tidak lagi cukup untuk menarik konsumen global yang semakin mengutamakan fitur premium, kecerdasan buatan, dan kualitas ekosistem.
Penurunan pangsa pasar menjadi sinyal bahwa Xiaomi perlu bertransformasi, tidak hanya berkompetisi lewat harga, tetapi juga lewat inovasi perangkat keras dan perangkat lunak yang lebih berani.
Vivo Bertahan Tanpa Ekspansi Signifikan
Vivo mencatat pertumbuhan 3 persen, namun pangsa pasarnya tetap berada di angka 8 persen—tidak berubah dari tahun sebelumnya. Kinerja ini menunjukkan stabilitas, tetapi juga mengindikasikan keterbatasan ekspansi global.
Ketergantungan pada pasar domestik dan minimnya terobosan besar di pasar internasional membuat Vivo sulit mengejar laju pertumbuhan Apple dan Samsung yang semakin agresif.
Oppo Mengalami Tekanan Terbesar
Di antara merek China lainnya, Oppo menghadapi tekanan paling berat dengan penurunan distribusi hingga 4 persen. Penurunan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang relatif membaik, menandakan adanya persoalan internal dalam strategi produk dan pemasaran global.
Persaingan ketat di segmen menengah dan premium membuat Oppo harus melakukan evaluasi besar-besaran agar tidak semakin tertinggal dalam beberapa tahun ke depan.
Pasar Smartphone Global Mulai Stabil Berkat 5G
Secara keseluruhan, pasar smartphone global tumbuh sekitar 2 persen pada 2025. Angka ini menandai fase stabilisasi setelah tekanan panjang akibat pandemi. Faktor pendorong utama pertumbuhan adalah adopsi teknologi 5G di negara berkembang, strategi promosi yang lebih agresif, serta skema pembiayaan yang memudahkan konsumen membeli perangkat kelas atas.
Tren ini memperlihatkan perubahan preferensi konsumen dari sekadar harga murah menuju perangkat dengan nilai tambah teknologi yang lebih tinggi.
Tantangan Geopolitik dan Adaptasi Industri
Industri smartphone juga sempat terdampak kebijakan tarif dari pemerintahan Donald Trump pada awal 2025. Meski sempat menekan rantai pasok dan distribusi, dampaknya berangsur mereda seiring adaptasi pabrikan terhadap dinamika geopolitik dan diversifikasi jalur produksi.
Kemampuan beradaptasi ini menunjukkan ketangguhan industri smartphone global dalam menghadapi ketidakpastian kebijakan internasional.
Pertumbuhan Tidak Merata di Berbagai Kawasan
Pertumbuhan pasar tidak terjadi secara merata. Jepang, Timur Tengah, Afrika, dan sejumlah negara Asia mencatatkan pertumbuhan signifikan, sementara pasar matang seperti Amerika Serikat dan Eropa cenderung stabil. Negara berkembang kini menjadi motor utama pertumbuhan industri smartphone global.
Persaingan Smartphone 2026: Inovasi Jadi Penentu
Memasuki 2026, persaingan smartphone memasuki fase krusial. Apple dan Samsung membuktikan bahwa inovasi berkelanjutan—mulai dari AI, perangkat premium, hingga teknologi lipat—menjadi kunci mempertahankan dominasi.
Sebaliknya, merek-merek asal Tiongkok menghadapi tantangan besar karena masih bergantung pada strategi harga. Di tengah konsumen yang semakin menuntut fitur canggih dan ekosistem digital terintegrasi, persaingan tidak lagi soal murah atau mahal, melainkan siapa yang mampu menawarkan teknologi paling relevan.
Produsen yang gagal beradaptasi berisiko semakin tertinggal, sementara mereka yang berani berinovasi memiliki peluang untuk kembali menantang dominasi dua raksasa industri smartphone global.














