Media90 – TikTok resmi memasuki babak baru dalam operasionalnya di Amerika Serikat dengan mengumumkan pembentukan perusahaan patungan baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC. Entitas ini akan menjadi pengelola utama bisnis TikTok di AS, sebagai upaya strategis mempertahankan layanan di tengah tekanan regulasi.
TikTok Bentuk Entitas Baru di AS
Melalui blog resmi, TikTok menyatakan bahwa TikTok USDS hadir untuk memastikan platform tetap dapat digunakan oleh sekitar 200 juta pengguna dan lebih dari 7,5 juta pelaku bisnis di Amerika Serikat. Struktur baru ini bertujuan memenuhi tuntutan regulasi sekaligus menjaga keberlanjutan operasional di salah satu pasar media sosial terbesar di dunia.
Dalam struktur manajemen TikTok USDS, CEO global TikTok, Shou Chew, akan menempati kursi di dewan direksi sebagai perwakilan ByteDance. Meskipun Chew merupakan warga negara Singapura, mayoritas kursi dewan akan diisi oleh warga Amerika Serikat, menegaskan dominasi AS dalam pengelolaan entitas baru tersebut.
Mayoritas Kendali di Tangan Amerika Serikat
TikTok menekankan bahwa perusahaan patungan ini dimiliki mayoritas oleh pihak Amerika dan akan beroperasi sesuai ketentuan pemerintah AS. Fokus utama meliputi:
- Perlindungan keamanan nasional
- Pengamanan data pengguna
- Keamanan algoritma
- Moderasi konten
- Kepastian perangkat lunak bagi pengguna di AS
“Perusahaan patungan yang mayoritas dimiliki oleh AS akan melindungi keamanan nasional lewat pelindungan data, moderasi konten, serta kepastian software bagi pengguna,” ujar TikTok dalam pernyataan resminya.
Untuk memimpin entitas baru, TikTok menunjuk Adam Presser sebagai CEO TikTok USDS. Presser, yang bergabung dengan TikTok sejak 2022, dianggap memiliki pengalaman yang tepat dalam mengelola kebijakan dan operasional platform agar tetap sesuai regulasi AS.
Jajaran direktur TikTok USDS juga diisi sejumlah tokoh penting dari investor dan perusahaan teknologi asal AS, antara lain: Timothy Dattels (TPG Global), Mark Dooley (Susquehanna International Group), Egon Durban (Silver Lake), Raul Fernandez (DXC Technology), Kenneth Glueck (Oracle), dan David Scott (MGX). Kehadiran mereka menegaskan dominasi pemangku kepentingan AS dalam struktur baru TikTok.
Meski demikian, ByteDance—induk perusahaan TikTok berbasis di China—masih memiliki 19,9 persen saham, berada di bawah ambang batas mayoritas sehingga tidak lagi memegang kendali operasional di AS.
Tekanan Regulasi Jadi Latar Belakang Perubahan
Langkah ini muncul di tengah tekanan regulasi yang ketat dari pemerintah AS. Undang-undang keamanan nasional yang diterapkan menuntut entitas asal China melepaskan kendali atas TikTok di AS. Ancaman pemblokiran total TikTok menjadi pendorong utama perubahan ini.
Dengan lahirnya TikTok USDS, perusahaan mencoba meredam kekhawatiran soal keamanan data dan pengaruh asing, sekaligus menegaskan adaptasi bisnis teknologi global terhadap dinamika geopolitik dan regulasi. TikTok kini dapat melanjutkan operasionalnya di AS sambil mematuhi regulasi lokal.














