Media90 – Budaya kerja di China selama ini dikenal ketat dengan jam kerja panjang yang kerap menekan kesejahteraan karyawan. Tekanan untuk selalu produktif bahkan sering kali mengorbankan kesehatan fisik dan mental pekerja. Namun, di tengah pola kerja yang menuntut tersebut, Pang Dong Lai, jaringan ritel besar di China, justru menghadirkan kebijakan yang bertolak belakang.
Perusahaan ini memberikan hak cuti hingga sepuluh hari bagi karyawan yang merasa tidak bahagia, kehilangan motivasi, atau tidak berada dalam kondisi mental yang sehat untuk bekerja. Kebijakan ini langsung menarik perhatian publik karena dinilai tidak lazim di tengah budaya kerja keras yang mengakar kuat di China.
Kebijakan yang Mengubah Cara Pandang
Kebijakan yang dikenal sebagai “Cuti Tidak Bahagia” menjadi langkah berani dalam dunia ketenagakerjaan. Memberikan hak cuti bagi karyawan yang mengalami kelelahan mental bukan sekadar tambahan fasilitas, melainkan pengakuan bahwa kesehatan psikologis memiliki peran penting dalam produktivitas.
Pendiri Pang Dong Lai, Yu Donglai, menegaskan bahwa manajemen tidak diperbolehkan menolak pengajuan cuti tersebut. Penolakan justru dianggap sebagai pelanggaran kebijakan perusahaan. Sikap tegas ini menunjukkan komitmen Pang Dong Lai dalam menempatkan kesejahteraan karyawan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar slogan atau retorika.
Kritik terhadap Budaya Jam Kerja Panjang
Yu Donglai secara terbuka mengkritik budaya kerja dengan jam panjang yang lazim diterapkan di China. Menurutnya, praktik tersebut tidak etis karena mengurangi kesempatan karyawan untuk berkembang secara pribadi di luar pekerjaan. Jam kerja yang berlebihan dinilai hanya akan menciptakan kelelahan, bukan produktivitas jangka panjang.
Pandangan ini mencerminkan pendekatan yang lebih progresif, bahwa keberhasilan perusahaan tidak harus dibangun di atas pengorbanan berlebihan tenaga kerja. Dengan menolak budaya kerja yang menekan, Pang Dong Lai tampil sebagai contoh perusahaan yang berani melawan arus dominan di dunia bisnis China.
Jam Kerja Sehat dan Hak Karyawan
Di bawah kepemimpinan Yu Donglai, Pang Dong Lai menerapkan jam kerja tujuh jam per hari, libur akhir pekan, cuti tahunan selama 30 hingga 40 hari, serta tambahan lima hari libur saat perayaan Tahun Baru Imlek. Kebijakan ini memberi karyawan ruang yang cukup untuk beristirahat, menjalani aktivitas pribadi, dan menjaga keseimbangan hidup.
Filosofi tersebut menegaskan bahwa produktivitas tidak semata-mata diukur dari lamanya jam kerja, melainkan dari kualitas karyawan yang sehat, fokus, dan bersemangat. Dengan waktu istirahat yang memadai, karyawan mampu memberikan kontribusi yang lebih konsisten dan berkelanjutan.
Dampak Nyata bagi Karyawan dan Perusahaan
Penerapan “Cuti Tidak Bahagia” membawa dampak positif bagi karyawan Pang Dong Lai. Kebebasan untuk mengambil cuti saat kondisi mental tidak stabil membuat karyawan merasa dihargai dan memiliki kendali atas keseimbangan hidup mereka. Rasa aman secara psikologis ini menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Dukungan luas dari masyarakat dan warganet menunjukkan bahwa kebijakan ini tidak hanya relevan bagi internal perusahaan, tetapi juga diapresiasi sebagai langkah progresif di tengah budaya kerja yang ketat.
Dari sisi bisnis, kebijakan tersebut terbukti tidak menghambat kinerja perusahaan. Pada tahun 2024, Pang Dong Lai mencatat penjualan hingga 17 miliar yuan dengan keuntungan lebih dari 800 juta yuan. Data ini memperlihatkan bahwa kesejahteraan karyawan justru mampu memperkuat kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Filosofi Bisnis yang Berorientasi pada Pelanggan
Selain memperhatikan kesejahteraan karyawan, Pang Dong Lai juga menempatkan kepuasan pelanggan sebagai prioritas utama. Setiap toko dirancang dengan detail yang mengakomodasi kebutuhan berbagai kalangan.
Mulai dari troli belanja khusus lansia yang dilengkapi tempat duduk dan sandaran tangan, stroller untuk keluarga dengan bayi, hingga lemari khusus hewan peliharaan yang dilengkapi pendingin dan tempat minum. Pendekatan ini mencerminkan filosofi bisnis yang menempatkan kenyamanan manusia—baik karyawan maupun pelanggan—sebagai pusat layanan.
Paradigma Baru dalam Dunia Kerja
Kebijakan “Cuti Tidak Bahagia” menjadi simbol perubahan paradigma kerja di China. Di tengah tuntutan produktivitas tinggi, Pang Dong Lai menunjukkan bahwa kesejahteraan mental karyawan dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan bisnis.
Pendekatan ini memberi inspirasi bagi perusahaan lain untuk meninjau ulang praktik kerja yang terlalu menekan. Keberhasilan tidak lagi semata diukur dari angka produktivitas, tetapi juga dari kualitas hidup tenaga kerja yang menopangnya.
Kesejahteraan sebagai Kunci Pertumbuhan
Langkah Pang Dong Lai membuktikan bahwa kesuksesan bisnis tidak harus bergantung pada jam kerja panjang. Keseimbangan hidup karyawan justru menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan.
Dengan memberi ruang bagi karyawan untuk beristirahat saat tidak bahagia, perusahaan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan mental bukan penghambat produktivitas, melainkan pendorong utama keberhasilan jangka panjang.














