TEKNO

TrendForce Prediksi Pengiriman Smartphone Global Turun di 2026, Krisis Memori Jadi Penyebab Utama

9
×

TrendForce Prediksi Pengiriman Smartphone Global Turun di 2026, Krisis Memori Jadi Penyebab Utama

Sebarkan artikel ini
Laporan TrendForce: Pengiriman Smartphone Diperkirakan Menurun pada 2026
Laporan TrendForce: Pengiriman Smartphone Diperkirakan Menurun pada 2026

Media90 – TrendForce mempublikasikan prediksi terbarunya terkait pengiriman smartphone global pada 2026. Lembaga riset tersebut memperkirakan pasar berpotensi mengalami penurunan hingga 10%, dengan total pengiriman diproyeksikan berada di kisaran 1,135 miliar unit sepanjang tahun ini.

Menurut TrendForce, penurunan ini terutama disebabkan oleh kelangkaan chip memori yang telah berlangsung sejak tahun lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi tersebut memberi tekanan langsung pada kapasitas produksi serta struktur biaya produsen smartphone di berbagai segmen.

Skenario Terburuk: Penurunan Bisa Capai 15%

Dalam laporannya, TrendForce juga mengungkapkan adanya “skenario terburuk”, di mana penurunan pengiriman smartphone global bisa mencapai 15% dari prediksi awal. Jika skenario ini terjadi, total pengiriman smartphone di 2026 hanya akan menyentuh sekitar 1,061 miliar unit.

Baca Juga:  Optimalkan Pengalaman Anda dengan Fitur iPhone yang Didukung AI: Inilah Cara Menggunakannya

Sebagai pembanding, meskipun 2025 bukan tahun yang ideal bagi industri smartphone, pasar global masih mampu mencatat pertumbuhan positif sekitar 2% dibanding periode sebelumnya, dengan total pengiriman berada di kisaran 1,24–1,26 miliar unit. Kontras ini menunjukkan bahwa tekanan di 2026 diperkirakan akan jauh lebih berat.

Harga Smartphone Diprediksi Naik

Krisis chip memori yang berkepanjangan juga diperkirakan akan berdampak langsung pada harga jual rata-rata smartphone di 2026. TrendForce mencatat bahwa secara historis, komponen memori hanya menyumbang sekitar 10–15% dari total daftar komponen sebuah smartphone. Namun saat ini, porsi tersebut dilaporkan melonjak drastis hingga sekitar 40%.

Dengan lonjakan biaya komponen sebesar itu, penyesuaian harga dinilai hampir tak terhindarkan. Sejumlah produsen diprediksi akan menaikkan harga jual perangkat mereka demi menjaga margin keuntungan, terutama di segmen menengah hingga flagship.

Baca Juga:  Tahun Ini Terbaru! Vivo Siapkan Seri X100 untuk Melengkapi Jajaran Smartphone Flagship

Dampak Berbeda untuk Setiap Produsen

Meski demikian, dampak dari krisis memori ini tidak akan dirasakan secara merata oleh semua merek. Beberapa produsen besar dinilai memiliki kemampuan lebih baik dalam menyerap kenaikan biaya produksi.

Samsung, misalnya, berada di posisi relatif lebih aman berkat perannya sebagai salah satu pemasok memori utama dunia. Sementara itu, Apple juga dinilai memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap kenaikan harga, baik dari sisi rantai pasok maupun daya beli konsumennya.

Sayangnya, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi OEM asal Tiongkok. Banyak produsen dari wilayah ini melayani segmen pasar yang lebih sensitif terhadap harga, sehingga kenaikan harga smartphone berpotensi berdampak langsung pada permintaan dan volume penjualan.

Baca Juga:  3 Ucapan Lebaran Spesial untuk Orang Tersayang di WhatsApp

Dengan tekanan dari sisi pasokan dan potensi kenaikan harga, pasar smartphone global di 2026 tampaknya akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Pertanyaannya, apakah produsen mampu menjaga keseimbangan antara harga, spesifikasi, dan daya beli konsumen di tengah situasi ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *