Media90 – Huawei dikabarkan tengah menyiapkan sebuah smartphone dengan pendekatan desain yang tak biasa di pasar saat ini. Perangkat ini disebut akan mengusung aspek rasio layar lebar 16:10, mirip dengan yang digunakan pada foldable Pura X yang diperkenalkan tahun lalu. Bedanya, ponsel baru ini hadir dalam bentuk non-foldable alias tanpa mekanisme lipat.
Informasi tersebut datang dari leaker ternama Digital Chat Station melalui platform Weibo. Dalam bocorannya, Huawei disebut sedang mengembangkan ponsel model candybar dengan rasio layar 16:9 atau 16:10, sebuah format yang kini jarang ditemui di smartphone modern. Jika sesuai rencana, perangkat ini diperkirakan akan meluncur pada rentang Oktober hingga Desember 2026.
Terinspirasi Respons Positif Pura X
Langkah ini tampaknya tidak terlepas dari sambutan positif terhadap Pura X generasi pertama. Smartphone lipat tersebut ramai dibicarakan berkat penggunaan rasio layar 16:10 saat dibuka penuh. Format ini terasa jauh lebih “lebar” dibanding mayoritas ponsel masa kini yang cenderung ramping dengan aspek rasio 18:9 atau bahkan lebih tinggi.
Bagi sebagian pengguna, rasio layar ultra-tinggi memang terasa efisien untuk genggaman, tetapi kurang optimal untuk konsumsi konten. Di sinilah pendekatan layar lebar ala Pura X dianggap menawarkan pengalaman yang berbeda.
Nyaman untuk Visual dan Multitasking
Keunggulan utama rasio 16:10 terletak pada kenyamanan visual. Area layar yang lebih luas secara horizontal membuat aktivitas seperti menonton video, membaca dokumen, browsing, hingga multitasking terasa lebih lega. Elemen antarmuka tidak terlalu tertekan ke atas dan ke bawah, sehingga mata lebih nyaman saat digunakan dalam waktu lama.
Untuk konsumsi multimedia, rasio ini juga punya nilai tambah. Video—terutama konten edukasi, film, atau presentasi—terlihat lebih imersif. Teks dan gambar tampil lebih proporsional tanpa perlu sering melakukan zoom atau scrolling berlebihan.
Layar Lebar Tanpa Ribet Lipatan
Jika konsep rasio lebar ini diterapkan pada smartphone non-foldable, keuntungannya bisa terasa lebih praktis. Pengguna bisa menikmati pengalaman layar luas tanpa harus berurusan dengan engsel, lipatan, atau ketahanan mekanisme foldable. Dari sisi desain, ponsel juga berpotensi lebih ringkas, solid, dan nyaman untuk pemakaian harian.
Huawei sendiri disebut cukup optimistis dengan potensi perangkat ini di pasar China, terlebih melihat antusiasme terhadap Pura X yang juga dikabarkan bakal mendapat penerus tahun ini. Jika smartphone layar lebar ini sukses, bukan tidak mungkin produsen lain akan ikut mencoba pendekatan serupa.
Pertanyaannya sekarang, apakah tren smartphone berlayar lebar akan benar-benar kembali? Atau justru tetap menjadi segmen unik bagi pengguna tertentu saja?














