TEKNO

Gelombang Boikot ChatGPT: #QuitGPT Capai 700 Ribu Pengguna Usai Donasi Brockman ke Trump

6
×

Gelombang Boikot ChatGPT: #QuitGPT Capai 700 Ribu Pengguna Usai Donasi Brockman ke Trump

Sebarkan artikel ini
Protes Besar-Besaran! 700 Ribu Pengguna ChatGPT Boikot Platform Setelah Donasi ke Trump
Protes Besar-Besaran! 700 Ribu Pengguna ChatGPT Boikot Platform Setelah Donasi ke Trump

Media90 – OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, kini tengah berada di bawah tekanan besar. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa salah satu pendirinya, Greg Brockman, bersama istrinya, Anna, menyumbangkan dana sebesar US$25 juta (sekitar Rp419 miliar) untuk mendukung Presiden AS Donald Trump dan super PAC “MAGA Inc.”, sebagaimana dilaporkan The Verge.

Temuan ini memicu gerakan boikot masif terhadap ChatGPT yang dikenal dengan tagar #QuitGPT. Brockman menambah daftar panjang bos teknologi yang terlihat mendukung Trump, menyusul nama-nama besar seperti Jeff Bezos (Amazon), Mark Zuckerberg (Meta), dan Zhang Yiming (TikTok).

Tuduhan Kolaborasi dengan ICE

Publik tidak hanya marah atas donasi politik. OpenAI juga dituding terlibat dalam operasi pemerintah yang kontroversial. Aktivis melaporkan bahwa U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) menggunakan teknologi GPT-4 untuk menyaring résumé dalam operasi deportasi massal.

Baca Juga:  Momen Unik di KTT APEC: Xi Jinping Hadiahi Xiaomi 15 Ultra ke Presiden Korea Selatan, Candaan Soal “Backdoor” Jadi Sorotan

Sejarawan dan pendiri The School of Moral Ambition, Rutger Bergman, mendorong masyarakat untuk melakukan boikot. Dalam video LinkedIn, ia menyatakan,
“Cara paling berdampak untuk melawan kebijakan deportasi Trump adalah dengan membatalkan akun ChatGPT Anda.”

Bergman juga menyoroti penurunan pangsa pasar OpenAI dari 87% menjadi 65% dalam setahun terakhir, menunjukkan bahwa pengguna mulai beralih ke alternatif seperti Claude, Gemini, atau model open-source lainnya.

Momentum Gerakan #QuitGPT

Gelombang boikot #QuitGPT mulai terlihat sejak akhir Januari. Platform diskusi seperti Reddit dibanjiri kesaksian pengguna yang memutus langganan mereka. Alasan beragam, mulai dari kekecewaan terhadap performa GPT-5.2 hingga protes atas kedekatan OpenAI dengan lingkaran kekuasaan Trump.

Baca Juga:  Insiden Penembakan pada Mantan Presiden AS Donald Trump Selama Kampanye Politik

Alfred Stephen, pengembang software asal Singapura, menjadi salah satu wajah eksodus ini. Ia membatalkan langganan ChatGPT Plus seharga US$20 per bulan tepat setelah kabar donasi Brockman mencuat. Alasan yang dicatatnya dalam survei pembatalan cukup tegas: “Jangan mendukung rezim fasis.”

Hingga kini, gerakan QuitGPT telah mengonsolidasikan lebih dari 700.000 orang melalui situs resmi mereka. Meski demikian, OpenAI masih memiliki benteng pertahanan kuat dengan catatan hampir 900 juta pengguna aktif mingguan pada akhir 2025.

Tekanan Internal dan Aliansi Anti-AI

Resistensi terhadap OpenAI juga muncul dari dalam industri teknologi. Sejumlah pekerja Silicon Valley menuntut perusahaan mereka memutus kerja sama dengan ICE. Memo internal menunjukkan ketegangan di level eksekutif: CEO OpenAI Sam Altman menyebut tindakan ICE “bertindak terlalu jauh”, sementara CEO Apple Tim Cook menyerukan langkah “deeskalasi”.

Gerakan QuitGPT kini menjadi bagian dari gelombang protes lebih luas bertajuk “Resist and Unsubscribe”, yang mendorong masyarakat membatalkan langganan berbagai platform Big Tech sepanjang Februari sebagai bentuk protes terhadap dominasi politik tertentu.

Baca Juga:  OpenAI Membuka Akses Lebih Luas untuk Pengguna Gratis: ChatGPT Kini Hadirkan Fitur Premium

Sosiolog Dana Fisher dari American University menekankan bahwa efektivitas gerakan ini tergantung pada partisipasi massa. Pembatalan langganan jarang mengubah kebijakan perusahaan kecuali jika skala aksi benar-benar mengganggu arus kas.

Sementara itu, pakar media David Karpf dari George Washington University memandang kontroversi donasi Brockman sebagai momentum lahirnya gerakan sosial jangka panjang. Ia memprediksi publik akan semakin selektif dan menolak dominasi Big Tech yang terlalu masuk ke ranah politik praktis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *