TEKNO

Bos Instagram Adam Mosseri: Main IG 16 Jam Sehari Belum Tentu Kecanduan

5
×

Bos Instagram Adam Mosseri: Main IG 16 Jam Sehari Belum Tentu Kecanduan

Sebarkan artikel ini
Wow! CEO Instagram Klaim Main IG 16 Jam Tak Bisa Disebut Kecanduan, Apa Alasannya?
Wow! CEO Instagram Klaim Main IG 16 Jam Tak Bisa Disebut Kecanduan, Apa Alasannya?

Media90 – Pernyataan mengejutkan datang dari bos Instagram, Adam Mosseri, dalam persidangan besar di Amerika Serikat yang menyita perhatian dunia. Kasus ini menjadi sorotan karena berkaitan dengan regulasi media sosial dan perlindungan pengguna di bawah umur, khususnya soal dampak kesehatan mental akibat penggunaan platform secara berlebihan.

Di hadapan pengadilan, Mosseri membela Instagram terkait tudingan bahwa platform ini merusak kesehatan mental anak muda secara sistematis. Ia menjelaskan bahwa durasi penggunaan media sosial yang sangat lama, bahkan hingga 16 jam sehari, tidak otomatis berarti seseorang mengalami kecanduan medis. Menurutnya, durasi layar bukan satu-satunya indikator untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental, karena faktor lain juga perlu diperhitungkan.

Pernyataan ini memicu reaksi beragam dari ahli hukum dan aktivis perlindungan anak, yang menilai durasi tersebut jelas melampaui kewajaran aktivitas harian manusia normal. Perdebatan pun berfokus pada perbedaan antara antusiasme penggunaan aplikasi dan gangguan perilaku yang memerlukan intervensi medis profesional.

Beda Antara Asyik Main dan Kecanduan Klinis

Dalam persidangan, Mosseri ditanya mengenai seorang remaja yang menghabiskan 16 jam sehari hanya untuk scrolling Instagram. Ia mengakui bahwa angka itu terlihat sebagai penggunaan bermasalah, tetapi menolak menyebutnya sebagai kecanduan.

Baca Juga:  Fitur Baru Terbaru! Sebentar Lagi, Kamu Bisa Nonaktifkan Tanda Pesan Terbaca di DM Instagram

Mosseri menekankan perlunya perspektif medis yang lebih dalam, dengan membedakan antara kecanduan klinis dan penggunaan bermasalah. Ia mengibaratkan hal ini seperti menonton serial Netflix maraton sampai larut malam. “Kita mungkin bilang kecanduan nonton Netflix, tapi itu berbeda dengan kecanduan klinis,” ujarnya. Selama fungsi hidup pengguna tidak terganggu, durasi lama hanyalah hal yang bersifat personal.

Tuduhan Bahwa Instagram Berbahaya untuk Anak Muda

Persidangan juga menyoroti tanggung jawab Instagram terhadap kesehatan mental penggunanya. Terungkap fakta bahwa banyak remaja merasa tertekan karena perundungan (bullying) dan fitur filter wajah yang menimbulkan standar kecantikan tidak realistis. Data menunjukkan ada pengguna yang mengirim lebih dari 300 laporan bullying, namun masalah tetap terjadi.

Baca Juga:  Transformasi Profesional: 4 Aksesori iPhone yang Mengangkat Konten Vlogging Kamu ke Level Berikutnya!

Fitur seperti filter wajah yang mengubah bentuk fisik drastis mendapat kritik karena dianggap meningkatkan tekanan psikologis bagi anak muda, terutama terkait citra tubuh dan kepercayaan diri.

Mosseri: “Saya Bukan Dokter”

Meski Instagram telah menghadirkan berbagai fitur untuk meminimalkan dampak negatif, Mosseri berulang kali menegaskan bahwa ia bukan ahli kesehatan atau spesialis kecanduan. Menentukan apakah seseorang kecanduan adalah ranah profesional, seperti dokter atau psikolog, bukan tugas bos teknologi. Penilaian batas wajar penggunaan sangat bergantung pada latar belakang individu, dan klasifikasi kecanduan membutuhkan indikator khusus dari tenaga medis.

Berapa Jam yang Sehat untuk Main Instagram?

Pernyataan Adam Mosseri menegaskan bahwa durasi penggunaan layar masih menjadi perdebatan panjang. Bagi perusahaan, durasi lama menunjukkan daya tarik aplikasi. Namun bagi orang tua dan ahli, hal tersebut dianggap potensi ancaman bagi mental generasi muda.

Baca Juga:  WhatsApp Sabet Fitur Baru: Filter Obrolan, Solusi Cepat Temukan Chat!

Persidangan masih berlanjut dan bisa menjadi dasar munculnya aturan baru, misalnya pembatasan waktu otomatis atau penghapusan filter tertentu. Sementara itu, pesan utama bagi pengguna adalah bijak mengatur waktu layar dan mengingat bahwa kehidupan nyata tetap lebih penting daripada sekadar angka di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *