Media90.id – Tim peneliti Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melakukan penelitian untuk memastikan keamanan daging ayam broiler yang beredar di sejumlah pasar tradisional Kota Bandar Lampung.
Penelitian ini secara khusus dilakukan untuk mendeteksi keberadaan bakteri zoonotik Salmonella sp. pada daging ayam broiler yang dijual kepada masyarakat.
Kajian tersebut dinilai penting mengingat daging ayam menjadi salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Produk tersebut juga memiliki risiko terkontaminasi bakteri apabila proses penanganan, penyimpanan, dan sanitasi tidak dilakukan dengan baik.
Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel daging ayam broiler dari sejumlah pasar tradisional di Kota Bandar Lampung pada Jumat (24/7/2026).
Tim peneliti menggunakan pendekatan One Health, yakni konsep yang memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.
Melalui pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya melihat keberadaan bakteri pada produk pangan, tetapi juga mempertimbangkan potensi risiko terhadap kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan rantai produksi dan distribusi pangan asal hewan.
Dalam penelitian ini, pengambilan sampel dilakukan secara purposif di lima pasar tradisional, yakni Pasar Gintung, Pasar Untung, Pasar Tempel Rajabasa, Pasar Tugu, dan Pasar Koga.
Sampel yang diperoleh kemudian dibawa ke laboratorium untuk menjalani pemeriksaan guna mengetahui ada atau tidaknya kontaminasi Salmonella sp.
Seluruh Sampel Negatif Salmonella
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan seluruh sampel daging ayam broiler yang diambil dari lima pasar tersebut dinyatakan negatif Salmonella sp.
Hasil ini menjadi kabar positif bagi masyarakat. Berdasarkan sampel dan waktu pemeriksaan yang dilakukan, daging ayam broiler yang beredar di lokasi penelitian tidak menunjukkan adanya kontaminasi bakteri Salmonella sp.
Meski demikian, tim peneliti mengingatkan hasil tersebut tidak berarti pengawasan terhadap keamanan daging ayam dapat dihentikan.
Temuan penelitian ini masih menjadi data awal atau baseline mengenai kondisi kontaminasi Salmonella sp. pada daging ayam broiler di sejumlah pasar tradisional Kota Bandar Lampung.
Kondisi keamanan pangan dapat berubah tergantung berbagai faktor, mulai dari waktu, proses distribusi, suhu penyimpanan, kebersihan peralatan, kondisi lingkungan pasar, hingga cara pedagang menangani daging sebelum sampai ke tangan konsumen.
Karena itu, penerapan higiene dan sanitasi tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas serta keamanan pangan asal hewan.
Upaya menjaga keamanan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pedagang, tetapi juga membutuhkan keterlibatan pengelola pasar dan pemerintah melalui instansi terkait.
Pedagang perlu memastikan daging ditangani menggunakan peralatan yang bersih, ditempatkan dalam kondisi penyimpanan yang sesuai, serta menghindari terjadinya kontaminasi silang selama proses penjualan.
Sementara itu, pengelola pasar dan instansi terkait juga memiliki peran dalam memastikan lingkungan pasar tetap bersih dan memenuhi standar sanitasi.
Gunakan Pendekatan One Health
Penggunaan pendekatan One Health menjadi salah satu aspek penting dalam penelitian tersebut. Pasalnya, keberadaan bakteri zoonotik tidak dapat dilihat hanya dari sisi produk pangan.
Bakteri seperti Salmonella dapat berkaitan dengan kesehatan hewan, lingkungan tempat pengolahan dan perdagangan, hingga kesehatan manusia sebagai konsumen.
Karena itu, pemantauan secara berkelanjutan diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi keamanan pangan secara lebih menyeluruh.
Penelitian ini diketuai drh. Luh Putu Nadya Santika, M.Sc., dengan anggota tim drh. Mettarani Dymia Euis Pefdini, M.Sc., dan Madiyan Sugesti, S.Pt., M.Pt.
Tim peneliti berharap hasil penelitian tersebut dapat memberikan informasi ilmiah mengenai kondisi keamanan daging ayam broiler yang beredar di pasar tradisional Kota Bandar Lampung.
Hasil penelitian juga diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi para pemangku kepentingan dalam meningkatkan pengawasan keamanan pangan, khususnya produk pangan asal hewan.
Selain itu, data tersebut diharapkan dapat mendukung penyusunan kebijakan terkait perlindungan kesehatan masyarakat sekaligus mendorong peningkatan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya penerapan higiene dan sanitasi.
Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan terkait pemantauan kontaminasi bakteri zoonotik pada produk pangan asal hewan.
Dengan pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan, keamanan pangan di Kota Bandar Lampung diharapkan semakin terjaga dan mampu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat sebagai konsumen.














