BERITA

Unila Kenalkan IoT dan Biokonversi Maggot untuk Modernisasi Budidaya Jamur di Pringsewu

Luluk RJMP
7
×

Unila Kenalkan IoT dan Biokonversi Maggot untuk Modernisasi Budidaya Jamur di Pringsewu

Sebarkan artikel ini
Budidaya Jamur di Pringsewu Makin Modern Unila Dorong Pemanfaatan IoT dan Maggot BSF

Media90.id – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Lampung (Unila) menghadirkan inovasi teknologi untuk mendukung pengembangan usaha budidaya jamur pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Pangan Lestari di Kabupaten Pringsewu, Lampung.

Inovasi yang diterapkan meliputi sistem monitoring suhu dan kelembaban kumbung berbasis Internet of Things (IoT), sistem penyiraman otomatis, serta pemanfaatan limbah log jamur melalui proses biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF).

Ads
close ads

Program tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026.

Program ini diarahkan untuk membantu KWT Pangan Lestari melakukan transformasi budidaya jamur dari sistem konvensional menuju pola produksi yang lebih efisien, berbasis data, dan berkelanjutan.

KWT Pangan Lestari merupakan kelompok produktif yang bergerak dalam budidaya jamur tiram putih. Kelompok tersebut telah menjalankan usaha sejak 2019 dan saat ini mengelola sekitar 1.000 log jamur.

Dalam kondisi awal, produksi jamur berada pada kisaran 8-10 kilogram per hari. Namun, pengelolaan suhu dan kelembaban kumbung masih dilakukan secara manual berdasarkan pengalaman anggota sehingga kondisi lingkungan tumbuh belum dapat dipantau secara terukur.

Selain persoalan pengelolaan lingkungan kumbung, kelompok tersebut juga menghadapi masalah limbah log jamur pascapanen. Limbah sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian masih dibakar atau ditimbun.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus membuat sumber daya yang masih memiliki potensi ekonomi belum termanfaatkan.

Budidaya Jamur Mulai Berbasis IoT

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim Unila menerapkan teknologi monitoring suhu dan kelembaban berbasis IoT yang dipadukan dengan sistem penyiraman otomatis.

Teknologi ini memungkinkan kondisi lingkungan kumbung dipantau secara lebih terukur. Dengan demikian, anggota kelompok dapat menggunakan data suhu dan kelembaban sebagai dasar dalam menentukan tindakan pengelolaan budidaya.

Sistem penyiraman otomatis juga dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap proses penyiraman manual.

Sebelumnya, penyiraman dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam sehari dan frekuensinya dapat meningkat ketika musim kemarau. Dengan otomatisasi, pengelolaan kumbung diharapkan menjadi lebih efisien sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan tumbuh jamur secara lebih konsisten.

Tidak hanya mengembangkan digitalisasi budidaya, tim Unila juga memperkenalkan pengelolaan limbah log jamur melalui proses biokonversi menggunakan maggot BSF.

Limbah log jamur dimanfaatkan kembali sebagai bahan dalam proses biokonversi sehingga berpotensi menghasilkan produk berupa pupuk organik bekas maggot atau kasgot serta maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak alternatif.

Integrasi teknologi IoT dan pemanfaatan limbah tersebut menjadi bagian dari penerapan konsep circular economy dalam usaha budidaya jamur.

Melalui pendekatan ini, kegiatan produksi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga mengurangi limbah sekaligus menciptakan potensi nilai tambah dari sisa hasil produksi.

Kolaborasi Lintas Keilmuan

Program pengabdian tersebut diketuai Nadia Maharani, S.Pt., M.Si., dosen Program Studi Peternakan Universitas Lampung.

Dalam pelaksanaannya, Nadia berkolaborasi dengan Rizkima Akbar Setiawan, S.T., M.T., dosen bidang Teknik Informatika Universitas Lampung, serta Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si.

Kolaborasi lintas bidang tersebut mengintegrasikan kompetensi peternakan, agribisnis, teknologi informasi, serta teknologi tepat guna untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari dua bidang keilmuan. Dari Teknik Informatika, mahasiswa yang terlibat yakni Bagas Pangestu dan Elthon Jhon Kevin.

Sementara dari bidang Peternakan terdapat Daffa Fauzan Kamilo dan Muhammad Nur Irwansyah.

Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman langsung dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat. Mahasiswa Teknik Informatika berperan dalam aspek teknologi, khususnya penerapan dan pengoperasian sistem berbasis IoT.

Sementara itu, mahasiswa Peternakan terlibat dalam pendampingan budidaya, pengelolaan limbah, serta penerapan biokonversi maggot BSF.

Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, hingga pendampingan dan evaluasi.

Pelatihan dilaksanakan dengan mengombinasikan penyampaian materi dan praktik langsung agar anggota KWT dapat memahami teknologi yang diterapkan sekaligus memperoleh keterampilan dalam pengoperasian dan pemeliharaannya.

Ketua tim pengabdian, Nadia Maharani, mengatakan penerapan teknologi dalam program tersebut dirancang agar mudah digunakan dan sesuai dengan kondisi kelompok masyarakat.

“Melalui penerapan IoT, anggota KWT dapat memantau suhu dan kelembaban kumbung secara lebih terukur sehingga pengelolaan budidaya tidak hanya bergantung pada perkiraan. Pada saat yang sama, limbah log jamur yang sebelumnya belum dimanfaatkan dapat diolah melalui biokonversi maggot BSF sehingga memiliki nilai guna dan potensi nilai ekonomi,” jelas Nadia.

Rizkima Akbar Setiawan menambahkan, penerapan teknologi digital pada usaha masyarakat tidak harus selalu menggunakan sistem yang kompleks.

Menurutnya, teknologi tepat guna justru perlu dirancang sesuai kebutuhan dan kemampuan pengguna agar dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“Teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang canggih, tetapi teknologi yang dapat digunakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sistem IoT yang diterapkan pada program ini dirancang agar sederhana dan dapat membantu anggota KWT memperoleh informasi kondisi kumbung dengan lebih mudah,” jelas Rizkima.

Diharapkan Bisa Direplikasi

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam program pengabdian tersebut. Bagas Pangestu dan Elthon Jhon Kevin dari Teknik Informatika mendapatkan pengalaman dalam mengimplementasikan teknologi digital secara langsung di lingkungan masyarakat.

Sementara itu, Daffa Fauzan Kamilo dan Muhammad Nur Irwansyah dari Peternakan memperoleh pengalaman dalam pendampingan kegiatan budidaya dan penerapan inovasi pengelolaan limbah.

Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada tahap pemasangan teknologi. KWT Pangan Lestari diarahkan agar mampu mengoperasikan dan mengembangkan sistem secara mandiri serta menerapkan model budidaya jamur yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan tersebut, Universitas Lampung terus mendorong hilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi agar hasil pengembangan akademik dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Integrasi IoT, otomatisasi budidaya, dan biokonversi limbah menggunakan maggot BSF diharapkan dapat menjadi salah satu model pengembangan usaha jamur berbasis circular economy yang dapat diterapkan oleh kelompok masyarakat lainnya di Pringsewu maupun daerah lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *