NASIONAL

Apa Itu IGRS Komdigi? Ini Penjelasan Sistem Rating Game yang Sedang Viral

9
×

Apa Itu IGRS Komdigi? Ini Penjelasan Sistem Rating Game yang Sedang Viral

Sebarkan artikel ini
Apa Itu IGRS Komdigi? Ini Penjelasan Sistem Rating Game yang Viral
Apa Itu IGRS Komdigi? Ini Penjelasan Sistem Rating Game yang Viral

Media90 – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus memperkuat sistem klasifikasi permainan digital. Sistem ini dikenal sebagai Indonesia Game Rating System atau IGRS.

IGRS menjadi instrumen penting dalam tata kelola konten digital nasional. Tujuannya adalah memberikan informasi yang akurat mengenai isi sebuah gim kepada masyarakat, sehingga pengguna dapat memahami kecocokan konten sebelum memainkannya. Fokus utamanya adalah perlindungan anak di ruang digital sekaligus menjadi panduan bagi orang tua dalam mengawasi konsumsi hiburan.

Ads
close ads

Latar Belakang dan Regulasi

IGRS pertama kali diperkenalkan melalui regulasi pada 2016, sebagai implementasi dari aturan klasifikasi permainan interaktif elektronik. Sistem ini kemudian diperkuat kembali oleh pemerintah dalam ajang Indonesia Game Developer Exchange pada Oktober 2025.

Penguatan tersebut merujuk pada kebijakan terbaru yang menekankan tata kelola sistem elektronik berbasis risiko. Aspek privasi, keamanan data, dan literasi digital menjadi fondasi utama dalam pengembangan IGRS. Dengan sistem ini, Indonesia juga berupaya menjadi pelopor klasifikasi gim di kawasan regional.

Kategori Usia dan Penilaian Konten

IGRS membagi klasifikasi usia pemain menjadi lima kategori, yaitu:

  • Semua umur
  • 3+
  • 7+
  • 13+
  • 18+

Penilaian dilakukan berdasarkan berbagai aspek konten dalam gim. Beberapa faktor utama yang diperhatikan meliputi unsur kekerasan, penggunaan bahasa, konten seksual, tema horor, hingga simulasi perjudian.

Setiap gim wajib mencantumkan label usia sesuai hasil penilaian tersebut agar konsumen dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum memainkan atau membelinya.

Dukungan untuk Pengembang Lokal

Komdigi juga memberikan kemudahan bagi pelaku industri gim nasional. Layanan klasifikasi IGRS dapat diakses secara gratis oleh pengembang dalam negeri.

Menurut Meutya Hafid, kebijakan ini dirancang untuk mendukung pertumbuhan ekosistem digital sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global. Dengan standar klasifikasi yang jelas, kepercayaan konsumen terhadap gim buatan Indonesia diharapkan semakin meningkat.

Polemik di Platform Steam

Belakangan, IGRS menjadi sorotan publik setelah muncul ketidaksesuaian label usia pada platform distribusi gim global Steam.

Sejumlah pengguna menemukan gim dengan konten ringan justru diberi label 18+. Hal ini memicu perdebatan terkait akurasi data dan sinkronisasi antara sistem pemerintah dengan platform pihak ketiga.

Klarifikasi Pemerintah

Menanggapi polemik tersebut, Komdigi menegaskan bahwa label yang muncul di Steam bukan merupakan hasil klasifikasi resmi IGRS.

Menurut Sonny Hendra Sudaryana, sistem rating di Steam menggunakan mekanisme self-declare atau deklarasi mandiri oleh pengembang maupun platform. Artinya, data tersebut tidak melalui proses verifikasi pemerintah Indonesia.

Dengan demikian, label tersebut tidak bisa dijadikan acuan resmi dalam menentukan batas usia pengguna.

Risiko dan Dampak bagi Masyarakat

Ketidakakuratan klasifikasi usia berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Orang tua bisa saja salah menilai kelayakan suatu gim untuk anak-anak mereka.

Pemerintah menilai praktik klasifikasi mandiri tanpa verifikasi sebagai masalah serius dalam literasi digital. Jika tidak dikontrol, hal ini dapat melemahkan tujuan utama perlindungan pengguna di ruang digital.

Upaya Sinkronisasi dan Edukasi Publik

Komdigi kini terus memperketat pengawasan terhadap platform digital global agar lebih selaras dengan regulasi nasional. Masyarakat juga diimbau untuk tidak langsung mempercayai label usia di platform internasional tanpa verifikasi.

Sebagai acuan utama, pengguna disarankan merujuk pada basis data resmi IGRS yang dikelola pemerintah.

Sinergi antara pemerintah, pengembang, dan platform distribusi menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem digital yang aman, informatif, dan sesuai dengan nilai budaya Indonesia.

Tinggalkan Balasan