Media90 – Sektor pariwisata di wilayah Lampung sepanjang tahun 2025 terus menunjukkan geliat positif, baik dari sisi pergerakan wisatawan maupun nilai ekonominya. Data perjalanan mencatat, sepanjang tahun tersebut jumlah pergerakan wisatawan mencapai 24,70 juta perjalanan, menandakan kuatnya mobilitas wisata di Provinsi Lampung.
Kota Bandar Lampung masih menjadi pusat destinasi dengan kontribusi 20,62 persen, disusul Kabupaten Lampung Selatan 13,88 persen, dan Lampung Tengah 12,25 persen. Pola ini memperlihatkan bahwa kawasan perkotaan dan wilayah penyangga masih menjadi pusat aktivitas wisata.
Lonjakan Ekonomi Pariwisata
Pertumbuhan kunjungan wisatawan turut mendorong lonjakan perputaran ekonomi sektor pariwisata dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2023, nilai ekonomi sektor ini tercatat sebesar Rp16,26 triliun, meningkat menjadi Rp30,39 triliun pada 2024, dan kembali naik hingga Rp53,11 triliun pada tahun 2025.
Peningkatan ini tidak hanya bersumber dari bertambahnya volume perjalanan, tetapi juga dari meningkatnya rata-rata pengeluaran per wisatawan, yang pada 2025 mencapai sekitar Rp2,15 juta.
Industri Hotel Belum Pulih Optimal
Di tengah pertumbuhan ekonomi wisata, kinerja industri perhotelan justru belum menunjukkan pemulihan yang sepadan. Sepanjang 2025, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Lampung hanya mencapai 48,93 persen, sementara hotel non-bintang lebih rendah lagi, yakni 25,60 persen.
Situasi ini menunjukkan bahwa aktivitas wisata masih didominasi perjalanan singkat, sehingga belum memberikan dorongan signifikan terhadap lama tinggal wisatawan.
Padahal dari sisi kapasitas, industri akomodasi di Lampung terus bertambah. Saat ini tercatat:
-
49 hotel berbintang
-
4.572 kamar
-
7.009 tempat tidur
-
-
495 hotel non-bintang
-
12.245 kamar
-
16.698 tempat tidur
-
Besarnya kapasitas ini memperlihatkan tantangan serius dalam menciptakan keseimbangan antara suplai akomodasi dan permintaan efektif.
Kunjungan Tinggi, Tinggal Rendah
Indikator pendukung wisata di Lampung juga mengalami peningkatan signifikan. Jumlah destinasi wisata naik dari 557 lokasi (2022) menjadi 627 lokasi (2025). Restoran dan rumah makan bertambah dari 1.975 unit menjadi 2.511 unit dalam periode yang sama.
Fasilitas hiburan seperti bioskop, karaoke, pusat olahraga, hingga arena rekreasi juga terus berkembang.
Namun kondisi tersebut belum secara otomatis menaikkan tingkat hunian hotel. Rata-rata lama menginap wisatawan di Lampung hanya sekitar 1,29 hari, menguatkan fakta bahwa Lampung masih lebih sering menjadi wilayah transit, bukan destinasi utama untuk berlibur dalam durasi panjang.
Sejalan dengan Tren Nasional
Persoalan lemahnya okupansi hotel bukan hanya terjadi di Lampung, tetapi juga tercatat sebagai fenomena nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sepanjang 2025 tingkat hunian kamar hotel secara agregat masih berada pada level rendah.
Bahkan pada segmen hotel kelas atas, tekanan terlihat lebih kuat. Pada November 2025, TPK hotel bintang lima nasional hanya mencapai 56,30 persen, turun secara tahunan dan menjadi kelompok dengan koreksi terdalam dibandingkan klasifikasi hotel lainnya. Kondisi ini menunjukkan melemahnya permintaan wisatawan berdaya beli tinggi serta semakin selektifnya pola perjalanan.
Persaingan Destinasi Semakin Ketat
Tekanan terhadap okupansi juga terlihat pada momentum libur panjang. PHRI Lampung mencatat tingkat hunian kamar selama libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026 mengalami penurunan sekitar 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini menandakan adanya perubahan perilaku wisatawan sekaligus indikasi kompetisi yang semakin ketat antar destinasi.
Tantangan Struktural dan Agenda Perbaikan
Kondisi rendahnya tingkat hunian kamar hotel sepanjang tahun 2025 menjadi sinyal bahwa persoalan perhotelan di Lampung bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan persoalan struktural.
Lampung masih memiliki daya tarik sebagai tujuan perjalanan, tetapi belum cukup kuat dalam hal:
-
penciptaan pengalaman wisata
-
pengembangan destinasi tematik
-
penyelenggaraan event berskala besar
-
integrasi dengan ekonomi kreatif dan budaya lokal
Ke depan, strategi pengembangan pariwisata perlu diarahkan pada peningkatan lama tinggal wisatawan (length of stay) melalui:
✔ penguatan destinasi unggulan
✔ event dan festival berbasis pengalaman
✔ pengemasan produk wisata kreatif
✔ kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas
Dengan langkah tersebut, Lampung berpotensi memperbaiki tingkat hunian hotel, meningkatkan nilai tambah ekonomi, serta menjadikan pariwisata sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.














