Media90 – Rahmat Mirzani Djausal bersama Pemerintah Provinsi Lampung (Pemprov Lampung) berkomitmen memperkuat sinergi dengan petani dan pelaku industri guna menjaga keberlanjutan ekosistem ubi kayu atau singkong di wilayah Lampung.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan sektor pertanian dan industri pengolahan singkong dapat berkembang secara seimbang serta memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.
Fokus Menata Tata Kelola Industri Tapioka
Menurut Gubernur Lampung, selama satu tahun masa kepemimpinannya, Pemprov Lampung fokus melakukan akselerasi dan sinkronisasi langkah seluruh pemangku kepentingan. Langkah ini dilakukan untuk menata kembali tata kelola industri tapioka agar lebih berkeadilan.
“Selama satu tahun ini, kami terus belajar dan bekerja keras untuk menyatukan langkah dalam menjaga, mendesain, serta menstabilkan ekosistem ubi kayu di Lampung,” ujar Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri acara silaturahmi bersama pengusaha industri tapioka nasional di Hotel Santika Lampung pada Rabu (11/3/2026).
Lampung Pusat Industri Tapioka Nasional
Gubernur menjelaskan bahwa Lampung memiliki peran penting dalam mendukung kedaulatan pangan dan industri nasional. Saat ini, sekitar 70 persen industri tapioka nasional terpusat di provinsi tersebut.
Besarnya potensi tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan regulasi yang tepat agar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan industri.
“Lampung adalah daerah yang sangat kaya. Namun kekayaan itu harus diatur dengan baik agar benar-benar menjadi kemakmuran bagi rakyat sekaligus memberikan pertumbuhan yang sehat bagi dunia usaha,” jelasnya.
Kebijakan Harga untuk Menjaga Keseimbangan
Sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat, Pemprov Lampung telah melakukan penataan kebijakan melalui penetapan harga singkong yang diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub). Kebijakan ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keberlangsungan operasional industri pengolahan.
Pemerintah daerah juga mengapresiasi pelaku industri tapioka yang dinilai kooperatif dalam mendukung kebijakan tersebut. Menurut gubernur, kebangkitan sektor pertanian hanya dapat tercapai jika terdapat keselarasan antara tiga pilar utama, yakni dunia usaha (industri), masyarakat (petani), dan pemerintah sebagai regulator.
Optimalisasi Cassava Center
Selain kebijakan harga, Pemprov Lampung juga mendorong peningkatan produktivitas melalui optimalisasi Cassava Center. Pusat riset ini diproyeksikan menjadi hub pengembangan bibit unggul dan metode budidaya modern.
Pengembangan Cassava Center akan melibatkan akademisi, peneliti, serta praktisi industri untuk menciptakan inovasi yang dapat meningkatkan kualitas dan hasil panen singkong di Lampung.
Dengan langkah-langkah tersebut, Pemprov Lampung berharap ekosistem singkong dapat berkembang secara berkelanjutan, memberikan kesejahteraan bagi petani, serta memastikan industri tapioka tetap tumbuh dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global.














