BERITA

Tekan Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas, Warga Bakal Kembangkan Sere hingga Budidaya Lebah

Luluk RJMP
4
×

Tekan Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas, Warga Bakal Kembangkan Sere hingga Budidaya Lebah

Sebarkan artikel ini
Warga Sekitar Way Kambas Didorong Tanam Sere dan Budidaya Magot untuk Cegah Konflik Gajah

Media90.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama sejumlah pihak terkait terus berupaya menekan konflik antara gajah dan manusia yang terjadi di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.

Berbagai pendekatan mulai dilakukan, tidak hanya dengan mencegah gajah masuk ke lahan masyarakat, tetapi juga menyediakan alternatif usaha bagi warga agar tetap dapat memperoleh penghasilan tanpa harus berhadapan langsung dengan satwa liar tersebut.

Ads
close ads

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera di TNWK, Brigjen Sriyanto mengatakan, sekitar 900 kotak lebah yang sebelumnya diberikan kepada masyarakat kini telah menghasilkan panen.

Bahkan, jumlah koloni lebah tersebut mulai bertambah melalui proses pemecahan koloni.

“Sekarang sudah mulai pemecahan koloni, jadi kalau kemarin kami lihat semua kotak yang diserahkan, maka pekan depan mungkin sudah menjadi 1.500 kotak lebah,” kata Brigjen Sriyanto di TNWK, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, budidaya lebah tersebut nantinya akan dikelola masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dengan pengelolaan tersebut, manfaat ekonomi dari kegiatan budidaya diharapkan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar kawasan TNWK.

Selain lebah, masyarakat juga mulai mengembangkan tanaman serai sebagai salah satu alternatif usaha.

Serai Akan Diolah Menjadi Minyak Atsiri

Sriyanto mengatakan, pengembangan tanaman serai masih menghadapi sejumlah kendala, terutama akibat kondisi cuaca.

Meski demikian, tanaman yang masih memungkinkan untuk dikembangkan akan terus dirawat, sementara penanaman berikutnya akan dilakukan ketika kondisi cuaca lebih mendukung.

“Serai pun sangat bermanfaat, karena kami sudah memesan mesin untuk penyulingan serai. Hasil penyulingan, nantinya berupa minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk, seperti sabun, pengharum hingga aromaterapi,” ujar Sriyanto.

Menurutnya, pengembangan lebah dan serai merupakan bagian dari strategi untuk memberikan sumber pendapatan alternatif kepada masyarakat.

Dengan pola tersebut, upaya meredam konflik gajah dan manusia tidak hanya berfokus pada bagaimana menjauhkan gajah dari lahan warga.

Masyarakat juga diberikan pilihan usaha yang dapat menghasilkan secara ekonomi tanpa harus berhadapan langsung dengan gajah.

Mahot TNWK Dilatih ke Thailand

Upaya mitigasi juga menyasar manusia yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan gajah.

Balai TNWK mulai mengirimkan mahot atau pawang gajah untuk mengikuti pelatihan di Elephant Nature Park (ENP), Thailand.

Kepala Balai TNWK Lampung Timur, MHD Zaidi mengatakan, pelatihan tersebut menjadi bagian dari perubahan pendekatan dalam menangani dan merawat gajah.

“Ke depan kami akan berusaha tidak ada lagi gajah yang dirantai. Jadi model pendekatan antara pawang dengan gajah nanti akan berubah,” sebut Zaidi.

Pelatihan dilakukan secara bertahap. Setelah mahot yang saat ini mengikuti pelatihan kembali ke Way Kambas, TNWK Lampung Timur berencana mengirimkan peserta berikutnya untuk mengikuti program serupa.

Selain mengirimkan mahot ke Thailand, TNWK juga berharap pelatih dari negara tersebut dapat datang langsung ke Way Kambas.

Kehadiran pelatih dari Thailand diharapkan dapat memberikan pelatihan secara langsung kepada para mahot di lapangan sehingga perubahan pendekatan terhadap gajah dapat diterapkan secara lebih efektif.

Siapkan Perlindungan Fisik

Selain pendekatan berbasis ekonomi masyarakat melalui budidaya lebah dan serai serta perubahan pola interaksi melalui pelatihan mahot, TNWK Lampung Timur juga menyiapkan perlindungan fisik.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi yang lebih menyeluruh untuk mengurangi potensi interaksi negatif antara gajah dan masyarakat.

Dengan berbagai langkah tersebut, penanganan konflik gajah-manusia di sekitar TNWK diharapkan tidak hanya bersifat responsif ketika konflik terjadi.

Pendekatan yang dilakukan diarahkan untuk membangun sistem mitigasi yang melibatkan masyarakat, memperkuat kapasitas mahot, serta menyediakan perlindungan bagi lahan dan permukiman warga.

Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan kondisi yang lebih aman bagi masyarakat sekaligus menjaga keberadaan gajah Sumatera di kawasan TNWK.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *