Media90 – Perusahaan infrastruktur pusat data terkemuka di kawasan Asia Pasifik, Digital Edge, resmi mengumumkan komitmen investasi senilai US$4,5 miliar atau sekitar Rp75,5 triliun untuk membangun fasilitas pusat data hyperscale berbasis kecerdasan buatan (AI) di Bekasi, Jawa Barat. Proyek strategis ini diberi nama CGK Campus dan akan berlokasi di GIIC Industrial Estate, sekaligus menjadi investasi infrastruktur terbesar yang pernah dilakukan Digital Edge.
CGK Campus diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung utama pengembangan ekonomi digital Indonesia di masa depan. Proyek ini dirancang untuk menjawab lonjakan kebutuhan kapasitas data yang didorong oleh pertumbuhan layanan cloud, adopsi AI lintas sektor industri, serta pesatnya ekspansi ekonomi digital nasional.
Pada tahap awal, CGK Campus akan memiliki kapasitas daya hingga 500 megawatt (MW) dengan potensi ekspansi mencapai 1 gigawatt (GW). Dengan skala tersebut, fasilitas ini tidak hanya menjadi kampus pusat data terbesar milik Digital Edge, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam ekosistem infrastruktur digital global.
Fondasi Digital untuk Masa Depan AI
Pembangunan CGK Campus akan dilakukan secara bertahap guna memastikan keandalan dan kualitas operasional. Gedung pertama ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026, diikuti gedung kedua pada kuartal I-2027, dan gedung ketiga pada kuartal II-2027.
Pemilihan Bekasi sebagai lokasi dinilai strategis karena berjarak kurang dari 15 kilometer dari klaster pusat data utama lainnya serta sekitar 40 kilometer dari fasilitas Digital Edge sebelumnya, EDGE1 dan EDGE2 di Jakarta. Kedekatan ini memungkinkan konektivitas berlatensi rendah ke pusat bisnis dan ekonomi nasional.
CEO Digital Edge, John Freeman, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari visi jangka panjang perusahaan di kawasan Asia Pasifik. Dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 29 Januari 2026, ia menyatakan bahwa CGK Campus menjadi tonggak penting dalam strategi ekspansi perusahaan.
“CGK Campus adalah investasi infrastruktur terbesar yang pernah kami lakukan. Proyek ini akan memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi lonjakan permintaan layanan digital, cloud, dan AI di tahun-tahun mendatang,” ujar Freeman.
Efisiensi Energi dan Teknologi Berkelanjutan
Selain mengandalkan kapasitas daya besar, CGK Campus juga dirancang dengan standar efisiensi energi tinggi. Digital Edge menargetkan annualized Power Usage Effectiveness (PUE) sebesar 1,25, menjadikannya salah satu fasilitas hyperscale paling efisien di kelasnya.
Untuk mendukung beban kerja AI yang menghasilkan panas tinggi, Digital Edge mengadopsi teknologi direct-to-chip liquid cooling. Fasilitas ini juga akan dilengkapi dengan sistem daur ulang air serta integrasi energi terbarukan sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan lingkungan.
CEO Digital Edge Indonesia, Stephanus Oscar, menyoroti kesenjangan antara pesatnya pertumbuhan ekonomi digital dan keterbatasan infrastruktur saat ini. Menurutnya, CGK Campus hadir sebagai solusi strategis bagi kebutuhan industri.
“Ekonomi digital Indonesia berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kapabilitas infrastruktur yang tersedia. CGK Campus menawarkan kapasitas 500 MW yang berkelanjutan dan siap mendukung deployment hyperscale serta AI dalam skala besar,” jelas Oscar.
Dukungan Konektivitas Indonet
Keandalan operasional CGK Campus juga diperkuat oleh integrasi infrastruktur jaringan dari anak usaha Digital Edge di Indonesia, PT Indointernet Tbk (EDGE) atau Indonet. Jaringan serat optik Indonet akan menjadi fondasi utama konektivitas kampus dengan sistem jalur bawah tanah guna meningkatkan ketahanan jaringan.
Indonet sebelumnya dilaporkan telah menyuntikkan modal sebesar Rp283 miliar ke dua anak usahanya, EDGE1 dan EDGE2, untuk mendukung belanja modal infrastruktur tersebut.
CEO Indonet, Andy Rigoli, menegaskan bahwa integrasi jaringan ini krusial untuk memenuhi kebutuhan pelanggan hyperscale dan enterprise. Seluruh rute baru menuju GIIC dibangun sepenuhnya di bawah tanah dan dilengkapi perangkat berstandar tinggi serta sistem pemantauan canggih.
“Integrasi ini memastikan solusi carrier-neutral yang andal, fleksibel, dan siap mendukung kebutuhan hyperscale maupun enterprise,” ujar Rigoli.
Dengan kombinasi investasi besar, teknologi pendingin mutakhir, serta konektivitas serat optik yang kuat, CGK Campus diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai hub pusat data berbasis AI yang kompetitif di tingkat internasional.














