Media90 – Harga emas (XAU/USD) global kembali menguat pada awal perdagangan pekan ini, menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia.
Setelah sempat tertekan dan menyentuh level terendah empat hari pada akhir pekan lalu, logam mulia ini berbalik arah dan melonjak lebih dari 1,50% pada hari Senin (19/1). Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran $4.672 per troy ounce, tidak jauh dari level psikologis $4.700, setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi baru. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang kembali memanas.
Berdasarkan analisa teknikal dari Dupoin Futures, Andy Nugraha menilai bahwa pergerakan emas masih berada dalam jalur yang konstruktif. Indikasi teknikal dari formasi candlestick serta arah indikator Moving Average menunjukkan tren bullish yang semakin solid. Harga emas mampu bertahan di atas area support kunci, mencerminkan dominasi minat beli yang kuat dan minimnya tekanan jual signifikan, meskipun harga berada di level relatif tinggi.
Dalam outlook jangka pendek, Andy memproyeksikan bahwa selama sentimen pasar tetap didominasi oleh sikap waspada terhadap risiko global, emas masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatannya. Jika dorongan bullish terjaga, logam mulia ini berpeluang mengarah ke area $4.750 sebagai target kenaikan berikutnya. Area tersebut dianggap sebagai level teknikal penting yang dapat menarik harga jika aliran dana ke aset safe-haven berlanjut.
Meski demikian, Andy juga mengingatkan bahwa pergerakan di dekat puncak historis kerap diiringi volatilitas tinggi. Jika terjadi aksi ambil untung dan harga gagal mempertahankan momentum, zona $4.565 diperkirakan menjadi area penopang terdekat yang perlu dicermati oleh pelaku pasar.
Dari sisi fundamental, reli emas kali ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan perdagangan global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana pengenaan tarif terhadap delapan negara Eropa yang menentang akuisisi Greenland oleh AS. Negara-negara tersebut meliputi Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Finlandia, Belanda, dan Inggris. Tarif awal sebesar 10% akan diberlakukan mulai awal Februari, dan berpotensi naik hingga 25% pada pertengahan tahun jika tidak tercapai kesepakatan.
Langkah ini memicu kekhawatiran pasar akan terjadinya perang dagang yang lebih luas, terlebih Uni Eropa tengah menyiapkan opsi balasan berupa tarif bernilai puluhan miliar euro terhadap impor AS. Di tengah kondisi tersebut, emas kembali mendapat sorotan sebagai instrumen perlindungan nilai. Ketidakpastian kebijakan perdagangan, ditambah dinamika geopolitik yang belum mereda, mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Kebijakan moneter Amerika Serikat juga memengaruhi arah harga emas. Meski sebagian analis memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga dalam waktu dekat, proyeksi pemangkasan suku bunga yang lebih lambat tetap menciptakan ketidakpastian bagi pasar. Sementara itu, Dolar AS menunjukkan pelemahan, tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang turun ke kisaran 99,02. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan bagi emas, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami kenaikan.
Dengan latar belakang tersebut, Andy Nugraha menilai bias pergerakan emas masih cenderung positif. Selama risiko global tetap membayangi dan minat terhadap aset aman belum surut, harga emas berpotensi mempertahankan tren bullish dan melanjutkan pergerakan ke level yang lebih tinggi dalam waktu dekat.














