Media90 – Dunia game mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu bermain game hanya dianggap sebagai hiburan atau pengisi waktu luang, kini banyak anak muda melihatnya sebagai peluang karier yang serius dan menjanjikan.
Perkembangan industri e-sports yang sangat pesat membuat profesi gamer profesional semakin diminati, terutama oleh Generasi Z atau Gen Z. Namun di balik popularitas tersebut, masih banyak orangtua dan generasi yang lebih tua memandang karier di dunia game dengan skeptis karena dianggap belum stabil untuk dijadikan pekerjaan jangka panjang.
Perbedaan pandangan antar generasi ini terlihat dalam Logitech G PRO Series Survey yang melibatkan 18.000 responden dari 12 negara. Hasil survei menunjukkan bahwa industri e-sports semakin diterima oleh anak muda, meski belum sepenuhnya dipercaya oleh generasi yang lebih tua.
E-sports Dinilai Jadi Karier Masa Depan
Dalam survei tersebut, lebih dari separuh responden global atau sekitar 54 persen menganggap profesi gamer profesional sebagai jalur karier yang sah. Dukungan terbesar datang dari kalangan muda.
Sebanyak 67 persen Gen Z percaya bahwa menjadi atlet e-sports merupakan profesi yang valid. Sementara itu, 60 persen generasi milenial juga memiliki pandangan serupa. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding generasi Baby Boomers yang hanya mencapai 37 persen.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa generasi muda lebih terbuka terhadap pekerjaan berbasis teknologi dan ekonomi digital. Bagi mereka, dunia game bukan lagi sekadar hiburan, tetapi juga industri yang mampu menghasilkan pendapatan besar.
Perkembangan e-sports memang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Turnamen internasional kini menawarkan hadiah fantastis hingga miliaran rupiah. Tim e-sports juga didukung sponsor besar dan memiliki basis penggemar luas di berbagai negara.
Tak hanya itu, gamer profesional kini diperlakukan layaknya atlet olahraga pada umumnya. Mereka menjalani latihan rutin, memiliki pelatih, hingga mengikuti kompetisi internasional dengan jadwal yang ketat.
Industri Gaming Terus Berkembang
Popularitas e-sports turut didorong oleh meningkatnya konsumsi konten digital dan streaming game. Banyak gamer profesional yang kini tidak hanya mengandalkan penghasilan dari turnamen, tetapi juga dari sponsor, siaran langsung, hingga media sosial.
Global Communications Gaming Lead Logitech G, Derek Perez, mengatakan bahwa riset tersebut menunjukkan perkembangan besar industri gaming dan e-sports sebagai jalur menuju kesuksesan profesional.
Menurutnya, dukungan perusahaan teknologi dapat membuka lebih banyak peluang kerja di industri tersebut. Tidak hanya sebagai atlet e-sports, tetapi juga di bidang lain seperti pelatih, analis pertandingan, kreator konten, hingga manajemen tim.
Hal ini membuat industri game semakin menarik bagi generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan internet dan teknologi digital.
Orangtua Masih Ragu dengan Karier Gamer
Meski mulai diterima oleh anak muda, profesi gamer profesional masih kalah jauh dibanding pekerjaan konvensional dalam hal prestise.
Dalam survei yang sama, tenaga kesehatan menjadi profesi paling dihormati secara global dengan angka 55 persen. Sementara itu, profesi gamer profesional hanya memperoleh 8 persen dalam kategori pekerjaan yang dianggap bergengsi atau terhormat.
Bahkan hanya 1 persen responden Baby Boomers yang mau mendorong anak atau kerabat mereka menjadi gamer profesional.
Generasi yang lebih tua cenderung khawatir terhadap kestabilan industri ini. Sebanyak 42 persen responden menilai profesi gamer memiliki risiko finansial tinggi. Selain itu, 34 persen menganggap dunia e-sports terlalu kompetitif dan sulit bertahan dalam jangka panjang.
Tak sedikit pula yang merasa profesi gamer belum bisa dianggap pekerjaan “nyata” karena masih identik dengan aktivitas bermain game sebagai hobi.
Karier Gamer Punya Tekanan Tinggi
Di balik popularitas dan potensi penghasilan besar, karier di dunia e-sports ternyata memiliki tekanan yang tidak ringan.
Sebanyak 84 persen responden menilai gamer profesional membutuhkan mental yang kuat. Selain itu, 55 persen responden juga menyebut profesi ini memerlukan daya tahan fisik yang baik.
Gamer profesional bahkan diperkirakan bisa berlatih hingga 10 hingga 12 jam per hari demi menjaga performa di level kompetitif.
Karena itu, sebagian masyarakat mulai melihat pentingnya pendidikan khusus untuk industri e-sports. Hampir setengah responden global mendukung hadirnya kelas e-sports di sekolah berdampingan dengan olahraga tradisional.
Dukungan terhadap pendidikan formal e-sports juga cukup tinggi. Sebanyak 65 persen responden setuju adanya jalur pendidikan khusus terkait industri game dan e-sports di universitas maupun lembaga pelatihan.
Meski masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orangtua, industri game terus berkembang menjadi salah satu sektor digital terbesar di dunia. Seiring meningkatnya dukungan industri, pendidikan, dan media, profesi gamer profesional diperkirakan akan semakin diterima sebagai salah satu pilihan karier masa depan.














