Media90 – Ketegangan konflik di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker minyak milik Amerika Serikat yang melintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.
Menurut pernyataan dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), kapal tanker tersebut terkena serangan di bagian utara Teluk dan dilaporkan mengalami kebakaran. Klaim ini disampaikan melalui media pemerintah Iran pada Kamis.
Namun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Amerika Serikat maupun sumber independen mengenai insiden tersebut.
Dalam pernyataannya, Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz akan berada di bawah kendali Iran selama situasi perang berlangsung.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena sebagian besar pengiriman minyak global melewati kawasan tersebut. Ancaman terhadap jalur ini pun meningkatkan kekhawatiran internasional terkait potensi gangguan terhadap distribusi energi dunia.
Beberapa hari sebelumnya, IRGC juga mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker milik Amerika Serikat dan Inggris yang berada di wilayah Teluk serta Selat Hormuz menggunakan rudal. Melalui kantor berita militer Sepah News, Iran menyebut serangan tersebut menyebabkan kapal-kapal tanker terbakar.
Namun laporan tersebut hingga kini juga belum mendapatkan konfirmasi resmi dari negara yang disebut sebagai pemilik kapal.
Tidak hanya menargetkan kapal tanker, Iran juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut disebut menyasar fasilitas militer di Kuwait dan Bahrain, termasuk pangkalan udara Ali Al Salem Air Base di Kuwait.
Selain itu, Iran mengaku menargetkan pangkalan angkatan laut Mohammed Al-Ahmad Naval Base serta pusat komando militer Amerika di Bahrain. Iran bahkan mengklaim dua rudal balistik menghantam pangkalan militer AS di Bahrain dan menyebabkan ratusan korban di pihak Amerika. Namun angka tersebut belum diverifikasi oleh pemerintah Amerika Serikat.
Ketegangan terbaru ini terjadi setelah operasi militer besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Peristiwa tersebut kemudian memicu serangan balasan dari Teheran terhadap berbagai target milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah. Situasi ini memicu kekhawatiran global akan kemungkinan meluasnya konflik di salah satu kawasan paling sensitif bagi stabilitas energi dunia.














