INTERNASIONAL

Iran Tolak Negosiasi dengan Amerika Serikat, Siap Hujani Rudal Jika Serangan Berlanjut

5
×

Iran Tolak Negosiasi dengan Amerika Serikat, Siap Hujani Rudal Jika Serangan Berlanjut

Sebarkan artikel ini
Iran Tolak Negosiasi dengan Amerika Serikat, Ancam Balasan Rudal Jika Serangan Berlanjut
Iran Tolak Negosiasi dengan Amerika Serikat, Ancam Balasan Rudal Jika Serangan Berlanjut

Media90 – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas setelah pemerintah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali dialog dengan Amerika Serikat di tengah konflik yang terus berlangsung dengan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan PBS News pada Selasa (10/3/2026).

Menurut Araghchi, pengalaman masa lalu membuat pemerintah Iran tidak lagi percaya pada proses diplomasi dengan Washington.

Iran Klaim Diplomasi dengan AS Berujung Pengkhianatan

Dalam pernyataannya, Araghchi menyinggung serangan awal yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut terjadi ketika kedua negara dikabarkan sedang berada dalam fase pembicaraan yang dianggap menunjukkan kemajuan.

Baca Juga:  Peneliti Austria Ciptakan Kode QR Terkecil di Dunia, Bisa Simpan Hingga 2 TB Data

Ia menilai peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa upaya dialog dengan Amerika tidak pernah berakhir baik bagi Iran.

“Tembakan masih berlanjut, dan kami siap. Kami sangat siap untuk terus menyerang mereka dengan rudal kami selama diperlukan,” ujar Araghchi.

Menurutnya, kondisi saat ini membuat Teheran tidak memiliki alasan untuk kembali duduk di meja perundingan dengan pemerintah Amerika Serikat.

Dukungan Domestik Menguat

Pemerintah Iran juga menilai upaya Amerika Serikat dan Israel untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran tidak berjalan sesuai rencana.

Araghchi bahkan menyebut kekuatan Barat kini terlihat tidak memiliki strategi yang jelas dalam konflik yang terus meningkat tersebut.

Di dalam negeri, sikap tegas pemerintah Iran dilaporkan mendapat dukungan dari sebagian masyarakat. Demonstrasi terjadi di beberapa kota dengan massa menyuarakan dukungan kepada tokoh ulama berpengaruh, Mojtaba Khamenei.

Baca Juga:  Putra Presiden Hotel Shilla Tembus SNU, Lim Dong-hyun Ungkap Disiplin Ekstrem di Balik Kesuksesannya

Para demonstran juga menyerukan balasan terhadap serangan yang menyebabkan korban yang mereka sebut sebagai “martir”.

Di media sosial, slogan bernada perlawanan sempat viral dengan kalimat: “Selama bulan Ramadan, kami tidak berbicara dengan setan.”

Parlemen Iran Tegaskan Tidak Cari Perdamaian

Sikap keras juga disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf.

Melalui akun resminya di X, Qalibaf menegaskan bahwa Iran tidak sedang mencari gencatan senjata ataupun perdamaian.

Ia menyatakan bahwa pihak yang melakukan agresi harus menerima balasan agar tidak kembali melakukan serangan di masa depan.

Donald Trump Ancam Iran Soal Selat Hormuz

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tetap menunjukkan sikap tegas terhadap konflik tersebut.

Dalam konferensi pers di Florida, Trump menyebut operasi militer Amerika sebagai ekspedisi jangka pendek. Namun ancamannya meningkat ketika membahas kemungkinan Iran memblokade jalur energi dunia di Selat Hormuz.

Baca Juga:  Virus Nipah Kembali Serang India, Ancaman Mematikan dengan Risiko Kematian Tinggi

Melalui unggahan di Truth Social, Trump memperingatkan Iran agar tidak mengganggu jalur distribusi minyak global. Ia menegaskan Amerika Serikat akan memberikan respons yang jauh lebih keras jika Iran mencoba menghentikan aliran minyak dunia.

Dampak Mulai Terasa di Pasar Energi Global

Ketegangan di kawasan Teluk mulai berdampak pada sektor energi global. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan tidak akan membiarkan minyak keluar dari kawasan tersebut selama serangan dari Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.

Situasi ini membuat sejumlah kapal tanker minyak memilih menghindari jalur Selat Hormuz.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengungkapkan bahwa beberapa pengiriman minyak terpaksa dialihkan demi menjaga keselamatan armada tanker.

Meski Arab Saudi telah mengoptimalkan jalur pipa Timur–Barat menuju pelabuhan Yanbu dengan kapasitas sekitar 7 juta barel per hari, tekanan terhadap pasokan energi global masih cukup besar.

Jika konflik ini berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya diperkirakan akan terasa pada kenaikan harga energi dunia, termasuk bahan bakar seperti bensin dan avtur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *