Media90 – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kerja semakin meluas karena dinilai dapat membantu menyelesaikan tugas harian karyawan. Namun, sebuah riset terbaru yang diterbitkan oleh Harvard Business Review (HBR) menemukan bahwa AI yang digunakan secara berlebihan dan tidak terarah justru memicu kelelahan mental parah pada pekerja.
Fenomena “AI Brain Fry”
Para peneliti memperkenalkan istilah “AI Brain Fry”, kondisi kelelahan kognitif ekstrem akibat otak manusia dipaksa terus memproses informasi dari berbagai perangkat AI secara bersamaan. Otak manusia memiliki batas biologis dalam memproses data, dan ketika dipaksa mengikuti kecepatan mesin AI tanpa jeda, kondisi kelelahan mental akut menjadi dampaknya.
Julie Bedard, Managing Director dan Partner di Boston Consulting Group, yang juga penulis studi, menekankan:
“AI bisa berkembang sangat cepat, tetapi kita masih memiliki otak yang sama seperti kemarin.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa kemampuan adaptasi otak manusia tidak secepat perkembangan AI, sehingga penggunaan AI tanpa pengaturan dapat berdampak buruk pada kesehatan psikologis pekerja.
Metodologi dan Temuan
HBR melakukan survei terhadap 1.500 pekerja full-time di AS, dan ditemukan bahwa 14 persen responden mengaku mengalami brain fry di tempat kerja. Fenomena ini paling sering terjadi di bidang yang menuntut interaksi intens dengan komputer. Lima sektor pekerjaan teratas yang paling banyak melaporkan brain fry adalah:
- Marketing (Pemasaran)
- Software Development (Pengembangan Perangkat Lunak)
- HR (Sumber Daya Manusia)
- Finance (Keuangan)
- IT (Teknologi Informasi)
Pekerja di sektor-sektor ini umumnya memiliki tanggung jawab mengolah data dalam jumlah besar dan sering diwajibkan menggunakan beberapa tools AI secara bersamaan.
Pemicu dan Gejala Brain Fry
Penelitian menunjukkan bahwa AI dapat menurunkan stres jika digunakan untuk tugas rutin. Namun, masalah muncul ketika pekerja diwajibkan menggunakan tiga atau lebih tools AI secara bersamaan. Pergantian fokus antar-perangkat ini memicu brain fry.
Gejala yang dialami pekerja antara lain:
- Mental fog (kabut mental), pikiran terasa tidak jernih
- Kepala penuh dan sulit fokus
- Melambatnya kemampuan mengambil keputusan
Dampak pada Perusahaan
Brain fry tidak hanya memengaruhi individu, tapi juga stabilitas operasional perusahaan. Studi HBR menemukan:
- Decision fatigue meningkat hingga 33 persen, membuat pengambilan keputusan lambat
- Niat karyawan untuk resign meningkat hampir 10 persen
Fenomena ini menjadi peringatan bagi perusahaan untuk mengatur penggunaan AI secara bijak. Jumlah tools AI yang wajib digunakan sebaiknya disesuaikan agar efisiensi kerja tidak berubah menjadi beban mental bagi karyawan.
Kesimpulannya, meskipun AI membawa kemudahan di tempat kerja, penggunaan tanpa batas dan tanpa strategi dapat menimbulkan kelelahan mental serius. Perusahaan perlu menyeimbangkan antara adopsi teknologi dan kesehatan kognitif pekerja, agar produktivitas tetap optimal tanpa mengorbankan kesejahteraan tim.














