Media90 – Pernahkah Anda membayangkan jika suatu hari nanti durasi sehari di Bumi tidak lagi 24 jam, tapi 25 jam? Kesan pertama mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah atau teori konspirasi. Namun, menurut para ilmuwan, hal ini memang mungkin terjadi—meski prosesnya sangat lambat dan memakan waktu ratusan juta tahun.
Memahami Durasi Hari
Sehari yang kita kenal selama ini adalah 24 jam, periode waktu dari tengah hari ke tengah hari berikutnya. Konsep ini disebut solar day, yang mengacu pada waktu yang dibutuhkan Matahari untuk kembali ke posisi sama di langit.
Secara astronomi, ada juga istilah sidereal day, yaitu durasi Bumi berotasi satu kali penuh terhadap bintang-bintang jauh, yang sedikit lebih singkat sekitar 23 jam 56 menit. Perbedaan ini menunjukkan bahwa rotasi Bumi tidak sepenuhnya statis. Perlambatan rotasi inilah yang menjadi kunci bertambahnya durasi hari.
Bulan, Pasang Surut, dan Rotasi Bumi
Faktor utama yang memengaruhi panjang hari adalah pasang surut laut akibat gravitasi Bulan. Gaya tarik Bulan membentuk tonjolan pasang surut di Bumi. Karena Bumi terus berotasi, tonjolan ini tidak selalu sejajar dengan Bulan. Akibatnya, terjadi gesekan yang perlahan menghambat rotasi Bumi, sementara energi yang hilang berpindah ke Bulan, menjadikannya menjauh sedikit demi sedikit dari Bumi.
Bagaimana Ilmuwan Mengukurnya?
Perubahan mikro pada rotasi Bumi diukur menggunakan jam atom super-presisi dan data astronomi historis, seperti catatan gerhana ratusan hingga ribuan tahun lalu. Lembaga internasional seperti International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) memantau perbedaan antara waktu jam dan rotasi Bumi, memastikan perlambatan rotasi tercatat secara akurat.
Saat ini, durasi hari bertambah hanya sekitar 1,7–2 milidetik per abad, sangat kecil dan nyaris tak terasa oleh manusia.
Kapan Satu Hari Akan Jadi 25 Jam?
Para ilmuwan memperkirakan, jika laju perlambatan tetap seperti sekarang, satu hari akan mencapai 25 jam sekitar 200 juta tahun ke depan. Sebagai perbandingan, jutaan tahun lalu durasi hari di Bumi hanya sekitar 18–19 jam karena Bulan berada lebih dekat, sehingga efek pasang surut jauh lebih kuat. Seiring jarak Bulan bertambah, durasi hari pun memanjang.
Kesimpulan
Meskipun perubahan ini terjadi sangat lambat, fenomena ini mengingatkan kita bahwa konsep waktu bukan sesuatu yang mutlak, melainkan hasil interaksi kompleks antara Bumi, Bulan, dan hukum fisika. Jadi, tidak perlu khawatir jam di rumah tiba-tiba “melambat” dalam waktu dekat.
Satu hal yang pasti, gagasan hari 25 jam bukan sekadar teori aneh, tapi bagian dari dinamika alam semesta yang terus berlangsung. Bahkan hal paling mendasar seperti panjang satu hari pun merupakan hasil perjalanan kosmik yang panjang dan menakjubkan.














