NASIONAL

BMKG Peringatkan Lima Provinsi Siaga Hujan Lebat 12–15 Januari 2026, Masyarakat Diminta Waspada

4
×

BMKG Peringatkan Lima Provinsi Siaga Hujan Lebat 12–15 Januari 2026, Masyarakat Diminta Waspada

Sebarkan artikel ini
BMKG: Lima Provinsi Disiagakan Hadapi Hujan Lebat Akibat Cuaca Ekstrem Pekan Ini
BMKG: Lima Provinsi Disiagakan Hadapi Hujan Lebat Akibat Cuaca Ekstrem Pekan Ini

Media90 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang diperkirakan terjadi pada periode 12–15 Januari 2026. Dalam laporan resmi tersebut, lima provinsi masuk status siaga, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Papua. Peringatan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga banjir bandang.

Dinamika Atmosfer Global Pemicu Cuaca Ekstrem

BMKG menjelaskan bahwa peningkatan intensitas hujan pada periode ini tidak terjadi secara kebetulan. Cuaca di Indonesia sedang dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global. Salah satunya adalah El Niño–Southern Oscillation (ENSO) yang berada pada fase negatif, mengindikasikan La Niña lemah. Kondisi ini meningkatkan suplai uap air di atmosfer, sehingga mendukung pembentukan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Selain ENSO, suhu muka laut yang hangat di beberapa perairan Indonesia memperkaya pasokan uap air untuk proses konveksi. Kombinasi kedua faktor ini menciptakan kondisi yang mendukung hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lebih panjang.

Baca Juga:  Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur Meningkat, PVMBG Imbau Warga Waspada

Peran Madden–Julian Oscillation dan Gelombang Atmosfer

BMKG turut menyoroti aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) yang sedang aktif melintas di sebagian besar wilayah Indonesia, meliputi Aceh, Riau, Jambi, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Aktivitas MJO memperkuat proses pertumbuhan awan hujan secara signifikan.

Tidak hanya itu, gelombang Kelvin dan Rossby Ekuator juga terpantau aktif di wilayah Papua Selatan dan perairan sekitarnya, sehingga meningkatkan potensi turunnya hujan lebat di kawasan timur Indonesia. Faktor atmosfer tersebut menunjukkan bahwa cuaca ekstrem tidak disebabkan oleh satu aspek saja, melainkan kombinasi fenomena global dan regional yang terjadi bersamaan.

Sirkulasi Siklonik dan Konvergensi Angin

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah sirkulasi siklonik yang terdeteksi di perairan barat Australia. Kondisi ini memicu pembentukan daerah konvergensi angin yang memanjang dari Semenanjung Malaysia, Jambi, Laut Jawa, Samudera Hindia selatan Yogyakarta, hingga Jawa Timur.

Baca Juga:  Megathrust Bisa “Meledak” Kapan Saja: Waspada Tsunami di Jawa dan Sumatra

Konvergensi juga terpantau di wilayah lain seperti Selat Makassar, Laut Flores, Laut Maluku, dan Papua, dan diperkuat oleh pertemuan angin di perairan barat Sumatra, Nusa Tenggara Timur, Laut Banda, dan Maluku. Pertemuan angin ini meningkatkan peluang terbentuknya awan-awan konvektif yang menghasilkan hujan intens.

Ancaman yang Dihadapi Masyarakat

BMKG menegaskan bahwa peringatan ini bukan hanya bersifat teknis, tetapi berimplikasi langsung bagi keselamatan masyarakat. Hujan lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang berpotensi memicu:

  • Banjir dan banjir bandang

  • Tanah longsor dan pergerakan tanah

  • Pohon tumbang

  • Gangguan jaringan listrik dan transportasi

Masyarakat, terutama di wilayah rawan bencana, diminta untuk mengurangi aktivitas luar ruangan saat cuaca memburuk, membersihkan saluran air, dan selalu memantau informasi resmi BMKG.

Gelombang Tinggi: Ancaman Tambahan di Perairan Indonesia

Selain cuaca ekstrem di daratan, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang tinggi di beberapa wilayah perairan Indonesia. Ketinggian gelombang dilaporkan dapat mencapai 2,5 hingga 4 meter di sejumlah perairan, seperti:

  • Samudera Hindia selatan Jawa

  • Laut Natuna Utara

  • Laut Banda

  • Perairan selatan Nusa Tenggara

Kondisi ini sangat berisiko bagi nelayan, pelayaran tradisional, kapal kecil, hingga distribusi logistik di wilayah timur Indonesia yang mengandalkan jalur laut. BMKG meminta operator kapal, nelayan, dan masyarakat pesisir untuk tidak memaksakan aktivitas di laut saat peringatan dikeluarkan.

Peringatan yang Tidak Boleh Diremehkan

Cuaca ekstrem sering kali dianggap hal yang lazim di Indonesia, namun kombinasi fenomena atmosfer global kali ini cukup jarang terjadi secara bersamaan, sehingga meningkatkan potensi hujan dengan intensitas lebih ekstrem.

BMKG menilai bahwa pemahaman masyarakat terhadap dinamika cuaca ini sangat penting agar kesiapsiagaan dapat ditingkatkan. Fenomena seperti ENSO negatif, MJO aktif, suhu laut hangat, sirkulasi siklonik, dan konvergensi angin memperlihatkan betapa kompleksnya kondisi atmosfer yang tengah memengaruhi Indonesia.

Kesiapsiagaan menjadi Kunci

Peringatan BMKG mengenai lima provinsi dalam status siaga hujan lebat periode 12–15 Januari 2026 merupakan pengingat bahwa cuaca ekstrem bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu:

  • Tetap pantau informasi resmi

  • Siapkan langkah mitigasi sederhana

  • Tingkatkan kesadaran lingkungan

  • Utamakan keselamatan diri dan keluarga

Cuaca ekstrem bukan sebatas prediksi, tetapi peringatan untuk lebih peduli dan siap menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Dengan kesadaran dan kesiapsiagaan, dampak bencana dapat diminimalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *