Media90 – Komisi XII DPR RI memberikan dukungan penuh terhadap proyek hilirisasi ekosistem baterai melalui Proyek Dragon yang dijalankan Grup MIND ID melalui Indonesian Battery Corporation (IBC). Kerja sama strategis dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Limited (CATL) dinilai sebagai bukti nyata komitmen Indonesia dalam mempercepat pembangunan ekosistem baterai nasional sekaligus meningkatkan kontribusi negara di pasar global.
Ketua Komisi XII DPR, Bambang Patijaya, menegaskan bahwa proyek baterai terintegrasi ini sejalan dengan kebijakan hilirisasi yang berdampak positif bagi perekonomian Indonesia, mulai dari memperkuat daya saing ekonomi, menarik investasi, memperluas lapangan kerja, hingga mendukung transisi energi berbasis teknologi ramah lingkungan.
“Kegiatan hilirisasi merupakan kebijakan utama pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan multiplier effect bagi perekonomian nasional. Proyek baterai ini menjadi bagian penting dari strategi tersebut,” ujar Bambang dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR.
Bambang juga menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan, terutama terkait limbah B3, baterai gagal fungsi, serta sistem daur ulang baterai pasca pakai agar industri baterai nasional berkembang secara berkelanjutan.
“Kami ingin memperoleh penjelasan komprehensif terkait progres proyek, kesiapan produksi, serta bagaimana komitmen pengelolaan lingkungan dan daur ulang baterai akan dijalankan,” tambahnya.
Empat Poin Dukungan DPR untuk Industri Baterai Nasional
Dalam kesimpulan rapat, Komisi XII DPR RI menegaskan empat poin utama dukungan terhadap pengembangan industri baterai nasional:
- Percepatan Produksi: Mendukung pembangunan proyek manufaktur baterai kendaraan listrik di Karawang agar segera berproduksi dengan tetap mengutamakan pengelolaan lingkungan dan sosial sesuai ketentuan perundang-undangan.
- Investasi Baru: Mendorong IBC untuk merealisasikan investasi baru dalam pengembangan baterai kendaraan listrik dan Battery Energy Storage System (BESS) berbasis nikel, memanfaatkan potensi sumber daya mineral Indonesia.
- Insentif Fiskal: Mendukung pemberian insentif berupa tax holiday dan perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang optimal, mengingat proyek ini membangun rantai industri baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir.
- Kepastian Pasar Domestik: Menekankan perlunya pasar domestik yang jelas agar kapasitas produksi besar tidak menimbulkan kelebihan pasokan, terutama untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Anggota Komisi XII, Cek Endra, mengapresiasi percepatan pembangunan proyek yang dinilai melampaui ekspektasi awal. Dari lahan kosong, fasilitas produksi kini hampir rampung dan ditargetkan mulai beroperasi pada Juni 2026, dengan nilai investasi sekitar Rp 7 triliun.
“Progresnya luar biasa. Ini menunjukkan keseriusan investasi dan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk masuk lebih dalam ke ekosistem baterai global,” ujar Cek Endra.
Peran Strategis IBC dan Grup MIND ID
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menegaskan bahwa kehadiran Grup MIND ID melalui IBC sejalan dengan agenda pemerintah, terutama terkait kemandirian energi, ekonomi hijau, dan hilirisasi industri. IBC menargetkan pembangunan rantai nilai baterai terintegrasi, mulai dari pengolahan material berbasis nikel, manufaktur baterai, hingga pengembangan industri daur ulang.
“Indonesia memiliki keunggulan sumber daya nikel. Tantangannya adalah memastikan pasar domestik kuat, regulasi konsisten, dan dukungan insentif agar ekosistem baterai ini berkelanjutan dan kompetitif secara global,” kata Aditya.
Pembangunan pabrik baterai lithium-ion di Karawang melalui perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik dan BESS. Pada tahap awal, fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi 6,9 GWh dan mulai beroperasi secara komersial pada pertengahan 2026. Produk baterai akan memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus ekspor.
Aditya menambahkan, dukungan kebijakan sangat diperlukan, terutama terkait harmonisasi regulasi hulu-hilir, kepastian klasifikasi usaha (KBLI), serta regulasi battery recycling dan second life battery, sehingga baterai bekas dapat dimanfaatkan kembali dalam kerangka ekonomi sirkular.














