Media90 – Sebuah fenomena geologi tidak biasa di awal 2026 telah memicu eksodus warga serta banjir spekulasi di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Laporan terbaru yang dihimpun CNBC Indonesia menyoroti kemunculan lubang amblas raksasa atau sinkhole di tengah lahan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua. Fenomena ini tidak hanya viral karena ukurannya, tetapi juga karena air jernih berwarna kebiruan yang memenuhi lubang tersebut, yang oleh sebagian warga dianggap memiliki khasiat penyembuhan maupun nilai mistis.
Namun, di balik euforia dan mitos yang berkembang, pemerintah mengingatkan adanya risiko kesehatan nyata yang tak terlihat oleh mata.
Kronologi Kejadian dan Antusiasme Warga
Peristiwa dimulai pada awal Januari 2026, ketika warga mendengar dentuman keras dari arah persawahan. Tak lama kemudian, area tanah tersebut amblas membentuk lubang besar dengan diameter sekitar 10 meter dan kedalaman 8 meter. Dalam hitungan jam, sinkhole itu terisi air jernih kebiruan, menciptakan pemandangan yang kontras dengan sawah di sekitarnya.
Fenomena ini cepat menjadi viral melalui WhatsApp, TikTok, hingga Facebook. Narasi tentang “air penyembuh”, “air suci”, hingga “mukjizat alam” menyebar dengan cepat. Warga dari daerah lain berdatangan membawa botol, jeriken, dan galon untuk mengambil air tersebut.
Kepadatan massa di sekitar lubang dikhawatirkan bisa memicu kecelakaan atau longsor susulan, mengingat struktur tanah di bibir sinkhole masih sangat labil.
Temuan Laboratorium: Positif E. Coli
Untuk meredam simpang siur, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, turun langsung ke lokasi pada Minggu (11/1/2026). Dalam keterangan resminya pada Senin (12/1/2026), Vasco meminta warga menghentikan konsumsi air sinkhole.
Berdasarkan hasil uji dari Dinas Kesehatan dan Badan Geologi ESDM, terdapat temuan penting:
✔ TDS (Total Dissolved Solids): bagus
✔ Kandungan Besi (Fe): aman
❌ Bakteri E. Coli: sangat tinggi
Vasco menegaskan bahwa tingginya E. Coli kemungkinan berasal dari material organik yang ikut terbawa saat tanah runtuh atau rembesan drainase di sekitar lokasi.
Tingkat keasaman (pH 6,5) juga berada pada batas bawah standar air minum.
“Air ini tidak ada hubungannya dengan penyembuhan kesehatan. Secara medis, air ini berbahaya jika diminum tanpa diolah karena bakterinya tinggi,” tegas Vasco.
Penjelasan Ahli: Jejak Karst dan Dampak Siklon
Fenomena tersebut ternyata dapat dijelaskan melalui sains. Para pakar dari UGM dan Badan Geologi mengungkap:
-
Nagari Situjuah Batua berada di zona karst
-
Karst tersusun dari batuan kapur yang larut oleh air hujan
-
Pelarutan menciptakan rongga bawah tanah
-
Rongga ini ditutupi material vulkanik dari Gunung Sago
Pemicu runtuhan diduga akibat:
-
Curah hujan ekstrem dari Siklon Senyar (akhir 2025)
-
Erosi air yang melemahkan dinding rongga
-
Atap rongga tidak lagi mampu menahan beban
Saat rongga ambruk, air tanah (akifer) muncul ke permukaan, menciptakan kolam alami yang tampak indah namun bukan air “ajaib”.
Fenomena ini di masyarakat lokal dikenal sebagai “Sawah Luluih”.
Langkah Pemerintah: Zona Larangan Aktivitas
Pemerintah daerah menetapkan langkah mitigasi:
🔸 Zona larangan 50 meter dari bibir sinkhole
🔸 Pemasangan garis pengaman dan papan peringatan
🔸 Pemantauan pergerakan tanah oleh BPBD
BPBD melaporkan bahwa perluasan sinkhole masih mungkin terjadi. Aktivitas warga terlalu dekat dapat memicu amblasan lanjutan.
Terkait penggunaan air, pemerintah memperbolehkan penggunaan untuk non-konsumsi, namun diimbau:
-
Tidak untuk diminum
-
Tidak untuk mandi
-
Kecuali melalui filtrasi dan perebusan hingga mendidih
Literasi Sains Jadi Kunci
Peristiwa sinkhole ini menjadi pengingat bahwa fenomena alam tidak selalu mistis. Air yang terlihat jernih belum tentu steril atau aman diminum.
Fenomena ini juga membuka kembali edukasi tentang:
✔ kawasan karst
✔ mitigasi bencana geologi
✔ literasi kesehatan masyarakat
Kesimpulan
Fenomena sinkhole di Sumbar awal 2026 adalah contoh nyata bagaimana keindahan alam, kabar viral, dan sains saling berinteraksi di ruang publik. Namun pada akhirnya, keselamatan warga tetap menjadi prioritas.
Fenomena “Sawah Luluih” adalah kekayaan geologi Indonesia, tetapi tidak boleh menjadi objek mistifikasi yang membahayakan.
Masyarakat Nagari Situjuah Batua dan wilayah karst lain diharapkan lebih waspada, terutama di musim hujan ekstrem, untuk mencegah kejadian serupa di area pemukiman.














