Media90 – Aktivitas Gunung Merapi di Jawa Tengah masih menunjukkan dinamika tinggi. Berdasarkan laporan pemantauan terbaru, tercatat 13 kali guguran lava yang meluncur ke arah Kali Sat atau Kali Putih dengan jarak maksimum mencapai 2.000 meter. Fenomena ini menjadi indikator bahwa suplai magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung.
Kondisi Visual dan Cuaca Sekitar Gunung
Secara visual, puncak Gunung Merapi sempat terlihat jelas sebelum tertutup kabut dengan tingkat visibilitas 0–III. Saat pengamatan, tidak terdeteksi adanya asap yang keluar dari kawah.
Cuaca di sekitar gunung terpantau mendung dengan angin lemah menuju arah barat. Data klimatologi mencatat:
- Suhu udara: 17,2–20,5°C
- Kelembaban: 86–99,5%
- Tekanan udara: 873,7–916,8 mmHg
Kondisi mendung ini dapat memengaruhi jarak pandang terhadap puncak gunung.
Aktivitas Kegempaan
Selain guguran lava, kegempaan Gunung Merapi juga masih aktif. Jenis gempa yang tercatat antara lain:
Gempa Guguran
- Jumlah: 42 kali
- Amplitudo: 2–30 mm
- Durasi: 71,75–217,99 detik
Gempa jenis ini umumnya terkait dengan jatuhan material lava dari kubah gunung.
Gempa Hybrid (Fase Banyak)
- Jumlah: 17 kali
- Amplitudo: 2–34 mm
- Durasi: 15,24–57,93 detik
Gempa hybrid menandakan pergerakan fluida magma dan gas di dalam tubuh gunung.
Zona Bahaya yang Harus Dihindari
Pusat pemantauan mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana. Beberapa wilayah dengan potensi bahaya antara lain:
Sektor Selatan hingga Barat Daya
- Sungai Boyong (radius 5 km)
- Sungai Bedog
- Sungai Krasak
- Sungai Bebeng (radius 7 km)
Sektor Tenggara
- Sungai Woro (radius 3 km)
- Sungai Gendol (radius 5 km)
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat mencapai radius 3 km dari puncak.
Peringatan Bagi Masyarakat
Petugas pemantauan menekankan kewaspadaan, terutama saat hujan di sekitar gunung, karena dapat memicu lahan dan aliran material ke sungai-sungai berhulu di Merapi. Selain itu, masyarakat diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat abu vulkanik.
Data menunjukkan suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi awan panas guguran masih ada di area yang termasuk zona bahaya. Jika terjadi perubahan signifikan, status aktivitas Gunung Merapi akan segera dievaluasi kembali oleh otoritas terkait.














