Media90 – Perairan dekat Cirebon, Jawa Barat, menjadi saksi fenomena langit yang menarik perhatian dunia pada 5 Oktober 2025. Sebuah meteor melintas dan meledak di atmosfer, menimbulkan bola api terang yang bisa dilihat dari daratan, sekaligus menimbulkan gelombang kejut yang terekam instrumen di darat. Peristiwa ini kemudian ditindaklanjuti oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memetakan asal-usul, ukuran, dan dampak meteor tersebut.
Dua Momen Penting: Cahaya dan Getaran
Meteor ini tercatat muncul pada pukul 18.35 WIB, ketika gesekan ekstrem dengan atmosfer membuat batuan antariksa berpijar bagaikan bola api. Empat menit kemudian, getaran dari gelombang kejut tercatat oleh seismograf BMKG pada pukul 18.39 WIB. Para ahli menjelaskan, selisih waktu ini sesuai dengan rambatan suara di udara. Energi yang dilepaskan cukup kuat untuk mengguncang permukaan bumi, meski meteor pecah di udara tanpa menimbulkan kawah.
Asal-usul dan Ukuran Meteor
Menurut Thomas Djamaluddin, peneliti senior Pusat Riset Antariksa BRIN, meteoroid ini diperkirakan berdiameter 3–5 meter. Meskipun kecil dalam skala astronomi, kecepatan tinggi membuat energi kinetiknya besar. Mayoritas material terbakar di atmosfer melalui proses ablas, sehingga hanya sebagian kecil yang jatuh sebagai serpihan di perairan Laut Jawa utara Cirebon dan Tegal.
Koordinat Jatuh dan Dampaknya
Triangulasi data sensor memastikan titik jatuh meteor berada di Laut Jawa, dekat garis pantai. Kedalaman laut cukup untuk menampung fragmen meteorit tanpa mengganggu ekosistem atau jalur pelayaran. Lokasi jatuh ini juga membantu ilmuwan memahami sudut masuk meteor saat menembus atmosfer Bumi.
Perspektif NASA
Fenomena ini menarik perhatian NASA sebagai bagian dari pemantauan global terhadap Near-Earth Objects (NEO). Menurut NASA, meteoroid berdiameter 3–5 meter sering luput dari teleskop luar angkasa karena memantulkan cahaya matahari minim. Data kejadian seperti ini menjadi penting untuk meningkatkan akurasi prediksi lintasan benda langit di masa depan.
Terminologi Ilmiah
Objek ini disebut meteoroid saat di luar atmosfer, berubah menjadi meteor ketika memasuki udara, dan menjadi meteorit jika materialnya mencapai permukaan laut. Analisis menunjukkan karakteristiknya mirip meteorit Chondrite, kaya mineral silikat, dengan kepadatan tinggi sehingga mampu bertahan hingga lapisan atmosfer lebih rendah sebelum pecah.
Pentingnya Mitigasi Antariksa di Indonesia
Peristiwa ini menekankan pentingnya koordinasi antara teknologi cuaca, seismik, dan astronomi. Respon cepat BRIN dan BMKG mencegah spekulasi yang salah terkait suara dentuman dan getaran misterius. Data teknis kini menjadi bagian basis data nasional untuk sistem peringatan dini, sekaligus menjadi bahan studi ilmiah mengenai interaksi atmosfer Bumi dengan materi purba sisa pembentukan tata surya.
Fenomena meteor Cirebon 2025 menjadi catatan penting astronomi Indonesia. Selain menegaskan risiko jatuhnya benda langit di wilayah khatulistiwa, peristiwa ini juga memperkuat upaya nasional dalam pemantauan antariksa dan mitigasi potensi ancaman dari luar angkasa.














