Media90 – Video pertunjukan seni tradisional Kuda Kencak dari grup Sinar Budaya, Probolinggo, mendadak viral di media sosial dan memicu perdebatan publik.
Alih-alih menyoroti atraksi kuda yang menjadi ikon pertunjukan, netizen justru ramai membahas penampilan para penari latar wanita yang dinilai terlalu terbuka dan tidak selaras dengan nilai budaya setempat.
Cuplikan video yang beredar luas di Instagram memperlihatkan sejumlah penari mengenakan rok pendek bermotif, atasan transparan bernuansa ungu, serta legging berwarna kulit. Busana tersebut memunculkan pro dan kontra di kalangan warganet.
Sebagian netizen mempertanyakan relevansi kostum tersebut dengan esensi kesenian tradisional yang sarat nilai sejarah dan adat lokal.
“Ini seni budaya atau hiburan malam?” tulis salah satu pengguna media sosial di kolom komentar.
Hingga saat ini, unggahan tersebut telah ditonton ribuan kali dan terus menuai tanggapan beragam.
Kesenian Tradisional yang Sarat Nilai Budaya
Kuda Kencak merupakan kesenian tradisional khas wilayah Probolinggo, Jawa Timur. Pertunjukan ini menampilkan kepiawaian kuda yang dihias dan dilatih untuk bergerak mengikuti irama gamelan.
Kesenian ini tumbuh dalam budaya masyarakat Pendalungan yang dikenal religius dan menjunjung tinggi norma adat. Karena itu, sejumlah netizen menilai estetika pertunjukan semestinya tetap menjaga nilai kesopanan serta identitas lokal.
Pro dan Kontra di Tengah Inovasi Seni
Perdebatan yang muncul sebagian besar berkutat pada batas antara inovasi seni dan pelestarian budaya. Beberapa pihak menilai pembaruan dalam pertunjukan tradisional merupakan hal yang wajar dilakukan untuk menarik minat generasi muda.
Namun, sebagian lainnya menegaskan bahwa inovasi tidak boleh mengaburkan marwah kesenian itu sendiri. Nilai-nilai budaya yang menjadi fondasi utama dinilai harus tetap dijaga dalam setiap pertunjukan.
Fenomena ini pun memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana seni tradisi dikemas di era digital tanpa kehilangan esensi dan nilai luhur yang melekat. Pelestarian budaya tidak hanya soal mempertahankan bentuk pertunjukan, tetapi juga menjaga nilai etika dan identitas yang menyertainya.














