Media90 – Di tengah ambisi besar Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global, sebuah inovasi baru mulai mencuri perhatian. Industri komponen otomotif nasional kini tidak lagi hanya terpaku pada baterai lithium, tetapi mulai melirik pengembangan baterai berbasis sodium (natrium) sebagai alternatif teknologi masa depan.
Langkah ini dipandang strategis untuk menghadirkan solusi penyimpanan energi yang lebih terjangkau, melimpah secara bahan baku, serta lebih ramah lingkungan. Sodium dinilai mampu menjadi penyeimbang ketergantungan industri otomotif terhadap lithium yang harganya fluktuatif dan ketersediaannya terbatas.
Potensi Sodium Menggeser Dominasi Aki Konvensional
Salah satu pelaku industri yang aktif mengkaji teknologi ini adalah PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA). Perusahaan komponen otomotif nasional tersebut melihat peluang besar baterai sodium, terutama untuk menggantikan aki timbal (lead-acid) yang selama ini digunakan pada kendaraan konvensional.
Head of Business Development DRMA, Eko Maryanto, menyebut bahwa posisi baterai sodium berada di titik tengah yang sangat strategis dalam peta teknologi baterai saat ini.
“Posisinya memang masih di bawah lithium, tapi lebih baik dibandingkan lead acid. Untuk aki, sebenarnya sodium ini yang paling cocok,” ujar Eko saat ditemui di JIExpo Kemayoran beberapa waktu lalu.
Karakteristik sodium yang stabil menjadikannya kandidat kuat untuk digunakan sebagai komponen starter kendaraan, sistem kelistrikan, hingga penyimpanan energi skala kecil lainnya.
Tantangan Biaya dan Kematangan Teknologi
Meski memiliki potensi besar, jalan menuju komersialisasi massal baterai sodium di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Hambatan utama terletak pada tingginya biaya produksi serta kesiapan teknologi yang belum sematang baterai Lithium Iron Phosphate (LFP).
Saat ini, meskipun natrium sangat melimpah di alam, proses pengolahannya menjadi sel baterai berperforma tinggi masih memerlukan investasi besar.
“Sekarang teknologinya masih mahal. Energinya juga lebih rendah dibanding LFP, tapi harganya justru masih lebih tinggi,” jelas Eko.
Kondisi ini membuat adopsi baterai sodium di pasar otomotif belum optimal. Namun demikian, ketergantungan pada satu teknologi baterai dinilai berisiko dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pengembangan sodium tetap penting sebagai alternatif strategis dan cadangan teknologi di masa depan.
Keunggulan Keamanan dan Performa di Cuaca Ekstrem
Selain ketersediaan bahan baku, baterai sodium-ion menawarkan tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan lithium. Natrium memiliki stabilitas kimia yang lebih baik sehingga risiko kebakaran akibat reaksi berlebih dapat ditekan secara signifikan.
Dalam berbagai uji ekstrem, baterai sodium-ion tetap stabil meskipun mengalami tekanan fisik yang besar. Keunggulan lainnya adalah performa yang tetap optimal pada suhu rendah, kondisi di mana baterai lithium konvensional kerap mengalami penurunan kapasitas.
Tak hanya itu, teknologi sodium-ion juga mendukung pengisian daya cepat (fast charging) serta memiliki siklus hidup yang panjang, menjadikannya semakin menarik untuk pengembangan jangka panjang. Sejumlah produsen global, termasuk CATL, bahkan telah mulai menguji baterai sodium-ion pada mobil penumpang.
Kontribusi Indonesia Menuju Masa Depan Transportasi Hijau
Pengembangan baterai sodium di Indonesia merupakan langkah visioner untuk mengurangi ketergantungan pada mineral langka dan menciptakan ekosistem energi yang lebih berkelanjutan. Meski saat ini masih terkendala biaya dan efisiensi energi, potensi sodium sebagai solusi energi hijau yang aman dan melimpah tidak dapat diabaikan.
Sinergi antara pelaku industri lokal seperti PT Dharma Polimetal Tbk., dukungan riset berkelanjutan, serta regulasi pemerintah akan menjadi kunci percepatan adopsi teknologi ini. Jika tantangan biaya produksi dapat ditekan, Indonesia berpeluang menjadi pionir baterai sodium di kawasan regional.
Masa depan energi hijau Indonesia pun tidak lagi bergantung pada satu jenis baterai, melainkan pada keberagaman inovasi yang mampu menjawab tantangan industri otomotif global secara berkelanjutan.














