INTERNASIONAL

Punya Rp14.000 Triliun, Elon Musk Akui Uang Tak Bisa Beli Bahagia

168
×

Punya Rp14.000 Triliun, Elon Musk Akui Uang Tak Bisa Beli Bahagia

Sebarkan artikel ini
Elon Musk Punya Rp14.000 Triliun, Tapi Mengaku Hidupnya Tak Bahagia
Elon Musk Punya Rp14.000 Triliun, Tapi Mengaku Hidupnya Tak Bahagia

Media90 – Dalam imajinasi kolektif masyarakat global, menjadi miliarder sering dianggap sebagai puncak tertinggi pencapaian hidup. Kekayaan identik dengan kebebasan, kekuasaan, dan kebahagiaan tanpa batas. Dengan kekayaan bersih yang ditaksir mencapai Rp14.000 triliun—atau sekitar US$300 miliar—Elon Musk, sang CEO Tesla dan SpaceX, secara teori memiliki akses ke seluruh kenikmatan duniawi. Ia bisa membeli pulau pribadi, perusahaan media sosial, hingga tiket perjalanan ke luar angkasa kapan pun ia mau.

Namun realitas hidup orang terkaya di dunia itu justru jauh dari gambaran ideal. Di balik citra jenius teknologi yang visioner dan penuh ambisi, Elon Musk disebut bergulat dengan ketidakbahagiaan mendalam, kesepian akut, serta ketergantungan zat tertentu untuk menjaga stabilitas emosinya. Fakta ini menjadi pengingat pahit bahwa saldo rekening—sebesar apa pun angkanya—tidak pernah otomatis berbanding lurus dengan ketenangan jiwa.

Ads
close ads

Pengakuan Jujur: “Uang Tak Bisa Beli Bahagia”

Poin paling menohok dari kisah ini datang langsung dari pengakuan Elon Musk sendiri. Pepatah “uang tak bisa membeli kebahagiaan” sering kali terdengar klise, bahkan dianggap sekadar penghibur bagi mereka yang hidup pas-pasan. Namun maknanya berubah drastis ketika kalimat itu diucapkan oleh orang terkaya di planet ini.

Dalam sebuah momen kerentanan yang jarang terlihat, Musk menuliskan perasaannya melalui platform media sosial miliknya, X (dulu Twitter).

“Whoever said money can’t buy happiness really knows what they are talking about.” 😢

Terjemahan: “Siapa pun yang mengatakan uang tak bisa membeli kebahagiaan benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan.”

Emoji wajah menangis yang menyertai cuitan tersebut membuat pesan itu terasa semakin personal. Bagi banyak orang, unggahan ini bukan sekadar status media sosial, melainkan semacam jeritan batin—pengakuan jujur dari seseorang yang menyadari bahwa seluruh pencapaian materialnya gagal mengisi kekosongan emosional di dalam dirinya. Uang, saham, bahkan aset kripto tak mampu membeli rasa damai.

Sisi Gelap Sang Jenius dan “Demon Mode”

Walter Isaacson, penulis biografi resmi Elon Musk, turut mengungkap sisi lain kehidupan sang miliarder. Selama dua tahun mengikuti keseharian Musk secara intens, Isaacson menemukan sebuah kondisi psikologis ekstrem yang ia sebut sebagai “Demon Mode” atau Mode Iblis.

Dalam mode ini, Musk berubah menjadi sosok yang sangat berbeda.

Pertama, ia menunjukkan produktivitas tanpa empati. Otaknya bekerja luar biasa cepat dan tajam, mampu memecahkan persoalan teknis kompleks di Tesla atau SpaceX dalam waktu singkat. Namun harga yang harus dibayar sangat mahal: hilangnya kepekaan emosional. Musk menjadi dingin, kasar, dan nyaris tak peduli pada perasaan orang-orang di sekitarnya.

Kedua, dampaknya bersifat destruktif. Isaacson menggambarkan bahwa saat Demon Mode aktif, Musk bisa mencaci maki karyawan setianya atau mengambil keputusan impulsif yang melukai orang-orang terdekatnya. Ironisnya, setelah mode ini berlalu, Musk kerap tidak mengingat detail perilakunya atau tidak sepenuhnya merasa bersalah atas kekacauan emosional yang ditinggalkan.

Kekayaan Rp14.000 triliun ternyata tak mampu “membeli” kendali diri maupun stabilitas emosi. Justru tekanan untuk mempertahankan ambisi besar dan ekspektasi global sering kali memicu munculnya sisi gelap tersebut.

Ketergantungan pada “Obat” Penenang

Laporan investigasi juga menyoroti dugaan penggunaan zat tertentu sebagai mekanisme bertahan hidup secara mental. Mengutip Wall Street Journal, Elon Musk dilaporkan menggunakan ketamine, sebuah obat anestesi yang juga dikenal memiliki efek antidepresan.

Penggunaan zat ini disebut memiliki dua tujuan yang sama-sama mengkhawatirkan. Pertama, microdosing untuk mengatasi depresi. Musk dikabarkan mengonsumsi dosis kecil ketamine untuk membantu melawan depresi klinis. Fakta ini menunjukkan bahwa akses ke dokter terbaik dan terapi paling canggih di dunia pun tak selalu mampu mengusir “iblis” di dalam kepala tanpa bantuan kimia.

Kedua, terdapat laporan mengenai penggunaan dosis penuh dalam konteks rekreasi pada acara tertentu. Ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk “melarikan diri” dari realitas—sebuah pola yang kerap muncul pada individu dengan tekanan mental ekstrem dan rasa hampa yang mendalam.

Isolasi di Puncak Dunia

Aspek paling tragis dari kisah ini mungkin adalah kesepian. Biografi dan berbagai laporan media menggambarkan Musk sebagai sosok yang kerap tidur sendirian di rumah-rumah mewahnya yang kosong, atau memilih menginap di lantai pabrik demi pekerjaan—bukan karena romantisme kerja keras, melainkan karena tak ada tempat lain untuk pulang.

Hubungan asmaranya dengan penyanyi Grimes yang penuh pasang surut, serta keretakan hubungan dengan beberapa anaknya—termasuk putrinya yang memutuskan kontak sepenuhnya—menjadi beban emosional tersendiri. Uang triliunan rupiah mungkin mampu membiayai pesta termegah di dunia, namun tak bisa memaksa hadirnya cinta yang tulus atau keluarga yang harmonis.

Sebuah Peringatan Mahal

Kisah hidup Elon Musk bukan sekadar berita tentang selebritas atau miliarder eksentrik. Ini adalah studi kasus psikologis tentang batas kemampuan materi dalam memenuhi kebutuhan terdalam manusia.

Banyak orang berpikir, “Jika saya punya Rp1 miliar saja, semua masalah akan selesai.” Namun Elon Musk, dengan Rp14.000.000.000.000.000 di tangannya, justru membuktikan sebaliknya. Ia memiliki segalanya secara materi, namun di saat yang sama merasa kehilangan sesuatu yang paling mendasar: ketenangan batin.

Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat keras bahwa kebahagiaan bukan sekadar hasil akumulasi kekayaan, melainkan sesuatu yang jauh lebih rapuh, kompleks, dan tak bisa dibeli dengan harga berapa pun.

Israel Tuai Sorotan Internasional Usai Hentikan Kapal Bantuan untuk Gaza
INTERNASIONAL

Media90 – Ketegangan terkait konflik Gaza kembali memanas setelah militer Israel mencegat armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla di kawasan Laut Mediterania. Insiden tersebut terjadi saat kapal bantuan berada di perairan internasional sekitar 460 kilometer di barat Siprus. Ads close ads Aksi pencegatan itu langsung menjadi perhatian dunia internasional setelah rekaman siaran langsung tersebar luas di media sosial. Dalam video yang beredar, sejumlah relawan dan penumpang sipil tampak mengangkat tangan ketika pasukan komando Israel memasuki kapal bantuan tersebut. Langkah militer Israel menuai kecaman dari berbagai pihak karena operasi dilakukan di luar wilayah perairan negaranya. Sejumlah pihak menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar…

Darah Buatan Super Clot Diklaim Mampu Menghentikan Pendarahan dalam Hitungan Detik
INTERNASIONAL

Media90 – Dunia medis kembali mencatat kemajuan besar dengan hadirnya teknologi Engineered Blood Clots (EBCs), sebuah inovasi pembekuan darah buatan yang mampu menghentikan perdarahan hebat hanya dalam hitungan detik. Teknologi ini dikembangkan oleh tim peneliti lintas institusi dari Kanada dan Amerika Serikat melalui pendekatan revolusioner yang dikenal sebagai click clotting. Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi masa depan dalam penanganan darurat, terutama pada kasus kecelakaan, operasi besar, hingga pasien dengan gangguan pembekuan darah. Ads close ads Click Clotting: Cara Baru Membekukan Darah Berbeda dengan proses alami tubuh yang mengandalkan serat fibrin, teknologi EBCs justru memaksimalkan peran sel darah merah sebagai struktur…

Kabel Internet Global di Selat Hormuz Jadi Target, Iran Wacanakan ‘Toll Digital’ untuk Big Tech
INTERNASIONAL

Media90 – Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur vital energi dunia kini mulai dipandang dari perspektif baru oleh Iran: sebagai pusat infrastruktur digital global yang strategis. Media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Tasnim News Agency, mendorong pemerintah untuk mulai memonetisasi kabel serat optik bawah laut yang melintasi kawasan tersebut. Dalam laporan berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Tasnim menyoroti bahwa Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur kapal tanker minyak, tetapi juga koridor penting bagi arus data global yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Ads close ads…

Ilmuwan China Ciptakan Sel Bahan Bakar Batu Bara dengan Potensi Nol Emisi
INTERNASIONAL

Media90 – Tim ilmuwan dari Universitas Shenzhen, China, mengklaim telah berhasil mengembangkan teknologi sel bahan bakar batu bara yang berpotensi memangkas emisi karbon dioksida (CO2) hingga mendekati nol. Inovasi yang diberi nama zero-carbon-emission direct coal fuel cell (ZC-DCFC) ini dinilai mampu mengubah cara kerja pembangkit listrik berbasis batu bara secara fundamental. Berdasarkan laporan The Independent pada akhir April 2026, teknologi ini menawarkan pendekatan baru dalam menghasilkan energi dari bahan bakar fosil dengan dampak polusi yang jauh lebih rendah dibanding metode konvensional. Ads close ads Mekanisme Kerja Tanpa Pembakaran Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga uap yang mengandalkan pembakaran batu bara, sistem…

Kanker Usus pada Usia Muda Meningkat, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA
INTERNASIONAL

Media90 – Tren peningkatan kasus Kanker Kolorektal pada kelompok usia di bawah 50 tahun kini menjadi perhatian serius dunia kesehatan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine mengungkap temuan mengejutkan, yakni adanya dugaan keterkaitan antara paparan herbisida bernama Picloram dengan meningkatnya kasus kanker ini pada pasien usia muda. Temuan tersebut membuka perspektif baru dalam dunia Onkologi, yang selama ini lebih banyak mengaitkan kanker usus dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Meski masih bersifat awal, peneliti menemukan “sidik jari” DNA pada tumor pasien yang mengindikasikan adanya pengaruh paparan lingkungan terhadap mutasi genetik. Ads close ads Jejak DNA Ungkap Paparan…

Hebat! Menteri Luar Negeri Singapura Gunakan AI Buatan Internal untuk Kerja Negara
INTERNASIONAL

Media90 – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, dunia diplomasi internasional dibuat kagum oleh langkah tidak biasa dari Vivian Balakrishnan. Ia mengungkapkan bahwa dirinya secara mandiri melakukan coding untuk membangun sistem AI yang membantu menyelesaikan tugas-tugas diplomatik sehari-hari. Aksi ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa kemampuan memahami teknologi kini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan penting bagi pemimpin di era digital. Ads close ads AI Buatan Sendiri untuk Membantu Tugas Diplomasi AI yang dikembangkan oleh Vivian Balakrishnan dirancang untuk membantu menganalisis dokumen-dokumen diplomatik yang sangat kompleks dan panjang. Sistem ini mampu merangkum poin-poin penting secara otomatis sehingga proses pengambilan…

Tuai Kecaman, Indonesia Protes Israel atas Spanduk di Reruntuhan RS Indonesia Gaza
INTERNASIONAL

Media90 – Pemerintah Indonesia melontarkan kecaman tegas terhadap tindakan militer Israel yang memasang spanduk propaganda di atas reruntuhan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, Jalur Gaza. Melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada Rabu, 22 April 2026, Indonesia menilai aksi tersebut sebagai tindakan yang sangat provokatif dan tidak dapat diterima. Ads close ads Dinilai Provokatif dan Cederai Nilai Kemanusiaan Spanduk bertuliskan “Rising Lion” yang dipasang oleh pasukan Israel dinilai bukan sekadar simbol militer, tetapi juga bentuk propaganda yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Terlebih, spanduk tersebut ditempatkan di lokasi fasilitas kesehatan yang telah hancur. Kemlu RI menegaskan…