Media90 – Polemik seputar insentif otomotif tahun 2026 masih menjadi perbincangan hangat di industri otomotif nasional. Menanggapi hal ini, Jaecoo Indonesia menyiapkan strategi alternatif untuk menghadapi potensi ketidaklanjutan kebijakan tersebut.
Ketidakjelasan kelanjutan insentif dinilai berdampak langsung pada perencanaan produsen kendaraan listrik (EV), yang selama ini mengandalkan dukungan pemerintah untuk mempercepat adopsi mobil ramah lingkungan di Tanah Air. Bagi pelaku industri, insentif bukan sekadar stimulus penjualan, tetapi juga faktor penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang berkelanjutan.
Dengan harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi, insentif diharapkan dapat memberikan keuntungan langsung bagi konsumen sekaligus menjaga momentum pertumbuhan pasar EV.
“Kalau insentif, tentu bisa menjadi keuntungan bagi konsumen,” ujar Mohamad Ilham Pratama, Head of Marketing Jaecoo Indonesia, saat sesi diskusi Indonesia Automotive Outlook 2026 yang digelar Forum Wartawan Otomotif (Forwot) di Sentul, Bogor, Jumat (23/1/2026). Menurutnya, dukungan pemerintah juga mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik sekaligus membangun kepercayaan pasar terhadap teknologi elektrifikasi.
Meski demikian, Jaecoo menyadari keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah. Oleh karena itu, produsen perlu menyiapkan langkah antisipatif. Jaecoo mengaku telah menyiapkan sejumlah skenario agar produk kendaraan listriknya tetap kompetitif dan tidak membebani konsumen, termasuk model andalannya, Jaecoo J5 EV.
“Kami sudah mempersiapkan beberapa rencana agar produk EV tetap kompetitif dan tidak memberatkan konsumen,” jelas Ilham, meski belum merinci detail strategi yang akan dijalankan.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian sebelumnya mengusulkan agar insentif otomotif tetap dilanjutkan. Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa insentif telah diberikan selama dua tahun terakhir untuk mendorong pembangunan pabrik dan percepatan lokalisasi produksi kendaraan listrik. Dengan semakin banyaknya produsen melakukan perakitan lokal, pemerintah menilai harga EV kini sudah lebih kompetitif.
Dalam kondisi ekonomi yang masih dipengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah dan daya beli masyarakat, Jaecoo menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi terbaik bagi konsumen Indonesia. Ke depan, kombinasi strategi produk, penetapan harga, serta layanan purna jual akan menjadi kunci menjaga pertumbuhan pasar mobil listrik nasional, baik dengan maupun tanpa dukungan insentif otomotif.














