TEKNO

Bird of Prey Airbus: Drone Interceptor yang Bisa Lumpuhkan 8 Drone Musuh Sekaligus

26
×

Bird of Prey Airbus: Drone Interceptor yang Bisa Lumpuhkan 8 Drone Musuh Sekaligus

Sebarkan artikel ini
Canggih Drone Hunter Bird of Prey Airbus Bisa Hancurkan 8 Drone dalam Sekali Serangan

Media90 – Lanskap peperangan modern mencatat babak baru dalam teknologi pertahanan asimetris. Airbus Defence and Space resmi mengumumkan keberhasilan uji coba perdana drone interceptor bernama Bird of Prey. Demonstrasi dilakukan di area latihan militer Jerman Utara, menunjukkan kemampuan drone ini untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan drone kamikaze secara otonom tanpa kendali langsung manusia.

Keberhasilan ini menjadi langkah penting menghadapi ancaman One-Way Attack (OWA) atau drone serangan satu arah yang semakin masif dalam konflik global. Bird of Prey bukan sekadar pengawas udara, tetapi eksekutor yang mampu mengklasifikasikan target secara mandiri sebelum melancarkan serangan presisi.

Ads
close ads

Mekanisme Kerja: Deteksi Mandiri dan Rudal Mark I

Dalam simulasi misi realistis, Bird of Prey menampilkan kecerdasan buatan (AI) tingkat tinggi. Setelah mendeteksi drone kamikaze berukuran sedang, sistem langsung meluncurkan rudal udara-ke-udara Mark I, hasil kolaborasi Airbus dengan Frankenburg Technologies.

Baca Juga:  Kabar Terbaru: Apple dan Google Dalam Pembicaraan, AI Gemini Siap Sapa Pengguna iPhone!

Rudal Mark I dirancang untuk intersepsi jarak pendek dengan biaya rendah: panjang 65 cm, bobot <2 kg, dan jangkauan 1,5 km. Dengan hulu ledak fragmentasi, rudal tetap efektif meski tidak mengenai sasaran secara langsung.

CEO Frankenburg Technologies, Kusti Salm, menyatakan:
“Integrasi rudal murah ke drone ini memungkinkan pertahanan terhadap ancaman udara massal pada skala yang berbeda.”

Spesifikasi Teknis: Satu Drone, Delapan Target

Bird of Prey dikembangkan dari drone target Airbus Do-DT25 yang dimodifikasi ekstensif. Memiliki bentang sayap 2,5 meter dan bobot lepas landas maksimum 160 kg, drone ini lebih efisien dibanding sistem pertahanan udara konvensional.

Prototipe saat ini membawa empat rudal Mark I, tetapi versi operasional direncanakan mampu membawa delapan, memungkinkan satu drone menumpas delapan target dalam satu misi.

Baca Juga:  Optimalkan Pembaruan Driver Kartu Grafis Nvidia: Pilihan Mudah dengan GeForce Experience atau Langkah Manual

Salah satu inovasi utama adalah reusability. Tidak seperti drone kamikaze, Bird of Prey mendarat kembali dengan parasut di ekor, sehingga bisa digunakan berulang kali dan menghemat biaya operasional.

Integrasi ke Sistem Pertahanan NATO

CEO Airbus Defence and Space, Mike Schoellhorn, menekankan bahwa ancaman drone kini menjadi prioritas. Bird of Prey dirancang untuk terintegrasi ke Integrated Battle Management System (IBMS) milik Airbus, berfungsi sebagai lapisan tambahan dalam pertahanan udara NATO.

“Integrasi ini berfungsi sebagai pengganda kekuatan. Bird of Prey dapat menerima data dari jaringan radar yang luas untuk intersepsi lebih efisien,” ujar Schoellhorn.

Rencana Pengujian Sepanjang 2026

Dalam waktu sembilan bulan, proyek ini bergerak cepat dari tahap awal hingga uji terbang. Airbus dan Frankenburg Technologies berencana melanjutkan pengujian sepanjang 2026, termasuk penggunaan hulu ledak aktif (live warheads) untuk menyempurnakan kemampuan operasional sebelum produksi massal.

Baca Juga:  Ini Dia Xiaomi Pad 6 Terbaru! Harga Xiaomi Pad 5 Turun Drastis! Lihat Informasinya Sekarang!

Langkah ini diharapkan menarik perhatian militer internasional yang mencari solusi efektif untuk menghadapi ancaman drone massal, menegaskan posisi Airbus sebagai pelopor pertahanan udara canggih berbasis AI.

Tinggalkan Balasan