Media90.id – China mulai menerapkan aturan baru untuk mengatur perkembangan robot humanoid yang semakin pesat. Dalam kebijakan terbaru tersebut, setiap robot humanoid yang beroperasi di negara itu diwajibkan memiliki identitas digital resmi yang fungsinya mirip dengan kartu tanda penduduk (KTP) pada manusia.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah China dalam mengantisipasi semakin luasnya penggunaan robot humanoid di berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur, pusat perbelanjaan, layanan publik, hingga kebutuhan rumah tangga.
Setiap Robot Memiliki Identitas Digital Unik
Sistem identitas digital tersebut dikembangkan oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) bersama Hubei Humanoid Robot Innovation Center.
Melalui sistem ini, setiap robot humanoid akan memperoleh kode identitas unik sepanjang 29 karakter. Kode tersebut memuat berbagai informasi penting, seperti negara asal, produsen, model robot, hingga nomor seri yang tidak dapat diduplikasi.
Saat ini, sistem identitas digital tersebut telah mencakup lebih dari 100 perusahaan robotika dan sekitar 200 model robot yang beroperasi di China.
Dengan adanya identitas resmi ini, setiap robot dapat dikenali dan dilacak secara lebih mudah oleh produsen maupun regulator.
Bukan Sekadar KTP, Tapi Juga Sistem Pemantauan
Berbeda dengan identitas manusia, sistem identitas digital robot di China juga berfungsi sebagai alat pemantauan secara real-time.
Data yang tercatat tidak hanya sebatas identitas perangkat, tetapi juga meliputi kondisi komponen mekanis, status baterai, kemampuan kecerdasan buatan (AI), hingga riwayat penggunaan dan perawatan robot.
Melalui sistem tersebut, apabila terjadi kerusakan, kesalahan operasional, atau insiden tertentu, pihak produsen maupun regulator dapat melakukan penelusuran dengan lebih cepat dan akurat.
Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan standar keselamatan dalam penggunaan robot humanoid yang semakin kompleks.
Mendukung Ambisi Besar China di Bidang Robotika
Kebijakan ini muncul seiring ambisi China untuk mempercepat pengembangan dan adopsi robot humanoid berbasis embodied AI, yaitu kecerdasan buatan yang memiliki wujud fisik dan mampu berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Pemerintah China memandang robot humanoid sebagai salah satu solusi untuk menghadapi berkurangnya jumlah tenaga kerja produktif serta meningkatnya kebutuhan industri di masa depan.
Sejumlah perusahaan teknologi juga mulai mengembangkan robot untuk membantu aktivitas sehari-hari. Salah satu contohnya adalah robot asisten rumah tangga SeeLight S1 yang dikembangkan oleh GigaAI dengan dukungan investasi dari Huawei.
Saat ini robot tersebut masih menjalani tahap uji coba di rumah para karyawan sebelum dipasarkan secara lebih luas. Harga yang ditawarkan diperkirakan mencapai 15.000 dolar AS atau sekitar Rp268 juta.
Manfaat Besar, Tapi Munculkan Kekhawatiran
Di satu sisi, sistem identitas digital ini dinilai mampu meningkatkan keamanan, transparansi, dan pengawasan terhadap penggunaan robot humanoid.
Keberadaan data yang terpusat juga memudahkan proses audit, pemeliharaan, hingga penanganan jika terjadi masalah teknis atau pelanggaran aturan.
Namun di sisi lain, kebijakan ini juga memunculkan sejumlah kekhawatiran terkait privasi pengguna.
Pasalnya, robot humanoid modern umumnya dilengkapi berbagai perangkat seperti kamera, mikrofon, serta sensor canggih yang dapat merekam kondisi lingkungan di sekitarnya, termasuk area rumah dan aktivitas pengguna.
Jika seluruh data tersebut tersimpan dan terhubung dengan sistem identitas digital, sebagian pihak khawatir akan muncul potensi pengumpulan informasi dalam jumlah besar dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
Langkah Awal Regulasi Robot Masa Depan
Meski menuai pro dan kontra, pemerintah China menegaskan bahwa penerapan identitas digital bertujuan memastikan robot humanoid tetap aman, terkendali, dan memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
Kebijakan ini juga dianggap sebagai salah satu langkah awal dalam membangun regulasi khusus bagi robot humanoid, seiring teknologi tersebut mulai memasuki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Dengan perkembangan AI dan robotika yang semakin cepat, China tampaknya ingin memastikan bahwa setiap robot yang beroperasi di wilayahnya dapat diawasi, dilacak, dan diatur melalui kerangka hukum yang lebih jelas di masa depan.














