Media90 – Raksasa teknologi Google memperkenalkan sistem kecerdasan buatan (AI) terbaru bernama Groundsource yang mampu memprediksi banjir bandang hingga 24 jam sebelum kejadian. Teknologi ini dikembangkan menggunakan model Gemini dan diklaim dapat memetakan potensi banjir di lebih dari 150 negara.
Tantangan Besar Prediksi Banjir Bandang
Banjir bandang menjadi salah satu bencana paling mematikan di dunia, dengan korban jiwa mencapai lebih dari 5.000 orang setiap tahun. Namun, jenis bencana ini juga termasuk yang paling sulit diprediksi.
Berbeda dengan banjir sungai yang dapat dipantau melalui sensor ketinggian air, banjir bandang di wilayah perkotaan sering terjadi secara tiba-tiba akibat hujan deras yang meluap ke jalan dan sistem drainase. Salah satu kendala utamanya adalah minimnya data historis yang mencatat kejadian banjir secara detail.
Manfaatkan Jutaan Laporan Berita
Untuk mengatasi kekurangan data, Google menggunakan pendekatan unik dengan menjadikan laporan berita sebagai sumber informasi. Model Gemini digunakan untuk menelusuri sekitar lima juta artikel berita global sejak tahun 2000.
Dari proses tersebut, AI mengekstrak informasi penting seperti lokasi dan waktu kejadian banjir, lalu mengubahnya menjadi data terstruktur. Setelah melalui proses penyaringan dan penghapusan duplikasi, terbentuk dataset global berisi sekitar 2,6 juta catatan kejadian banjir di lebih dari 150 negara.
Teknologi LSTM untuk Analisis Prediktif
Dataset tersebut kemudian digunakan untuk melatih model AI berbasis Long Short-Term Memory (LSTM), yaitu jaringan saraf yang dirancang untuk menganalisis data berurutan dari waktu ke waktu.
Dalam proses analisisnya, sistem menggabungkan berbagai parameter penting seperti:
- Prakiraan cuaca per jam
- Tingkat urbanisasi
- Daya serap tanah
- Kondisi topografi wilayah
Berdasarkan kombinasi data tersebut, Groundsource mampu memberikan sinyal risiko banjir bandang hingga 24 jam sebelumnya, khususnya di wilayah perkotaan padat.
Terintegrasi dengan Flood Hub dan SOS Alerts
Hasil prediksi dari Groundsource dapat diakses melalui platform Flood Hub. Layanan ini sebelumnya telah digunakan untuk memberikan peringatan banjir sungai kepada sekitar dua miliar orang di seluruh dunia.
Pada peta Flood Hub, pengguna dapat melihat indikator risiko banjir:
- Warna merah: sangat berpotensi banjir
- Warna oranye: berpotensi banjir
Sistem ini juga terhubung dengan fitur SOS Alerts di Google Search dan Maps, yang menyediakan informasi darurat seperti peta area terdampak, nomor penting, hingga berita terkini saat terjadi bencana.
Keterbatasan dan Hasil Uji Coba
Meski inovatif, Groundsource masih memiliki keterbatasan. Cakupan prediksinya hanya sekitar 20 kilometer persegi, serta belum mampu memperkirakan tingkat keparahan banjir. Akurasi sistem juga bisa menurun di wilayah dengan minim liputan berita.
Selain itu, teknologi ini belum setara dengan sistem peringatan banjir milik otoritas cuaca di Amerika Serikat yang memanfaatkan data radar real-time.
Namun, dalam uji coba lapangan, sistem ini telah membantu otoritas penanggulangan bencana di Afrika bagian selatan untuk menerima peringatan lebih awal dan merespons kejadian dengan cepat.
Harapan untuk Mitigasi Bencana
Dengan memanfaatkan data publik dalam skala besar, Google berharap Groundsource dapat menjadi solusi untuk mengisi kekosongan data dalam prediksi bencana.
Teknologi ini diharapkan mampu membantu pemerintah dan masyarakat dalam mengambil langkah antisipasi lebih cepat, sehingga dampak banjir bandang dapat diminimalkan di masa depan.














