Media90 – Indonesia sedang mempercepat perjalanannya menuju bintang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menegaskan ambisi besarnya untuk mencapai kemandirian teknologi antariksa. Tujuan akhirnya jelas: Indonesia ingin dapat mengembangkan, mengoperasikan, dan meluncurkan roket serta satelitnya sendiri langsung dari tanah air, tanpa bergantung pada fasilitas negara lain.
Langkah ini bukan sekadar ajang prestise, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kedaulatan nasional, baik di bidang teknologi, keamanan, hingga ekonomi digital.
Bandar Antariksa Biak: Kunci Strategis Menuju Orbit
Salah satu elemen paling krusial dalam program antariksa Indonesia adalah pembangunan Bandar Antariksa Biak di Papua. Letaknya yang berada dekat garis khatulistiwa menjadikan Biak sebagai salah satu lokasi peluncuran terbaik di dunia. Posisi ini memberikan “boost” tambahan dari rotasi bumi, sehingga roket dapat mencapai orbit dengan efisiensi bahan bakar yang lebih baik.
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa optimalisasi fasilitas Biak adalah prioritas nasional karena menyangkut kepentingan strategis.
Menurut Arif, kemandirian antariksa tidak hanya soal prestise, tetapi juga tentang kemampuan mengelola sistem satelit untuk komunikasi, meteorologi, navigasi hingga keamanan nasional.
Rencana Besar Menuju 2040
Arah pengembangan ini tertuang dalam Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017–2040, sebuah peta jalan resmi yang menjadi panduan pengembangan teknologi antariksa Indonesia.
Namun, mengingat perkembangan global yang sangat cepat, peta ini bersifat dinamis.
Rika Andiarti, Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, menjelaskan bahwa:
“Renduk dievaluasi setiap lima tahun. Dalam konteks saat ini, sejumlah target dan strategi perlu didefinisikan ulang agar lebih adaptif dan realistis.”
Dengan evaluasi berkala ini, program antariksa Indonesia tetap relevan di tengah perubahan geopolitik dan terobosan teknologi dunia.
Tata Kelola dan Integrasi: Mesin Utama di Balik Roket
Membangun program antariksa bukan hanya soal roket dan landasan, tetapi juga fondasi hukum dan tata kelola.
Arif Satria menegaskan bahwa integrasi antarlembaga adalah “bensin” yang menggerakkan misi ini. Ia mengingatkan risiko tumpang tindih kewenangan yang dapat memperlambat proyek.
“Kita tidak boleh terjebak pada tumpang tindih kewenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang terintegrasi,” tegasnya.
Saat ini, BRIN sedang berkoordinasi dengan Kementerian PAN-RB untuk memperkuat efisiensi birokrasi dan memastikan keberlanjutan jangka panjang program antariksa nasional.
Investasi Sumber Daya Manusia: Tantangan Utama di Balik Teknologi
Tak ada negara yang berhasil di antariksa tanpa ilmuwan yang kuat. Untuk bersaing dengan kekuatan dunia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan India, Indonesia harus melakukan investasi besar pada peneliti dan ekosistem risetnya.
Dalam kunjungannya ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto di Bogor, Arif mendorong ilmuwan Indonesia agar lebih agresif dalam riset dan aktif mengejar hibah internasional.
Menurut Arif:
“Tidak ada negara yang berjaya di antariksa dengan kerja setengah-setengah. Kesuksesan adalah fungsi dari pemanfaatan waktu.”
BRIN kini memperkuat skema pendanaan dan insentif penelitian untuk mendorong lebih banyak publikasi ilmiah dan inovasi strategis.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meski ambisi besar sudah dicanangkan, jalan menuju 2040 bukan tanpa hambatan. Persaingan geopolitik, percepatan teknologi, dan dinamika industri global menuntut Indonesia bergerak cepat tapi hati-hati.
Peluncuran Satelit A4 yang akan datang dianggap sebagai pembuktian kemampuan teknis Indonesia saat ini.
Dengan fokus pada Biak sebagai hub nasional sekaligus platform kerja sama internasional, Indonesia berharap dapat memantapkan posisinya dalam komunitas antariksa global.
Tujuannya sederhana: program antariksa Indonesia tidak hanya menjadi rencana di atas kertas, tetapi langkah konkret yang memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia.
Batu Loncatan Menuju Kemandirian Antariksa Indonesia
Empat fondasi besar telah ditetapkan:
-
Infrastruktur: Pengembangan Bandar Antariksa Biak sebagai situs peluncuran nasional.
-
Teknologi: Persiapan peluncuran Satelit A4 dan pengembangan mesin roket domestik.
-
Tata Kelola: Penyusunan sistem yang terintegrasi untuk mencegah tumpang tindih kewenangan.
-
SDM & Riset: Peningkatan kualitas riset melalui kolaborasi internasional dan pendanaan yang lebih baik.
Kesimpulan: Menuju Era Antariksa Indonesia
Jika rencana ini berjalan konsisten, Indonesia dapat menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang mampu meluncurkan roket dari wilayahnya sendiri.
Ini bukan hanya tentang menggapai orbit, tetapi tentang kedaulatan, teknologi, dan masa depan nasional.
Perjalanan menuju 2040 mungkin panjang dan penuh tantangan, namun langkah strategis BRIN menunjukkan bahwa Indonesia tidak ingin hanya menjadi penonton di era luar angkasa—melainkan pemain utama.














