TEKNO

James Webb Temukan Planet ‘Harta Karun’ Berbentuk Lemon di Jantung Pulsar Ekstrem

4
×

James Webb Temukan Planet ‘Harta Karun’ Berbentuk Lemon di Jantung Pulsar Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Heboh! James Webb Temukan Planet ‘Bentuk Lemon’ di Sekitar Pulsar Ekstrem
Heboh! James Webb Temukan Planet ‘Bentuk Lemon’ di Sekitar Pulsar Ekstrem

Media90 – Memasuki awal tahun 2026, dunia astronomi kembali digemparkan oleh penemuan luar biasa dari kedalaman antariksa. Para peneliti NASA, memanfaatkan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), berhasil mengidentifikasi sebuah eksoplanet unik yang menentang teori pembentukan planet tradisional.

Eksoplanet ini, yang diberi nama PSR J2322-2650b, bukan sekadar bola gas biasa. Ia memiliki atmosfer kaya karbon dan bentuk fisik yang ekstrem akibat pengaruh gravitasi bintang induknya yang masif. Penemuan ini menjadi tonggak penting karena atmosfer planet ini tidak mengandung air, metana, atau karbon dioksida, melainkan didominasi oleh karbon molekuler—membuka spekulasi mengenai cadangan “harta karun” berupa kristal berlian di kedalaman atmosfernya.

Bentuk Lemon Akibat Tarikan Gravitasi Pulsar

PSR J2322-2650b mengorbit sebuah pulsar—bintang neutron yang berputar sangat cepat dengan massa sebanding Matahari, namun berdiameter sebesar kota. Jarak planet dengan pulsar sangat dekat, hanya sekitar 1 juta mil (1,6 juta km), dibandingkan Bumi–Matahari yang 93 juta mil.

Baca Juga:  Malaysia Terapkan Batasan Usia di Medsos, Remaja di Bawah 16 Tahun Tak Bisa Akses Platform Digital

Tarikan gravitasi ekstrem ini membuat planet tidak lagi berbentuk bulat, melainkan memanjang menyerupai buah lemon. Orbitnya super cepat, menyelesaikan satu putaran hanya dalam 7,8 jam, menciptakan lingkungan yang sangat dinamis dan panas, memengaruhi atmosfer dan struktur fisik planet.

Atmosfer Kaya Karbon dan Potensi Hujan Berlian

Yang paling menarik bagi ilmuwan adalah komposisi atmosfernya. Michael Zhang, astrofisikawan dari Universitas Chicago, mengungkapkan bahwa atmosfer planet mengandung karbon molekuler (C2 dan C3) dan helium dalam jumlah besar.

Tekanan dan suhu tinggi di lapisan dalam planet diyakini dapat mengkristal karbon menjadi berlian, menciptakan fenomena “hujan berlian” yang jauh lebih pekat dibanding planet manapun sebelumnya. Inilah alasan media menyebut PSR J2322-2650b sebagai “planet harta karun”.

Baca Juga:  Update Terbaru dari Apple: iOS 17.2.1 Hadir dengan Solusi Bug Misterius, Fitur Jurnal, dan Peningkatan Terjemahan

Misteri Asal-Usul: Planet atau Sisa Bintang?

Penemuan ini memicu perdebatan mengenai klasifikasi benda langit ini. Diduga PSR J2322-2650b merupakan bagian dari sistem langka “Black Widow”, di mana pulsar perlahan mengikis massa bintang pendampingnya. Planet ini kemungkinan adalah inti sisa bintang katai putih yang kehilangan lapisan luarnya.

Meskipun demikian, International Astronomical Union (IAU) tetap mengklasifikasikannya sebagai eksoplanet, karena massanya masih berada dalam rentang planet gas raksasa. Kondisi ini menantang semua mekanisme pembentukan planet yang dikenal, memaksa ilmuwan menulis ulang teori tentang evolusi sistem planet di lingkungan ekstrem.

Peran Krusial James Webb

Keberhasilan pengamatan ini bergantung pada instrumen inframerah JWST, yang mampu menembus radiasi kuat pulsar. Maya Beleznay dari Universitas Stanford menjelaskan bahwa panjang gelombang inframerah memungkinkan ilmuwan melihat spektrum atmosfer planet secara bersih, tanpa terganggu cahaya bintang induk.

Baca Juga:  5 Laptop Gaming Multitasking Terbaik: Menjadi Pemakan Game Triple-A Tanpa Ngelag!

Data spektrum menunjukkan awan tebal partikel karbon padat, memperkuat teori PSR J2322-2650b sebagai laboratorium alami pembentukan material berbasis karbon di skala kosmik.

Implikasi bagi Eksplorasi Luar Angkasa

Penemuan PSR J2322-2650b menambah daftar eksoplanet unik dan memberi wawasan tentang nasib akhir sistem bintang. Studi ini diterima untuk publikasi di The Astrophysical Journal Letters dan membuktikan bahwa alam semesta menyimpan keberagaman ekstrem.

Meskipun “harta karun” berlian ini tidak dapat ditambang karena lokasi jauh dan lingkungan pulsarnya yang mematikan, penemuan ini memberi inspirasi bagi teknologi deteksi material di planet lain. Fokus masa depan adalah menemukan planet serupa yang dapat memperkaya pemahaman kita tentang kimia kosmik dan potensi sumber daya di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *