TEKNO

Lawan Kanker dengan AI: Peneliti Korea Selatan Kembangkan Vaksin Kustom

3
×

Lawan Kanker dengan AI: Peneliti Korea Selatan Kembangkan Vaksin Kustom

Sebarkan artikel ini
AI vs Kanker: Peneliti Korea Selatan Kembangkan Vaksin Kustom
AI vs Kanker: Peneliti Korea Selatan Kembangkan Vaksin Kustom

Media90 – Penemuan medis inovatif dari Korea Selatan membuka harapan baru dalam melawan kanker. Para peneliti dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) telah mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) canggih yang dirancang untuk menciptakan vaksin kanker yang dipersonalisasi. Berbeda dengan pengobatan tradisional, teknologi ini tidak hanya menyerang tumor, tetapi juga “mengajarkan” sistem imun tubuh untuk mengenali dan mengingat sel kanker, sehingga mencegah kembalinya penyakit.

Mengubah Sel Kanker: Dari Ganas ke Normal

Salah satu pencapaian paling menakjubkan dari penelitian ini, yang dipimpin oleh Profesor Kwang-hyun Cho, adalah kemampuannya untuk mengubah sel kanker kembali menjadi sel normal. Biasanya, terapi kanker konvensional berfokus pada menghancurkan sel ganas melalui kemoterapi atau radiasi, yang sering merusak jaringan sehat di sekitarnya.

Tim KAIST menemukan bahwa selama perkembangan kanker usus, sel kanker dapat di-“reset” melalui proses sistematis. Dengan memanfaatkan teknologi digital twin—model komputer virtual dari jaringan genetik—para peneliti memetakan jalur kompleks yang dilalui sel. Mereka menyadari bahwa dengan memicu ekspresi gen tertentu yang sebelumnya bermutasi atau dinonaktifkan, sel kanker dapat dikembalikan ke kondisi sehat.

Baca Juga:  China Mempersiapkan Terobosan Baru: Regulasi dan Panduan Hukum untuk Layanan AI

Pendekatan ini berpotensi merevolusi pengobatan kanker, menawarkan alternatif yang lebih aman dibandingkan terapi konvensional. Alih-alih menghancurkan sel, metode ini menjaga sel tetap hidup sekaligus mengurangi efek samping menyakitkan dan risiko resistensi obat.

Kekuatan B-Cells: Menyerang dan Mengingat

Sementara vaksin kanker tradisional berfokus pada T-cells—pasukan yang menyerang sel kanker—tim Profesor Choi Jung-kyoon menemukan komponen penting yang sering diabaikan: B-cells.

T-cells efektif dalam menyerang langsung, tetapi sering kesulitan membangun memori jangka panjang, sehingga kanker dapat kembali dalam beberapa bulan atau tahun. Sebaliknya, B-cells memproduksi antibodi dan berfungsi sebagai “badan intelijen” tubuh. Mereka membuat “poster buronan” bagi sel kanker, memungkinkan sistem imun menyimpan informasi tumor dalam jangka panjang.

Baca Juga:  Meningkatkan Pengalaman Online dengan Fitur AI Terbaru di Chrome

Model AI terbaru ini menjadi penemuan pertama di dunia yang mampu memprediksi neoantigen—pecahan protein unik dari tumor pasien—yang akan memicu respon B-cells. Dengan demikian, vaksin ini menciptakan pertahanan ganda: tubuh menyerang kanker sekaligus belajar mengenali dan mengatasi tumor jika muncul kembali.

Pengobatan yang Didukung AI

Platform AI ini menganalisis interaksi antara peptida mutan dan reseptor B-cell (BCRs). Dengan mempelajari pola kompleks ini, AI dapat menentukan target paling efektif untuk setiap pasien secara presisi. Pendekatan personalisasi ini memastikan vaksin disesuaikan dengan pola genetik unik tumor masing-masing pasien, bukan pendekatan “satu obat untuk semua”.

Teknologi ini telah diintegrasikan ke dalam mesin pencari DeepNeo, yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Neogenlogic. Sistem ini telah divalidasi menggunakan dataset genomik besar dan uji klinis, membuktikan ketepatan ilmiahnya. Dengan mengukur hubungan mutasi kanker pasien dengan reseptor imun, AI menghilangkan unsur tebak-tebakan dalam desain vaksin.

Baca Juga:  GenAI Adobe: Mengubah Permintaan Teks Menjadi Melodi Musikal

Jalur Menuju Uji Klinis Global pada 2027

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Science Advances ini kini mulai bergerak dari laboratorium ke klinik. Profesor Choi dan timnya sedang dalam fase praklinik, bekerja sama dengan Neogenlogic untuk mengubah terobosan akademis ini menjadi platform klinis yang memenuhi standar internasional.

Saat ini, tim sedang menyiapkan pengajuan Investigational New Drugs (IND) ke FDA Amerika Serikat, dengan target memulai uji klinis manusia pada 2027. Jika berhasil, vaksin berbasis AI ini akan mengubah kanker dari penyakit yang ditakuti dan berulang menjadi kondisi yang dapat dikelola tubuh secara alami. Metode ini berpotensi menyelamatkan jutaan nyawa melalui imunisasi yang dipersonalisasi dan efektif secara permanen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *