TEKNO

NEUSLeeP, Wearable Patch yang Diklaim Bikin Tidur Pulas Lebih Cepat

Novita Nurjanah
0
×

NEUSLeeP, Wearable Patch yang Diklaim Bikin Tidur Pulas Lebih Cepat

Sebarkan artikel ini
Susah Tidur? Wearable Patch NEUSLeep Diklaim Bisa Bantu Tidur Lebih Cepat
Susah Tidur? Wearable Patch NEUSLeep Diklaim Bisa Bantu Tidur Lebih Cepat

Media90.id – Peneliti dari University of Texas at Austin mengembangkan sebuah wearable patch bernama NEUSLeeP yang dirancang untuk membantu seseorang lebih cepat memasuki fase tidur REM atau Rapid Eye Movement.

Teknologi ini menarik karena bekerja tanpa menggunakan obat maupun tindakan operasi. Bagi orang yang mengalami kesulitan tidur, NEUSLeeP berpotensi menjadi salah satu pendekatan baru untuk membantu meningkatkan kualitas tidur.

Ads
close ads

Lantas, bagaimana cara kerja wearable patch tersebut?

Cara Kerja Wearable NEUSLeeP

REM atau Rapid Eye Movement merupakan salah satu fase tidur ketika aktivitas otak meningkat, mata bergerak dengan cepat, dan mimpi biasanya menjadi lebih jelas.

Fase REM yang berlangsung cukup lama juga berperan dalam berbagai proses penting, termasuk pemrosesan emosi dan respons tubuh terhadap stres.

NEUSLeeP bekerja dengan menggabungkan stimulasi ultrasound berintensitas rendah dengan elektroda yang berfungsi membaca aktivitas otak.

Ultrasound digunakan untuk memberikan stimulasi pada area otak yang berkaitan dengan fase REM. Sementara itu, elektroda memantau respons aktivitas otak secara real time dari luar tengkorak.

Dalam penelitian yang melibatkan 28 peserta, hasil awal yang diperoleh cukup menarik. Peserta yang menggunakan NEUSLeeP rata-rata memasuki fase REM sekitar 43 menit lebih cepat dibandingkan kondisi biasanya.

Tidak hanya lebih cepat memasuki fase REM, peserta juga tercatat menghabiskan waktu sekitar 16 menit lebih lama dalam fase tersebut.

Dengan kata lain, teknologi ini dalam studi awal tersebut menunjukkan potensi untuk membantu pengguna memasuki fase REM lebih cepat sekaligus mempertahankannya lebih lama.

Berpotensi Membantu Penelitian Kesehatan Mental

Fase REM juga memiliki kaitan dengan kondisi psikologis. Gangguan pada pola tidur REM kerap dikaitkan dengan berbagai kondisi, termasuk depresi, kecemasan, dan PTSD.

Karena itu, tim peneliti berencana melakukan penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar untuk mengetahui apakah NEUSLeeP juga dapat memberikan manfaat bagi orang dengan kondisi tersebut, termasuk mereka yang mengalami insomnia kronis.

Peneliti juga menemukan adanya peningkatan heart rate variability (HRV) pada peserta. HRV berkaitan dengan kemampuan tubuh dalam merespons dan beradaptasi terhadap stres.

Pemindaian otak turut menunjukkan adanya perubahan pada sirkuit yang berhubungan dengan pemrosesan emosi. Temuan tersebut membuka peluang bagi NEUSLeeP untuk digunakan dalam penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara tidur dan kondisi psikologis.

Masih dalam Tahap Uji Coba

Meski hasil awalnya cukup menjanjikan, NEUSLeeP masih berada dalam tahap penelitian dan belum bisa dianggap sebagai solusi medis yang terbukti untuk gangguan tidur.

Penelitian sejauh ini juga melibatkan jumlah peserta yang masih terbatas. Para peserta dilaporkan merasa perangkat tersebut nyaman digunakan dan hanya mengalami sedikit efek samping.

Namun, keamanan penggunaan dalam jangka panjang masih perlu diteliti lebih lanjut. Uji dengan jumlah peserta yang lebih besar diperlukan untuk memastikan efektivitas sekaligus mengetahui potensi risiko yang mungkin muncul.

Tim peneliti telah mengajukan paten dan mulai mengembangkan NEUSLeeP menuju tahap komersialisasi. Jika pengembangan dan pengujian berikutnya memberikan hasil positif, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu pendekatan baru dalam membantu penelitian maupun penanganan masalah tidur di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *